Sabtu, Maret 12, 2022

Al-Mawaidzul Ushfuriyah - Hadits 2, Tentang Mengharap Rahmat Allah

Al-Mawaidzul Ushfuriyah - Hadits 2, Tentang Mengharap Rahmat Allah

 

Dari Sahabat Ibnu Mas'ud ra berkata, Rasulullah SAW bersabda : Orang durhaka yang mengharap rahmat Allah Yang Maha Luhur lebih dekat dengan Allah Yang Maha Luhur daripada orang yang ahli ibadah yang putus asa (dari rahmat-Nya)".

 

عن ابن مسعود رضي الله تعالى عنه قال قال رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم الْفَاجِرُ الرّاجِى رَحْمَةَ اللّٰهِ تَعَالٰى اَقْرَبُ اِلَى اللّٰهِ تَعَالٰى مِنَ الْعَابِدِ الْمُقْنِطِ

 

Hamba Yang Memutus Rohmatnya Alloh

Sahabat Ibnu Mas'ud berkata, telah mengabari kami dari Sahabat Zaid bin Aslam, dari Sahabat Umar, sesungguhnya ada seorang di dalam umat-umat terdahulu yang giat dalam beribadah dan memberatkan dirinya (dalam beribadah) dan dia membuat putus asa manusia dari rahmat Allah Yang Maha Luhur, kemudian dia meninggal dunia.

 

 

قال أخبرنا عن زيد بن أسلم عن عمر أن رجلا كان فى الأمم الماضية يجتهد فى العبادة ويشدد على نفسه ويقنط الناس من رحمة الله تعالى ثم مات

Lalu dia bertanya, "Wahai Tuhanku, balasan apa bagiku di sisi-Mu ?".

 

 

فقال يا رب ما لى عندك

Allah SWT menjawab, "Neraka".

 

 

فقال النار

Dia bertanya, "Wahai Tuhanku, lalu di mana ibadah dan upaya giatku ?".

 

 

قال يا رب فأين عبادتى واجتهادى

Allah SWT menjawab, "Sesungguhnya kamu telah membuat putus asa manusia dari rahmat-Ku di dunia, maka pada hari ini Aku memutuskanmu dari rahmat-Ku".

 

 

فقال إنك كنت تقنط الناس من رحمتى فى الدنيا فأنا أقنطك اليوم من رحمتى

Seorang Pendosa yang  Selamat Berkat Tauhidnya.

 

Diriwayatkan dari Sahabat Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW, sesungguhnya ada seseorang yang tidak melakukan amal kebaikan apapun kecuali tauhid.

 

Ketika kematian mendatanginya, ia berkata kepada keluarganya, "Tatkala aku mati, maka bakarlah aku dengan api sehingga kalian meninggalkanku dalam keadaan menjadi abu, kemudian taburkanlah aku di laut pada hari angin (saat angin bertiup)".

 

Keluarganya pun melakukan apa yang ia wasiatkan. Tiba-tiba ia berada dalam kuasa Allah.

 

 

روي عن أبى هريرة رضي الله تعالى عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أن رجلا لم يعمل خيرا قط إلا التوحيد فلما حضره الموت قال لأهله إذا أنا مت فاحرقونى بالنار حتى تدعونى رمادا ثم ذرونى فى البحر يوم الريح ففعلوا فإذا هو فى قبضة الله تعالى

(Lalu tatkala ia berada di genggaman Allah Yang Maha Luhur)

 

Allah bertanya, "Apa yang mendorongmu pada apa yang telah kamu lakukan ?".

 

قال الله ما حملك على ما فعلت

Ia menjawab, "Takut kepada-Mu".

 

 

قال مخافتك

Lalu Allah mengampuninya sebab rasa takut itu, sedangkan ia tidak melakukan amal kebaikan apapun kecuali tauhid.

 

 

فغفر له بِهَا وهو لم يعمل خيرا قط إلا التوحيد

 

Jenazah yang terasingkan

Berdasarkab hadits ini, ada sebuah hikayat. Sesungguhnya ada seseorang yang meninggal dunia pada masa Nabi Musa as, orang-orang tak mau memandikannya dan mengafaninya karena kefasikannya, lalu mereka menyeret kakinya dan membuangnya ke tempat sampah (tempat pembuangan sampah-sampah di masyarakat).

 

 

وعلى هذا حكاية أن رجلا مات على عهد موسى عليه السلام فكره الناس غسله ودفنه لفسقه فأخذوه برجله وطرحوه فى المزبلة

Lalu Allah Yang Maha Luhur memberikan wahyu kepada Nabi Musa as dan berkata.

 

"Wahai Nabi Musa, ada seseorang yang telah meninggal dunia di tempat fulan di dalam tempat sampah.

 

Dia adalah wali (kakasih) dari para wali-Ku, sedangkan mereka tidak mau memandikan, mengkafani, dan memendamnya.

 

Maka kamu pergilah, mandikan, kafani, shalatilah dan kuburkanlah dia".

 

 فأوحى الله  تعالى إلى موسى عليه السلام وقال يا موسى مات رجل فى محلة فلان فى المزبلة وهو  ولي من أوليائى ولم يغتسلوه ولم يكفنوه ولم يدفنوه

فاذهب أنت فاغسله وكفنه وصل عليه وادفنه

Nabi Musa as pun datang ke tempat itu dan bertanya kepada mereka (penduduk kampung) tentang si mayit.

 

Mereka pun menjawab kepada beliau, "Seseorang telah mati dengan sifat demikian dan demikian dan sesungguhnya dia adalah orang fasik yang dilaknati".

 

 

فجاء موسى عليه السلام إلى تلك المحلة وسألهم عن الميت.

 

فقالوا له مات رجل فى صفة كذا وكذا وأنه كان فاسقا معلنا

Nabi Musa pun bertanya, "Di manakah tempatnya ? sesungguhnya Allah Yang Maha Luhur telah memberi wahyu kepadaku karena dia".

 

Nabi Musa berkata (lagi), "Beritahu aku tempatnya". Lalu mereka pun pergi (ke tempat si mayit).

 

 

فقال أين مكانه فإن الله تعالى أوحى إلي لأجله قال فأعلمونى مكانه فذهبوا

Ketika Nabi Musa melihatnya dalam keadaan terbuang di tempat sampah dan orang-orang mengabari beliau tentang perbuatan-perbuatan buruknya, maka beliau pun bermunajah kepada Tuhannya sembari berkata.

 

 "Wahai Tuhanku, Engkau telah memerintahkanku untuk memendam dan menyolatinya, sedangkan kaumnya memberi kesaksian buruk terhadapnya.

 

Maka Engkau lebih mengetahui daripada mereka dengan pujaan dan celaan",

 

 

فلما رآه موسى عليه السلام مطروحا فى المزبلة وأخبره الناس على سوء أفعاله ناجى موسى ربه

 

فقال إلهى أمرتنى بدفنه والصلاة عليه وقومه يشهدون عليه شرا أنت أعلم منهم بالثناء والتقبيح

Lalu Allah Yang Maha Luhur memberikan wahyu kepada Nabi Musa, "Wahai Nabi Musa, telah benar kaumnya di dalam apa yang mereka kisahkan tentangnya dari perbuatan-perbuatan buruknya.

 

Hanya saja dia memohon pertolongan kepada-Ku saat wafatnya dengan 3 perkara.

 

Jikalau semua prang-orang yang berdosa dari golongan makhluk-Ku memohon kepada-Ku dengan 3 perkara itu, niscaya Aku akan memberikannya.

 

Lalu bagaimana Aku tidak merahmatinya, sedangkan dirinya telah benar-benar memohon dan Aku adalah Tuhan Yang Maha Paling Pengasih dari semua yang pengasih".

 

 

فأوحى الله تعالى إليه يا موسى صدق قومه فيما حكوا عنه من سوء أفعاله غير أنه تشفع إلي عند وفاته بثلاثة

أشياء لو سأل بِهَا منى جميع المذنبين من خلقى لأعطيته فكيف لا أرحمه وقد سأل نفسه وأنا أرحم الراحيمن

Nabi Musa bertanya, "Wahai Tuhanku, apa 3 perkara itu ?"

 

Allah Yang Maha Luhur menjawab, "Ketika telah dekat wafatnya, dia berdoa :

Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui tentangku, sesungguhnya aku telah melakukan kemaksiatan, sedangkan aku membenci maksiat di dalam hatiku, tetapi telah terkumpul 3 perkara di dalam diriku sehingga aku melakukan maksiat bersamaan kebencian terhadap maksiat di dalam hatiku.

 

Pertamanya adalah hawa nafsu, lalu teman yang buruk, dan Iblis semoga laknat Allah kepadanya. Ketiganya ini telah menjatuhkanku di dalam maksiat.

 

Sesungguhnya Engkau mengetahui tentangku atas apa yang aku ucapkan, maka ampunilah aku.

 

 

قال موسى يا رب وما الثلاثة

قال الله تعالى لما دنت وفاته قال يا رب أنت تعلم منى انى كنت أرتكب المعاصى وكنت أكره المعصية فى قلبى لكن اجتمع في ثلاث خصال حتى ارتكبت المعصية مع كراهة المعصية فى قلبى أولها هوى النفس والرفيق السوء

وإبليس لعنة الله عليه وهذه الثلاثة القتنى فى المعصية فإنك تعلم منى ما أقول فاغفر لى

Keduanya, dia berdoa : Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya aku telah melakukan maksiat dan derajatkau bersama dengan orang-orang fasik.

 

Tetapi aku mencintai berteman dengan orang-orang sholeh dan kezuhudan mereka, dan derajat bersama mereka lebih aku cintai daripada orang-orang fasik.

 

 

والثانية قال يا رب انك تعلم بأنى ارتكبت المعاصي وكان مقامى مع  الفسقة ولكن أحب صحبة الصالحين وزهدهم والمقام معهم كان أحب إلي من الفاسقين

Ketiga, dia berdoa : Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui tentangku bahwa sesungguhnya orang-orang sholeh lebih aku cintai daripada orang-orang fasik.

 

Sehingga jikalau ada 2 orang yang berhadapan denganku, yaitu orang sholeh dan orang keji, niscaya aku mendahulukan kebutuhan orang sholeh di atas orang yang keji.

 

 

والثالثة قال إلهى إنك تعلم منى ان الصالحين كانوا أحب إلي من الفاسقين حتى لو استقبلنى رحلان صالح وطالح لقدمت حاجة الصالح على الطالح

Perawi (yang meriwayatkan hikayat ini) berkata di dalam riwayat Wahab bin Munabbih, dia berdoa :

 

"Wahai Tuhanku, jika Engkau memaafkan dan mengampuni dosa-dosaku, maka para kekasih-Mu dan para nabi-Mu akan bahagia dan bersedihlah syetan, musuhku dan musuh-Mu.

 

Jika Engkau menyiksaku sebab dosa-dosaku, maka syetan dan para penolongnya akan bahagia, dan sedihlah para nabi dan para wali.

Sesungguhnya aku mengetahui bahwa kebahagiaan para wali lebih Engkau cintai daripada kebahagiaan syetan dan para penolongnya, maka ampunilah aku.

 

Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui tentangku atas apa yang aku ucapkan, maka kasihanilah aku dan ampunilah aku".

 

 

قال فى رواية وهب بن منبه قال يا رب لو عفوت وغفرت ذنوبى يفرح أولياؤك وأنبياؤك ويحزن الشيطان وعدوى وعدوك ولو عذبتنى بذنوبى يفرح الشيطان وأعوانه ويحزن الأنبياء والأولياء وإنى أعلم أن فرح الأولياء إليك أحب من فرح الشيطان وأعوانه فاغفر لى اللهم إنك تعلم منى ماأقول فارحمنى وتجاوز عنى

Allah Yang Maha Luhur berkata, "Lalu aku merahmatinya, mengampuninya, dan memaafkannya, karena sesungguhnya Aku adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, terkhusus pada orang yang mengakui dosanya di hadapan-Ku.

 

Dan orang ini telah mengakui dosa, maka Aku mengampuninya dan memaafkannya.

 

Wahai Nabi Musa, lakukan apa yang telah Aku perintahkan kepadamu, karena sesungguhnya Aku akan mengampuni, demi menghormatinya, kepada orang yang mau menyolati jenazahnya dan mau datang menguburnya".

 

قال الله تعالى فرحمته وغفرت له وتجاوزت عنه فإنى رؤف رحيم خاصة لمن أقر بالذنب بي بين يدي

وهذا أقر بالذنب فغفرت له وتجاوزت عنه ياموسى افعل ماأمرتك فإنى أغفر بحرمته لمن صلى على جنازته وحضر دفنه

Wallahu a'lam bis showab.

 

 

 

 

Oleh:

De Badrun (Ketua FKPAI KUA Margomulyo)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, Maret 08, 2022

ORANG ALIM YANG PERINGATKAN RASULULLAH

ORANG ALIM YANG DIPERINGATKAN RASULULLAH

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Wahai anakku, Memberi nasehat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya karena nasehat bagi orang yang menuruti nafsunya terasa pahit, sebab larangan-larangan itu justru  dicintai dalam hatinya.

 

Terlebih bagi seseorang yang mencari ilmu sebagai formalitas, sibuk pada prioritas nafsu dan prestasi keduniawian.

 

ايها الولد، النصيحة سهلة والمشكل قبولها، لانها في مذاق متبعي الهوى مرة. اذ المناهي محبوبة في قلوبهم، وعلى الخصوص لمن كان طالب العلم الرسمي ومشتغلا في فضل النفس ومناقب الدنيا.

Ia meyakini bahwa keselamatan dan kebahagiaannya hanya dengan ilmu saja tanpa  perlu mengamalkan.

Yang demikian itu merupakan keyakinan para filosof.

( Maha Suci Allah Yang Maha Agung).

 

Orang yang terbujuk ini tidak mengerti bahwa saat ia memperoleh ilmu tanpa diamalkan terdapat dalil yang kuat seperti sabda Rosululloh SAW:

 

Manusia yang paling berat mendapatkan siksa di hari qiyamat adalah orang yang mempunyai ilmu yang ilmunya tidak diberi kemanfaatan oleh Allah.

 

فانه يحسب ان العلم المجرد له سيكون نجاته وخلاصه فيه. وانه مستغن عن العمل وهذا اعتقاد الفلاسفة سبحان الله العظيم- لا يعلم هذا المغرور انه حين حصل العلم اذا لم يعمل به تكون الحجة عليه آكد كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم- : اشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لا ينفعه الله بعلمه.

Saudaraku yang di rohmati Alloh, dari penjelasan Imam Ghozali di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa kiranya ilmu yang sudah kita terima dari Alloh ini senyatanya selain sebagai anugrah yang tak terhingga, di sisi lain keberadaan ilmu ini juga merupakan tanggungjawab yang harus kita tunaikan dalam bentuk pelaksanaan dalam kehidupan kita di dunia ini.

 

Kenapa demikian ? Hal ini semata-mata sebagai wujud tanggungjawab sebagai orang yang berilmu dan diharap bisa menjadi Uswatun hasanah bagi para murid dan ummat muslim secara keseluruhan.

 

Satu contoh sederhana, manakala dalam satu kesempatan sang ustadz menerangkan panjang lebar tentang keutamaan shodaqoh/zakat/wakaf, namun dalam dalam kesempatan yang lain sang ustadz terlihat enggan melaksakan hal itu, manakala kesempatan memungkinkan untuk melaksanakan.

 

Dari sekilas contoh diatas menggambarkan bagaima sebuah ilmu yang pernah di paparkan secara panjang lebar mengalami satu penghianatan dan pemiskinan uswatun hasanah.

 

Diriwayatkan bahwa Syaikh al Junaid -qaddasa Allahu sirrahu- dimimpikan setelah wafatnya, lalu ditanyakan padanya: Apa kabar wahai Abul Qosim ?

 

 Beliau menjawab "Telah binasa ibarat-ibarat itu dan telah lenyap isyarat-isyarat itu, tidak ada yang bermanfaat bagiku kecuali rakaat-rakaat kecil di tengah malam".

 

وروي أن الجنيد قدس الله سره- رؤي في المنام بعد موته فقيل له: ما الخبر يا أبا القاسم ؟ قال: طاحت تلك العبارات وفنيت تلك الاشارات وما نفعنا الا ركيعات ركعناها في جوف الليل.

Dari kisah Syeh junaid ini mengisyaratkan bahwa sebesar dan sebanyak apapun Ilmu yang kita miliki ternyata hanya ilmu yang kita amalkan yang mempunyai arti di hadapan Alloh SWT saat kita sudah wafat menghadapnya.

 

Walaupun Rokaat rokaat kecil yang mampu kita laksanakan maka ini akan di tampakkan sebagi amal kebaikan kita di hadapan Alloh. Begitulah sebaliknya.

 

Wahai anakku, Janganlah kamu menjadi muflis (orang yang bangkrut) dari amal perbuatan dan jangan pula kosong dari ahwal[1]. Yakinlah ilmu tanpa amal tidak akan bisa membantu.

 

Hal itu dicontohkan apabila ada seorang laki-laki di tengah hutan sambil memiliki sepuluh pedang Hindia dan beberapa senjata lain sementara itu ia pun seorang yang pemberani dan ahli perang.

 

Kemudian ia disergap harimau yang besar dan ganas. Apa yang kamu pikirkan? Apakah senjata-senjata itu bisa menghalau kebuasan harimau tanpa digunakan dan dipukulkan?

 

Tentu sudah jelas bahwa senjata tersebut tidak bisa menghalau kecuali digerakkan dan ditebaskan.

 

ايها الولد، لا تكن من الاعمال مفلسا ولا من الاحوال خاليا وتيقن ان العلم المجرد لا يأخذ باليد. مثاله لو كان على رجل في برية عشرة اسياف هندية مع اسلحة اخرى وكان الرجل شجاعا واهل حرب. فحمل عليه اسد عظيم مهيب، فما ظنك؟ هل تدفع الاسلحة شره عنه بلا استعمالها وضربها؟ ومن المعلوم انها لا تدفع الا بالتحريك والضرب.

Tamsil ilmu yang tak di manfaatkan Di era milenial saat ini pun bisa di contohkan dengan banyaknya di jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari orang memegang Android namun tak banyak memberikan dampak kebaikan dalam kehidupan duniawinya. Karena banyak ilmu/fitur android yang tidak di operasikan/lakukan.

 

Keberadan Android baru sebatas untuk kemewahan gaya hidup, bukan untuk meningkatkan kwalitas hidup dalam beribadah.

 

Padahal dalam fitur android yang di sediakan banyak hal kebaikan yang bisa kita lakukan.

 

Begitulah kiranya, dalam kenyataan sehari-hari kita punya banyak khasanah keilmuan yang bisa menunjang kemudahan bagi kita untuk mengakses kebaikan dunia dan ahirat, namun dalam kenyataannya tak banyak fitur ilmu yang kita punyai itu kita operasikan.

 

Begitu juga apabila seseorang membaca, mengkaji 100.000 masalah keilmuan tanpa dipraktekan, maka semua itu tidak akan memberi manfaat sampai ilmu itu diamalkan.

 

Sebagai contoh lagi jika seseorang terkena demam dan penyakit empedu (penyakit kuning) yang obatnya adalah dengan tumbuhan sakanjabin dan kaskab maka ia tidak akan sembuh kecuali dengan mengkonsumsi keduanya.

 

فكذا لو قرأ رجل مائة الف مسألة علمية وتعلمها ولم يعمل بها لا تفيد الا بالعمل. ومثله ايضا لو كان لرجل حرارة ومرض صفراوي يكون علاجه بالسكنجبين والكشكب فلا يحصل البرء الا باستعمالهما.

Jika engkau menakar 2000 kati arak, hal itu tidak akan menjadikanmu mabuk ketika kau tidak meminumnya.

كرمي دو هزار رطل همي يمائي * تامي نخورى نباشدت شيدائي.[2]

 

Termasuk dalam menghadapi kemaksiatan, manakala protek ilmu yang kita terapkan ini benar-benar di amalkan maka seribu kemaksiatan yang ada di hadapan kita tidak akan mampu menembus benteng keimanan.

 

Karena realisasi atau pelaksanaan dari mencegah kemungkaran ini adalah an-nahyu (Mencegah).

 

Wallahu Alam Bisshawaab

 

Pemateri: De Badruns.

1. Pengasuh Di MATAWALI Jipangulu

2. Katib Syuriyah MWCNU Margomulyo.

3. Ketua FKPAI KUA Margomulyo.

4. Ketua MUI Kec. Margomulyo.