Minggu, Juli 31, 2011

PESANTREN PESANTREN DI INDONESIA


  1. Pondok Pesantren Lirboyo Baca selanjutnya
  2. Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang Baca selanjutnya
  3. Pondok Pesantren Mamba'ul Futuh Baca selanjutnya
  4. Pondok Pesantren Darus Sholah Baca selanjutnya
  5. Pondok Pesantren Roudlotul Qu'an Baca selanjutnya
  6. Pondok Pesantren Buntet Baca selanjutnya
  7. Pondok Pesantren Al Istiqomah Baca selanjutnya
  8. Pondok Pesantren Al Amin Prenduan Baca selanjutnya
  9. Pondok Pesantren Al Hikmah dua Baca selanjutnya
  10. Pondok Pesantren Qomaruddun Baca selanjutnya
  11. Pondok Pesantren Tremas Baca selanjutnya
  12. Pondok Pesantren PPTQ Al As'ariyah Baca selanjutnya
  13. Pondok Pesantren Terpadu Al kamal Baca selanjutnya
  14. Pondok Pesantren An Nuqoyah Baca selanjutnya
  15. Pondok Pesantren Wali Songo Baca selanjutnya
  16. Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin Baca selanjutnya
  17. Pondok Pesantren Al Hamidiyah Baca selanjutnya
  18. Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman Baca selanjutnya
  19. Pondok Pesantren Fathiyyah Al-Idrisiyyah (F A D R I S) Baca selanjutnya
  20. Pondok Pesantren Darul Muttaqien Baca selanjutnya
  21. Pondok Pesantren Perguruan Islam Magelang Baca selanjutnya
  22. Pondok Pesantren Darul Falah Baca selanjutnya
  23. Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Baca selanjutnya
  24. Pondok Pesantren Darul Rahman Baca selanjutnya
  25. Pondok Pesantren Mamba'ul Falah Pekalongan Baca selanjutnya
  26. Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri Baca selanjutnya
  27. Pondok Pesantren Girikusumo Baca selanjutnya
  28. Pondok Pesantren Nurul Islam Jember Baca selanjutnya
Sumber Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama Islam Republik Indonesia

Pondok Pesantren Manbail Futuh


PDFCetak
Kamis, 28 Mei 2009
Image

Risalah Pendirian Pondok
Inilah pondok yang menjadi cikal bakal berdirinya kajian-kajian keislaman, maupun pendirian-pendirian TPA di kecamatan jenu Tuban. Pondok ini, sejak awal memang didirikan untuk memberikan pengajaran Al-Qur’an kepada masyarakat setempat. Agar mereka menjadi Pioner dalam mengenalkan dan mengajarkan agama islam.
Pondok Pesantren Manbail Futuh namanya. Terletak di Desa Beji Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban Jawa Timur. Tepat di belakang Masjid Baiturrahman Beji Jenu Tuban. Pondok tertua di kecamatan Jenu, yang tumbuh dan berkembang, berawal dari niat mengenalkan agama Islam kepada masyarakat sekitar.

Pondok ini, berdiri sejak 1925, sejak masa kolonial Belanda. Sayang, tak ada catatan tertulis perihal perjuangan dan dinamika pondok pada masa kolonial itu. Adanya, hanya awal pendirian pondok ini yang berasal dari perbincangan dengan santri dan pengasuh pondok ini tentang awal mula terbangunnya pondok ini.

Awalnya, KH Fathurrohman, anak tunggal dari Bapak Abu Said, petani sekaligus pedagang kaya di Jenu, mondok di Pondok Langitan Tuban, tanpa minta izin orang tuanya. Alasannya, kalau Ijin, takut tidak diperbolehkan. Karena tradisi yang berkembang di masyarakat ketika itu, anak tunggal harus di rumah untuk menunggu dan mewarisi tradisi orang tua.

Setelah orang tua Mbah nyai tahu akan keberadaannya, Abu Said pun menyuruhnya pulang, “Kulo mboten bade mantuk, lek mboten didamele pondok (saya tidak akan pulang, kalau tidak dibangunkan pondok)”. Begitu Jawab Kyai Fathur ketika itu. Pak Said, Ayahnya, yang saat itu menjadi petani dengan lahan yang luas dan kaya raya pun mengabulkan keinginan anaknya tersebut. Maklum, jauh sebelumnya, Abu Said, terkenal dengan kebiasannya membuatkan Musholla, bagi penduduk di sekitarnya.

Kecintaan Kyai Fathurrohman pada pendidikan agama, mulai memberikan suasana tersendiri di Jenu. Jenu, yang saat itu, masih belum ada pondok pesantren pun mulai ramai dengan pengajian. Saat itu, bangunannya tentu masih sederhana, dengan bangunan-bangunan yang berasal dari kayu. Orang-orang dari berbagai desapun dating ke Beji, dari desa-desa yang terdekat seperti Kaliuntu, sampai yang jauh, seperti desa Karangasem.

Kyai Fathurrohman pun mulai mengajar membaca Al-Quran anak-anak lelaki, sedangkan istri beliau, Bu Nyai Masithoh mengajar anak-anak perempuan. Tanpa diminta, anak-anak perempuan itu tidak mau pulang ke rumah. Maklum, ketika itu, belum banyak merekapun membantu ibu Masithoh dan tinggal di rumahnya, sambil belajar mengaji kitab sulam taufiqdan terutama mengaji Al-Quran. Begitupun dengan lelaki. Lama kelamaan santri ini menetap dan pondok yang awalnya hanya dibangun untuk lelakipun, beberapa tahun kemudian mendirikan untuk perempuan.

Kehidupan anak pondok ketika itu, masih sangat sederhana. Mereka memang berniat untuk dapat membaca al-Qur’an serta mempelajari bahasa arab. Sehingga, para santripun datang dan pergi sesuai dengan keinginan dan kemampuan mereka. Jika merasa telah dapat membaca Al-Qur’an merekapun akan pamit pulang.

Perkembangan dunia pendidikan formal, membuat pengasuh Pondok Manbail Futuh pun mulai mendirikan madrasah Ibtidaiyah. Tercatat dalam majalah RISMA (Risalah Manbail Futuh) yang terbit pada tahun 1983 , pada tahun 1947 mulai didirikan Madrasah Ibtidaiyah Banin. Tiga Tahun kemudian didirikanlah pendidikan formal berupa Ibtidaiyah Banat, yang menjadi cikal bakal pendidikan formal dilingkungan pondok.

Proses pembuatan pendidikan formal semakin diperluas, demi memberikan jaminan kepada generasi anak-anak pondok, untuk mengambil hal yang baik dari perkembangan zaman. Karena itu, pada tahun 1960 berdirilah madrasah tsanawiyah. Ada kisah menarik yang dituturkan dalam Risma tentang pendirian sekolah tsanawiyah ini.

Karena belum memiliki gedung, sekolah tsanawiyah pada saat itu, harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Hingga ada penduduk yang tertarik ada penduduk yang tertarik untuk membuat sekolah tsanawiyah dan diambillah murid pondok Manbail Futuh. Namun, hal itu tidak mematahkan Mbah Nyai Fathur untuk mendirikan Tsanawiyah. Karena itu, ia memulai lagi dari awal.

Manbail Futuh Kini
Siang, di tengah terik matahari yang menyengat, anak-anak dari Desa Merkawang, Karangasem, Boro, Merakurak mulai berjejer-jejer di jalan raya menunggu kedatangan angkutan umum. Mereka adalah siswi-siswi Aliyah dan Tsanawiyah Manbail Futuh.

Sejak didirikan, Madrasah Manbail Futuh, baik dari tingkat MTS maupun Aliyah, begitu banyak murid yang mendaftar, sehingga harus bergantian antara siswa perempuan dan lelaki. Lelaki masuk pada pagi hari, pukul 07.30-12.30 WIB. Sedangkan perempuan pada pukul 13:00- 17:00 WIB. Saat ini, tercatat lebih dari 2.000 santri yang sekolah formal. Sedangkan yang mondok, terdapat sekira 500 orang. Pergantian masuk bagi siswa-siswi ini karena belum adanya ruang di tempat ini. Banyaknya murid tak seimbang dengan ruangan kelas yang begitu terbatas.

Madrasah Formal terdiri dari TK, hingga tingkat aliyah, putra dan putri. Rata-rata satu tingkat memiliki 3 kelas. Sedangkan untuk pondok-pondok, tergantung pada pilihan santri.

Jumlah santri yang begitu banyak, menjadikan pondok pesantren Manbail Futuh yang dulu hanya diasuh oleh Mbah Kyai Fathurrahman, sekarang harus diasuh oleh anak-anak cucunya. Karena itu, pengasuh pondok inipun, saat ini, adalah KH.Muslich Abdurrahim, KH.Fathurrahman Mizan, KH. Muhidin Romli, K. Zaenal Arifin serta KH. Son Haji Abdil Hadi. Lokasi pondokpun tidak disatukan, terpencar kecil-kecil, hal ini untuk menyiasati agar anak-anak pondok lebih terurus dan berintegrasi dengan penduduk.

Pembelajaran kitab fiqih dan tafsir menjadi kajian utama di pondok ini. Ini bisa dilihat dari kitab yang diajarkan. Seperti: Kitab tafsir Jalalain, Fath al-Qarib, Mabadi' al-Fiqhiyah, Safinah an-Najah, Sullam Safinah. Kemudian diajarkan juga Qawa'id al-Fiqhiyah. Alasannya, karena mendesaknya kebutuhan umat Islam dalam Al-Qur’an dan fiqih, yang akan digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Setidaknya, jika mereka tidak menjadi tokoh di masyarakat, ilmu ini bisa digunakannya sendiri.

Meskipun saat ini pondok pesantren telah memiliki santri dari luar Jenu, seperti dari Irian Jaya, Jakarta, Sumatera, Bali. Namun, pondok pesantren ini tetap memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi penduduk sekitar untuk mengikuti pengajian. Tidak ada benteng yang membatasi antara pondok dengan rumah penduduk, sehingga kapanpun penduduk dapat dengan leluasa untuk mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan di pondok.

Memang diakui oleh pengasuh pondok, bahwa euphoria penduduk sekitar untuk mengikuti pengajian tidak seperti dulu. Meskipun begitu, setiap pagi, bagi perempuan diadakan pengajian diniyah dan sore untuk lelaki, dan diikuti oleh penduduk sekitar. Penetapan jadwal diniyah menyesuaikan dengan jam-jam sekolah. Sedangkan untuk ibu-ibu yang jauh dari lokasi pondok, biasanya setiap jumat sore pengajian bersama di masjid.

Keinginan untuk menyatukan dan membuat komunikasi antara penduduk sekitar dengan anak-anak pondokpun selalu diadakan. “Karena ekslusifitas hanya akan menciptakan manusia yang tidak membumi” Kata Ibu Ita, salah satu guru Tajwid di pondok ini.

Dalam mencetak generasi yang tangguh, selain memberikan pengajaran yang terus menerus kepada para santri. Pondok ini juga memiliki tekad yang kuat, agar santri menjadi inisiator dari pengajaran keagamaan di tempat tinggalnya nantinya.

Kemandirian dalam berbagaihal pun diajarkan di pondok ini. Misalnya, kemandirian untuk mengurus diri sendiri, dengan tidak ada pembedaan bagi mereka yang kaya maupun yang miskin, sehingga mereka setiap hari harus bertanggung jawab untuk mengurusi diri sendiri. Dari hal-hal yang setiap hari dikerjakan, seperti mencuci baju, menyetrika dan mengatur jadwal sendiri. Bahkan, hingga saat ini, pondok ini masih mempertahankan agar santri memasak sendiri, baik lelaki maupun perempuan.

Oleh karena itu, Alumni pondok ini, setelah selesai belajar di pesantren. Biasanya, mereka mendirikan TPA atau mendirikan madrasah atau tsanawiyah di desanya. Terbukti alumni-alumni pondok maupun yang sekolah di tempat ini, mereka menjadi penggerak kajian maupun keagamaan di masyarakat sekitar. Ana Misalnya, usai tamat sekolah aliyah, ia pulang ke rumahnya Desa Boro, kemudian mengajar mengaji, dan kini bersama suaminya ia berencana mendirikan sekolah formal yang berbasis agama. (Nur Izzah Millati)

Desa Lirboyo Dan Pondok Lirboyo


Jumat, 11 Juli 2008
Lirboyo adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Mojoroto Kotamadya Kediri Jawa Timur. Di desa inilah telah berdiri hunian atau pondokan para santri yang dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren Lirboyo. Berdiripada tahun 1910 M.. Diprakarsai oleh Kyai Sholeh, seorang yang Alim dari desa Banjarmelati dan dirintis oleh salah satu menantunya yang bernama KH. Abdul Karim, seorang yang Alim berasal dari Magelang Jawa Tengah.

Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo erat sekali hubungannya dengan awal mula KH.Abdul Karim menetap di Desa Lirboyo sekitar tahun 1910 M. setelah kelahiran putri pertama beliau yang bernama Hannah dari perkawinannya dengan Nyai Khodijah (Dlomroh), putri Kyai Sholeh Banjarmelati.

Perpindahan KH. Abdul Karim ke desa Lirboyo dilatarbelakangi atas dorongan dari mertuanya sendiri yang pada waktu itu menjadi seorang da’i, karena Kyai Sholeh berharap dengan

menetapnya KH. Abdul Karim di Lirboyo agama Islam lebih syi’ar dimana-mana. Disamping itu, juga atas permohonan kepala desa Lirboyo kepada Kyai Sholeh untuk berkenan menempatkan alahsatu menantunya (Kyai Abdul Karim) di desa Lirboyo. Dengan hal ini diharapkan Lirboyo yang semula angker dan rawan kejahatan menjadi sebuah desa yang aman dan tentram.

Betul juga, harapan kepala desa menjadi kenyataan. Konon ketika pertama kali kyai Abdul Karim menetap di Lirboyo, tanah tersebut diadzani, saat itu juga semalaman penduduk Lirboyo tidak bisa tidur karena perpindahan makhluk halus yang lari tunggang langgang
Tiga puluh lima hari setelah menempati tanah tersebut, beliau mendirikan surau mungil nan sederhana.

Santri Perdana dan Pondok Lama
Adalah seorang bocah yang bernama Umar asal Madiun, ialah santri pertama yang menimba ilmu dari KH. Abdul Karim di Pondok Pesantren Lirboyo. Kedatangannya disambut baik oleh KH. Abdul Karim, karena kedatangan musafir itu untuk tholabul ilmi , menimba pengetahuan agama. Selama nyantri, Umar sangat ulet dan telaten. Ia benar-benar taat pada Kyai.Demikian jalan yang ditempuh Umar selama di Lirboyo. Selang beberapa waktu ada tiga santri menyusul jejak Umar. Mereka berasal dari Magelang, daerah asal KH. Abdul Karim. Masing-masing bernama Yusuf, Shomad Dan Sahil. Tidak lama kemudian datanglah dua orang santri bernam Syamsuddin dan Maulana, keduanya berasal dari Gurah Kediri. Seperti santri sebelumnya, kedatangan kedua santri ini bermaksud untuk mendalami ilmu agama dari KH. Abdul Karim. Akan tetapi baru dua hari saja mereka berdua menetap di Lirboyo, semua barang-barangnya ludes di sambar pencuri. Memang pada saat itu situasi Lirboyo belum sepenuhnya aman, di Lirboyo masih ada sisa-sisa perbuatan tangan-tangan kotor. Akhirnya mereka berdua mengurungkan niatnya untuk mencari ilmu. Mereka pulang ke kampung halamannya.

Tahun demi tahun, Pondok Pesantren Lirboyo semakin dikenal oleh masyarakat luas dan semakin banyaklah santri yang berdatangan mengikuti santri-santri sebelumnya untuk bertholabul ilmi , maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang dialami oleh Syamsuddin dan Maulana, dibentuklah satuan keamanan yang bertugas ronda keliling disekitar pondok.

Berdirinya Masjid Pondok Pesantren Lirboyo
Masjid merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dengan pondok pesantren, yang dianggap sebagai tempat ummat Islam mengadakan berbagai macam kegiatan keagamaan, sebagaimana praktek sholat berjama’ah dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, bukan merupakan hal yang aneh jika dimana ada pesantren disitu pula ada masjid, seperti yang dapat kita lihat di Pondok Pesantren Lirboyo.

Asal mula berdirinya masjid di Pondok Lirboyo, karena Pondok Pesantren yang sudah berwujud nyata itu kian hari banyak santri yang berdatangan, sehingga dirasakan KH. Abdul Karim belum dianggap sempurna kalau ada masjidnya. Maka dua setengah tahun setelah berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo, tepatnya pada tahun 1913 M. timbullah gagasan dari KH. Abdul Karim untuk merintis mendirikan masjid di sekitar Pondok.

Semula masjid itu amat sederhana sekali, tidak lebih dari dinding dan atap yang terbuat dari kayu. Namun setelah beberapa lama masjid itu digunakan, lambat laun bangunan itu mengalami kerapuhan. Bahkan suatu ketika bangunan itu hancur porak poranda ditiup angin beliung dengan kencang. Akhirnya KH. Muhammad yang tidak lain adalah kakak ipar KH. Abdul Karim sendiri mempunyai inisiatif untuk membangun kembali masjid yang telah rusak itu dengan bangunan yang lebih permanen. Jalan keluar yang ditempuh KH. Muhammad, beliau menemui KH. Abdul Karim guna meminta pertimbangan dan bermusyawarah. Tidak lama kemudian seraya KH. Abdul Karim mengutus H. Ya’qub yang tidak lain adik iparnya sendiri untuk sowan berkonsultasi dengan KH. Ma’ruf Kedunglo mengenai langkah selanjutnya yang harus ditempuh dalam pelaksanaan pembangunan masjid tersebut.Dari pertemuan antara H. Ya’qub dengan KH. Ma’ruf Kedunglo itu membuahkan persetujuan, yaitu dana pembangunan masjid dimintakan dari sumbangan para dermawan dan hartawan. Usai pembangunan itu diselesaikan, peresmian dilakukan pada tanggal 15 Rabi’ul Awwal 1347 H. / 1928 M. Acara itu bertepatan dengan acara ngunduh mantu putri KH. Abdul Karim yang kedua , Salamah dengan KH. Manshur Paculgowang.

Dalam tempo penggarapan yang tidak terlalu lama, masjid itu sudah berdiri tegak dan megah (pada masa itu) dengan mustakanya yang menjulang tinggi, dinding serta lantainya yang terbuat dari batu merah, gaya bangunannya yang bergaya klasik , yang merupakan gaya arsitektur Jawa kuno dengan gaya arsitektur negara Timur Tengah. Untuk mengenang kembali masa keemasan Islam pada abad pertengahan, maka atas prakarsa KH. Ma’ruf pintu yang semula hanya satu, ditambah lagi menjadi sembilan, mirip kejayaan daulat Fatimiyyah.

Selang beberapa tahun setelah bangunan masjid itu berdiri, santri kian bertambah banyak. Maka sebagai akibatnya masjid yang semula dirasa longgar semakin terasa sempit. Kemudian diadakan perluasan dengan menambah serambi muka, yang sebagian besar dananya dipikul oleh H. Bisyri, dermawan dari Branggahan Kediri. Pembangunan ini dilakukan pada tahun sekitar 1984 M. Tidak sampai disitu, sekitar tahun 1994 M. ditambahkan bangunan serambi depan masjid. Dengan pembangunan ini diharapkan cukupnya tempat untuk berjama’ah para santri, akan tetapi kenyataan mengatakan lain, jama’ah para santri tetap saja membludak sehingga sebagian harus berjamaah tanpa menggunakan atap. Bahkan sampai kini bila berjama'ah sholat Jum'at banyak santri dan penduduk yang harus beralaskan aspal jalan umum. Untuk menjaga dan melestarikan amal jariyyah pendahulu serta menghargai dan melestarikan nilai ritual dan histories, sampai sekarang masjid itu tidak mengalami perobahan, hanya saja hampir tiap menjelang akhir tahun dinding-dindingnya dikapur dan sedikit ditambal sulam.

PERAN PODOK PESANTREN LIRBOYO DALAM MEREBUT KEMERDEKAAN DAN MEMPERTAHANKANNYA
Pondok Pesantren Lirboyo, sejak zaman kolonial Belanda merupakan salah satu diantara sekian banyak pesantren yang ikut berjuang mengusir penjajah dari bumi nusantara tercinta. Hal ini dapat dibuktikan pada waktu tentara Jepang datang ke Indonesia untuk menjajah dengan dalih demi kemakmuran Asia Timur Raya. Ketika mereka mengundang para Ulama le Jakarta, maka KH.
Abdul Karim selaku pengasuh Pondok Pesantren berkenan hadir bersama KH. Ma’ruf Kedunglo dan KH. Abu Bakar Bandar Kidul dengan dikawal oleh Agus Abdul Madjid Ma’ruf. Ketika Jepang mengadakan latihan di Cibasura Bogor, Residen Kediri, R. Abd. Rahim Pratalikrama memohon kesediaannya KH. Mahrus Ali untuk berangkat sebagai utusan daerah Kediri. Berhubung beliu berlangan untuk hadir, maka diutuslah beberapa santri, antara Thohir Wijaya Blitar, Agus Masrur Lasem, Mahfudz Yogyakarta dan Ridlwan Anwar Kediri.Usai menghadiri pertemuan di Bogor, segala hal dan ihwal yang mereka ketahui di sana, segera disampaikan pada seluruh santri Lirboyo. Semua itu adalah merupakan satu usaha mngambil manfaat dalam rangka kerjasama dengan pemerintah Jepang. Akan tetapi dibalik itu ada maksud lain, yaitu sebagai persiapan Indonesia merdeka. Para utusan yang telah mendapat ilmu tentang kemiliteran, segera mengadakan latihan baris berbaris di Pondok Pesantren Lirboyo. Waktu itu sekitar tahun 1943-1944 M., yang mana di Kediri sudah dibentuk barisan Hizbullah dengan kepemimpinan KH. Zainal Arifin di tingkat pusatnya.

Pada masa itu adalah merupakan masa-masa penuh harapan rakyat Indonesia untuk terlepas dari cengkraman penjajah dari kepemerintahan negara yang dikenal dengan negeri Sakura itu. Rakyat sudah muak dengan segala tindakan penjajah. Mereka sangat rindu damai dalam merdeka. Betul juga, beberapa hari sesudah Hirosima dan Nagasaki yang merupakan dua kota besar di Jepang kejatuhan bom tentara sekutu, Jepang pun menyerah tanpa syarat. Akhirnya Indonesia yang sudah lama menunggu kesempatan amas dan hari-hari bersejarah itu segera memproklamirkan kemerdekaannya, tepat pada hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945, kebahagiaan bangsa Indonesia termasuk santri Lirboyo tidak dapat terlukiskan lagi.

Pelucutan Senjata Kompitai Dai Nippon
Adalah Mayor Peta H. Mahfudz yang mula-mula menyampaikan berita gembira tentang kemerdekaan Indonesia itu kepada KH. Mahrus Ali, lalu diumumkan kepada seluruh santri dalam pertemuan diserambi masjid. Dalam pertemuan itu pula, para santri diajak melucuti senjata Kompitai Dai Nippon yang bermarkas di Kediri (markas itu kini dikenal dengan dengan Markas Brigif 16 Brawijaya Kodam Brawijaya) .

Tepat pada jam 22.00 berangkatlah santri Lirboyo sebanyak 440 menuju ke tempat sasaran dibawah komando KH. Mahrus Ali, Mayor Mahfudz dan R. Abd. Rahim Pratalikromo. Sebelum penyerbuan dimulai, santri yang bernama Syafi’I Sulaiman yang pada waktu itu berusia 15 tahun menyusup ke dalam markas Dai Nippon yang dijaga ketat. Maksud tindakan itu adalah untuk mempelajari dan menaksir kekuatan lawan. Setelah penyelidikan dirasa sudah cukup, Syafi’i segera melapor kepada KH. Mahrus Ali dan Mayor Mahfudz. Saat-saat menegangkan itu berjalan hingga pukul 01.00 dini hari dan berakhir ketika Mayor Mahfudz menerima kunci gudang senjata

dari komandan Jepang yang sebelumnya telah diadakan diplomasi panjang lebar. Dalam penyerbuan itu , kendati harus harus mengalami beberapa insiden dan bentrokan fisik, pada akhirnya penyerbuan itu sukses dengan gemilang. Walaupun kemerdekaan masih sangat “muda” namun Indonesia sudah berhak mengatur negaranya sendiri. Tidak dibenarkan jika ada fihak luar yang turut campur. Akan tetapi tidak bagi Indonesia pada waktu itu. Baru saja Indonesia merasakan nikmatnya kemerdekaan, tiba-tiba ada

sekutu yang di”bonceng” Belanda yang mengatasnamakan NICA, pada tanggal 16 September 1945 mendarat di Tanjung Priuk untuk menjajah kembali. Kemudian disusul tanggal 29 September 1945dengan pasukan dan peralatan perang yang lebih komplit. Karuan saja, kedatangan mereka disambut dengan pekik “merdeka atau mati”. Begitulah semboyan bangsa Indonesia. Termasuk para ulama yang waktu itu tergabung dalam dalam perhimpunan Nahdlatul Ulama (dulu HB NU), pada tanggal 21-22 Oktober 1945 memanggil para ulama NU yang ada di Jawa dan Madura untuk mengadakan pertemuan di kantor PB NU jalan Bubutan Surabaya.

Tujuan pertemuan itu adalah membahas ulah Belanda yang hendak merampas kembali kemerdekaan Indonesia.Sebagai tokoh NU, KH. Mahrus Ali turut hadir dalam pertemuan itu. Dalam pertemuan itu para ulama mengeluarkan resolusi Perang Sabil. Perang melawan Belanda dan kaki tangannya hukumnya adalah wajib ain. Rupanya keputusan inilah yang menjadi motifasi para ulama dan santrinya untuk memanggul senjata ke medan laga, termasuk pesantren Lirboyo.

Tidak lama setelah itu, tepatnya pada tanggal 25 Oktober 1945, tentara sekutu yang dipimpin AWS Mallaby mendarat di Tanjung Perak Surabaya. Tindakan mereka semakin brutal,, pada tanggal 28 Oktober mereka mulai mengadakan gangguan-gangguan stabilitas, mereka merampas mobil, mencegat pemuda-pemuda Surabaya , merebut gedung yang sudah dikuasai Indonesia. Yang lebih menyakitkan, mereka menurunkan sang Merah Putih yang berkibar diatas hotel Yamato, dan digantinya dengan Merah Putih Biru. Pemuda Surabaya marah, terjadilah pertempuran selama tiga hari, 28,29,30 Oktober 1945, hingga terbunuhlah AWS Mallaby, Jendral andalan Inggris yang masih berusia 45 tahun.

Dalam situasi demikian itu, Mayor Mahfudz datang ke Lirboyo menghadap KH. Mahrus Ali untuk memberikan kabar bahwa Surabaya geger. Seketika KH Mahrus Ali mengatakan bahwa kemerdekaan harus kita pertahankan sampai titik darah penghabisan. Kemudian KH. Mahrus Ali mengintruksikan kepada santri untuk berangkat perang ke Surabaya. Hal ini disampaikan lewat Agus Suyuthi. Maka dipilihlah santri-santri yang tangguh untuk dikirim ke Surabaya.

Dengan mengendarai truk , para santri dibawah komando KH. Mahrus Ali berangkat ke Surabaya. Meskipun hanya bersenjatakan bambu runcing, mereka bersemangat berjihat menghadapi musuh. Santri yang dikirim waktu itu berjumlah sebanyak 97 santri.

Pondok Pesantren Darus Sholah


PDFCetak
Kamis, 21 Mei 2009
Image

Sepulang dari Madinah, setumpuk kegiatan telah menanti Kiai muda yang berwawasan luas ini. Sontak, beliau sibuk membina pengajian di kampung? kampung. Salah satunya, mengasuh pengajian di Gang Paneli Talangsari Jember. Di tengah kesibukan mengasuh beberapa pengajian, beliau juga tengah mempersiapkan embrio pesantrennya, Darus Sholah. Tepatnya, pada 27 Rajab tahun 1987, Gus Yus meresmikan kelahiran pesantrennya. Pesantren ini didirikan di JI. Moh. Yamin 25, Tegal Besar Jember di atas tanah seluas 8 hektare. Saat itu, keadaan di lokasi pesantren masih sunyi, tidak seramai sekarang. Belum ada kendaraan, waktu itu. listrik juga masih menggunakan diesel. Hanya ada beberapa gelintir santri yang menimba ilmu di pondok Gus Yus tersebut.

Adalah Kiai As'ad Syamsul Arifin, seorang kiai kharismatik asal Situbondo, yang meletakkan batu pertama Pesantren Darus Sholah. Sewaktu itu, Kiai As'ad sudah menjadi orang yang demikian dituakan dijam'iyyah Nahdlatul Ulama. Kiai As'ad lah yang bersama sejumlah kiai senior seperti KH. Achmad Shiddiq dan KH. Ali Maksum, pada tahun 1984, menjadi tokoh kunci yang sangat menentukan derap langkah Nahdlatul Ulama.

Saat itu, Nahdlatul Ulama berada dalam ambang kehancuran karena badai konflik internal. Untungnya, kiai As'ad dan beberapa kiai kharismatik yang lain berhasil menyelesaikan konflik ini. Makanya, sangat tepat kiranya jika kiai yang juga abah KH Fawa'id Situbondo ini yang didaulat Gus Yus untuk meresmikan pesantrennya. Apalagi, ternyata KH Muhammad, abah Gus Yus, adalah senior Kiai As'ad.

Sebaliknya, ketika Kiai As'ad bermaksud mendirikan Ma'had Aly pada tahun 1990, Gus Yus dan juga Gus Nadzir, kakaknya dimintai bantuannya untuk turut serta merumuskan pendirian program pendidikan pasca pesantren tersebut. Bersama sejumlah kiai senior, beliau didapuk untuk turut menyumbangkan pikiran bagi pendirian dan pengembangan Ma'had Aly ke depan. MA sendiri diangankan oleh para pendirinya, untuk mampu mencetak kader kader ulama yang, menurut Kiai As'ad, kian langka. Tidak hanya itu. Pasca pendirian MA, Gus Yus juga dimohon untuk menjadi salah satu staf pengajar di sana. Hanya karena beliau belakangan sibuk di dunia politik, kiai politisi ini hanya dimintai mengajar satu bulan sekali sebagai dosen tamu.

Sedikit demi sedikit, Gus Yus pun membangun "pondasi" pondoknya. Santri santrinya pun dari tahun ke tahun, kian banyak. Tidak hanya dari Jember, tapi juga dari luar kota suwar-suwir tersebut. Karena maksud memodernisasi pondok, Gus Yus akhirnya juga mendirikan sekolah umurn seperti TK, SD, SMP Plus, SMA Unggulan, MA /MAK dan lain lain. Kendati demikian, aura salaf pondok pesantren Darus Sholah tetap dipertahankan. Nampaknya, Gus Yus hendak menerapkan kaidah :"al muhafadlah alal qadi mi as shalih wal akh dzu bil jadidi ashlah". Meneruskan tradisi salaf yang baik, tapi juga mengambil nilai modem yang baik.

Selain itu, kiai yang juga politisi ini membangun masjid megah yang rencananya dijadikan Islamic Centre. Mungkin, benar juga kata Kiai As'ad pada Gus Yus, ketika bertiga: beliau, Gus Nadzir dan KH Hasan Bash pada 10 Ramadlan tahun 1990, secara khusus dipanggil oleh kiai kharismatik asal Situbondo tersebut. "Raje pondukke sampean (akan besar pondok anda)", tukas kiai As'ad sambil menepuk dada Gus Yus yang berada di sebelahnya. Nampaknya, ramalan kiai sepuh ini benar-benar menjadi kenyataan. Setapak demi setapak, Darus Sholah semakin ditata dengan baik. Santri santrinya juga semakin meluber. Sungguh, prestasi yang luar biasa. Dalam usia yang belia, pesantren baru ini cukup dikatakan maju dan besar.

Gus Yus berharap, pesantrennya akan menjadi mandiri. Mandiri, dalam arti kata, segala sesuatu yang berjalan di pesantren, lebih karena sistem yang berjalan. Memang, banyak orang cukup risau, siapa yang nanti menggantikan Gus Yus, jika sewaktu-waktu beliau tidak ada. Karena, pengaruh kiai muda ini sangatlah menentukan. Tapi, kerisauan ini sendiri sudah dijawab.Setelah ditinggalkan Gus Yus kegiatan Darus Sholah tidak terganggu dan tidak terbengkalai,hal ini dikarenakan Gus Yus telah meletakkan dasar-dasar manajemen pondok yang profesional. Segalanya berjalan apa adanya sesuai dengan sistem yang berlaku, dan bahkan Darus Sholah tambah menjelma menjadi pondok yang sangat diminati oleh masyarakat, hal ini dibuktikan dengan semakin bertambah banyak santri yang mondok dipesantren ini, bahkan Darus Sholah kekurangan gedung (Ruang sekolah dan asrama) untuk menampung santri yang semakin membeludak.

Hanya saja, banyak obsesi beliau yang belum selesai. Pertama, keinginan Gus Yus mendirikan Perguruan Tinggi yang bersifat kejuruan di pesantren. Seperti Akademi Perawat, Fakultas Kedokteran dan lain lain.

Kedua, membangun studio radio yang dapat menjadi media dakwah ke masyarakat. Ini mengingatkan kita, tatkala beliau aktif menjadi penyiar radio di masa remaja. Dan ketiga, meneruskan pembangunan masjid yang beliau cita-citakan bakal menjadi Islamic Centre, yang hingga kini baru 75 persen. Inilah tugas kolektif yang bakal dipikul, baik oleh Gus Nadzir, selaku penerus/pengasuh Darus Sholah, ataupun perangkat sistemik Darus Sholah yang lain seperti guru, ustadz dan lain sebagainya. (Sumber: Gus Yus Dari Pesantren Ke Senayan)

Pondok Pesantren Raudlotul Qur’an


PDFCetak
Selasa, 05 Mei 2009
Image

Pondok Terpencil Dengan Prestasi Nasional
Di lereng gunung Salak dan Gunung Gedhe, suasana pedesaan yang kental, jauh dari keramaian kota tanpa polusi udara maupun polusi suara, tepatnya di kampung Padurenan, desa Ciburayut, kecamatan Cigombong, kabupaten Bogor, Jawa Barat, akan kita temukan keasyikan sekelompok santri usia 15-30 tahunan, asyik bertadarus al-Qur’an tanpa melihat mushaf. Setelah dekat dan berkumpul dengan mereka yang sedang bertadarusb al-Qur’an itu kita akan mengetahui ternyata mereka adalah para santri hufadz dari salah satu pesantren yang ada di negeri ini. Pondok Pesantren Raudlotul Qur’an(PPRQ). Nama itu diberikan oleh hadlorotussyaikh KH. Mufid Mas’ud (Pendiri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta, untuk pesantren yang diasuh oleh HM. Farhan Usman, dengan program tahasus li tahfidzil Qur’an (Program pokoknya menghafal al-Qur’an).

Meski berada di daerah yang terpencil. Kita akan merasa takjub kala melihat prestasi yang telah diukir oleh PPRQ diusianya yang menginjak tahun ke-23 ini, mereka telah menorehkan berbagai prestasi di tingkat Kabupaten, Propinsi, bahkan Nasional cabang tahfidz (hafalan al-Qur’an) maupun tafsir al-Qur’an bahasa Arab maupun bahasa Inggris.

Keberadaan PPRQ tak bisa lepas dari Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta (PPSPA). Selain pengasuhnya HM. Farhan Usman adalah salah satu alumni PPSPA, beliau juga utusan KH. Mufid Mas’ud (Pendiri PPSPA) untuk menjadi ustadz di Bogor demi pengembangan Islam dan lebih khusus pengembangan penghafalan al-Qur’an.

Kawah candra dimuka bagi calon Hafidz dan Hafidzoh
Memasuki kota Bogor bagi orang luar kota tentu akan bingung mencari PPRQ, sebab memang PPRQ terletak di lereng gunung Salak dan gunung Gedhe dengan udara yang masih sangat sejuk jauh dari kebisingan kendaraan bermotor maupun pengapnya cerobong pabrik dan knapot kendaraan bermotor. KAlau kita ingin sampai ke PPRQ dari kota Bogor kita dengan kendaraan umum kita harus mencari kendaraan Jurusan Cicurug atau Sukabumi. Ketika sampai di stasiun Cigombong kita (dari kota Bogor setelah Lido, masuk kurang lebih 5 kilo meter lagi (bila kita menumpang kendaraan umum dari sini kita bisa langsung naik ojek dan tukang ojek sudah mengenal PPRQ), dari jalan Raya Bogor –Sukabumi pertigaan stasiun Cigombong sampai di Kampung Paduren, Kelurahan Ciburayut, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor jalan sudah diaspal oleh pemda. Sampai di PPRQ kita akan takjub dengan bangunan yang mirip dengan villa dengan pemandangan yang mengasikkan.

Penduduk kampung Padurenan sebagian besar adalah petani tradisioanal. Daerah Padurenan merupakan daeerah yang subur. Seperti pada umumnya masyarakat pedesaan yang masih sederhana, masyarakat PPRQ demikian juga keadaannya. Namun untuk masalah kehidupan beragama mereka sangat religious, bahkan cenderung fanatic. Sebagai contoh sekitar tahun 1987 masyarakat yang mempunyai radio bisa dihitung dengan jari tangan, sampai sekarangpun masjid-masjid di sekitar PPRQ belum mau menggunakan pengeras suara, bukan karena tidak mampu membeli, namun mereka masih berpegang bahwa di masjid tidak boleh ada pengeras suara.

Keadaan masyarakat yang demikian sangat mendukung keberadaan PPRQ yang merupakan ajang penggemblengan santri mutahafidziin (penghafal al-Qur’an) yang butuh ketenangan.

Mengapa harus ke daerah terpencil

Tuhun 1986 ada seorang aghniya’ (orang yang mempuyai kelebihan harta) dan ulam dari Jakarta yang mempunyai perkebunan jeruk datang menghadap KHM. Mufid Mas’ud di PPSPA Yogyakarta. Dan salah satu pembicaraan dan keinginan dari pemilik perkebunan itu adalah menjadikan perkebunannya sebagi perkebunan yang dapat bermanfaat dunia dan akhirat. Pemilik perkebunan menginginkan di kebun iitu didirikan pesantren. Pada prinsipnya Hadlorotussyaikh KHM. Mufid Mas’ud sangat setuju dengan keinginan tersebut.

Tak lama setelah pembicaraan itu, Hadlorotussyaikh KHM. Mufid Mas’ud observasi langsung ke Bogor untuk melihat lahan perkebunan yang dijanjikan itu. Hasil dari observasi dan mengadakan pertimbangan-pertimbangan baik dari segi dhohiriyah maupun bathiniyah, maka Hadlorotussyaikh KHM. Mufid Mas’ud memanggil salah satu santrinya yang bernama Muhammad Farhan diberikan kepercayaan dan tugas untuk menjadi salah satu calon yang akan mengisi jabatan pengasuh di Pesantren Bogor itu. Setengah tidak percaya Muhammad Farhan-pun hanya bisa sami’na wa atho’na dengan perintah Hadlorotussyaikh KH M. Mufid Mas’ud.

Tepat pada tangga 20 Agustus 1985 berangkatlah Muhammad Farhan bersama 1 orang santri yang telah selesai menghafal al-Qur’an (Mudzakir Lampung), 1 orang santri yang telah menghafal sebanyak 17 Juz H. Zahri Bantul), 1 santri yang baru menghafal dan memiliki basis pendidikan kitab (Mu’alim Sleman) serta 30 santri yang baru mengenal pesantren. Diantar oleh almarhum bapak Sayid Usman (orang tua dari Muhammad Farhan), menumpang kereta api dari Jogjakarta, turun di stasiun Janinegara (Jakarta) singgah di rumah bapak H. Muhammad Dahlan (pemilik perkebunan), H. Muhammad Dahlan berdomisili di Pasar Jum’at Jakarta Selatan.

Setelah istirahat yang cukup, rombongan Ustadz Farhan diantar ke Bogor menuju tempat yang dijanjikan untuk mendirikan pesantren. Sejak saat itulah kegiatan belajar mengajar al-Qur’an yang diasuh oleh Ustadz Farhan dimulai.

Kurang lebih 9 tahun di PP Asmau’ Husna atas kemurahan Allah melalui hamba-Nya, Muhammad Farhan diberi kepercayaan untuk membeli sebidang tanah demi kemaslahatan ummat. Dari modal sebidang tanah, disertai do’a dari para orang tua dan guru-guru HM. Farhan Usman itu akhirnya bisa berdiri musholla, Asrama Putra, asrama Putri, dan madrasah/aula. Dan ustadz Farhan pun mendirikan pesantren sendiri. Atas anjuran Hadlorotussyaikh KH. Mufid Mas’ud, pesantren baru itu diberi nama PONDOK PESANTREN RAUDLOTUL QUR’AN (PPRQ)

Sistem pendidikan di PPRQ sama dengan sistem pendidikan yang ada di pondok-pondok takhasus menghafal al-Qur’an. Namun Ustadz Farhan lebih menekankan pada rasa tanggung jawab pada setiap individu. Contohnya santri boleh saja tidak mengaji tetapi harus tetap berani untuk disimak setiap saat.

Setiap jam 07.00 sampai dengan Dhuhur, santri diwajibkan masuk madrasah dengan diisi kajian-kajian kitab yang mendukung santri menjalankan syari’at Islam, seperti kitab Fiqih, kitab tauhid, kitab akhlaq, dan tentu saja kitab tafsir.

Pesantren Terpencil Dengan Segudang Prestasi
Musabaqoh Tiwatil Qur’an (MTQ) maupun Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ), merupakan salah stu ajang untuk syi’ar al-Qur’an. HM. Farhan Usman sebagai pengasuh PPRQ merasakan seandainya hanya mengandalkan pesantren yang berada di daerah yang terpencil, tentu kumandang al-Qur’an tidak akan bisa terdengar oleh masyarakat luas. Maka berbekal pengalaman dan arahan KH. Mu’tasjimbillah, SQ. MPd.I (Pengasuh PP. Sunan Pandanaran Yogyakarta pengganti Hadlorotussyaikh KH. Mufid Mas’ud), yang pernah menjadi juara STQ Nasional bahkan masuk rangking 10 besar tingkat internasional bidang tafsir al-Qur’an, KH. Farhan pun mengikuti jejak itu. Dengan restu dari Hadlorotussyaikh KH. Mufid Mas’ud, pada tahun 1990 KH. Farhan mengikuti STQ Nasional di Jakarta di bidang Mufasir bahasa Arab dan mendapatkan rangking II. Pada tahun berikutnya 1991 mengikuti lagi STQ tingkat Nasional di Palangkaraya dan mendapat rangking ke II dalam bidang Mufasir Bahasa Arab.

Berbekal pengalamanya mengikuti STQ Nasiional itu, KH. Farhan Usman mulai mengutus santrinya untuk mengikuti MTQ maupun STQ dari tingkat Kabupaten, Propinsi bahkan masuk ke tingkat Nasional, prestasi yang menakjubkanpun diperolehnya. Pada tahun 1994, Hj. Dewi Nur Atiqoh menjdi Juara III MTQ Nasional di Pekan Baru bidang Mufasiroh bahasa Arab. Tahun 1995, lagi-lagi Hj. Dewi Nur Atiqoh diberi

kesempatan untuk menjadi juara I STQ nasional di Palu Sulawesi bidang mufasiroh bahasa Arab. Tahun 1997, H. Musta’in mendapatkan juara I STQ Nasional di Ambon bidang Mufasir bahasa Arab. Tahun 2001, Iffah Fitriyah, Juara Harapan III STQ di Jakarta bidang Mufasiroh bahasa Arab. Tahun 2003, Ade Zaenal Muttaqin, Juara I MTQ Nasional di Mataram, bidang MHQ 10 Juz. Pada tahun 2006, Taufiq Baihaqi Marfa’ung, Juara I MTQ Nasional bidang Mufasir bahasa Inggris.H Ade zainal Muttaqin juara II MTQ Nasional di Banten bidang MHQ 20 juz putra tahun 2008. Pada tahun yang sama Yayat Sukriyati menjadi juara I MTQ Nasional di Banten bidang MHQ 20 juz putri.

“Kita mengikuti musabaqoh dengan tujuan menjadi yang terbaik. Terbaik di Mata Allah dan di mata manusia,” begitu pesan Hadlorotussyaikh KH. Mufid Mas’ud kepada KH. Farhanh ketika pertama kali meminta izin untuk mengikuti MTQ maupun STQ. Dan pesan itu akan selalu disampaikan KH. Farhan kepada santrinya yang akan mengikuti STQ maupun MTQ.

“Semua itu berkah kemurahan Allah dan berkah do’a para guru kami, lebih khusus lagi do’a dari Hadlorotussyaikh KH. Mufid Mas’ud”, tutur KH. Farhan Usman menutup perbincangan dengan penulis. (M. Maqshudi_pprq-bogor.xanga.com/weblog)

Pondok Buntet Pesantren


PDFCetak
Kamis, 30 April 2009
Image

Buntet Pesantren adalah nama sebuah Pondok Pesantren yang umurnya cukup tua. Berdiri sejak abad ke 18 tepatnya tahun 1785. Menurut catatan sejarah seperti yang tertulis dalam buku Sejarah Pondok Buntet Pesantren karya H. Amak Abkari, bahwa tokoh Ulama yang pertama kali mendirikan Pesantren ini adalah seorang Mufti Besar Kesultanan Cirebon bernama Kyai Haji Muqoyyim (Mbah Muqoyyim).

Bermula karena beliau memiliki sikap non-kooperatif terhadap penjajah Belanda waktu itu, sehingga lebih kerasan (betah) tinggal dan mengajar di tengah masyarakat ketimbang di Istana Kesultanan Cirebon. Rupanya, setelah merasa cocok bertempat tinggal di perkampungan dan memberikan dakwah keagamaan, akhirnya beliau mendirikan sebuah pondok pesantren yang cukup terekenal bernama PONDOK BUNTET PESANTREN.

Masih menurut catatan sejarah, tempat yang pertama kali dijadikan sebagai pondok pesantren Buntet, letaknya di Desa Bulak kurang lebih 1/2 km dari perkampungan Pesantren yang sekarang. Sebagai buktinya di Desa Bulak tersebut terdapat peninggalan Mbah Muqoyyim berupa makan santri yang sampai sekarang masih utuh.

Letak Pesantren
Di tempat yang sekarang ini berada, pesantren ini posisinya ada di antara dua Desa: +80% Pesantren ini menjadi wilayah administratif Desa Mertapada Kulon dan sisanya bagian Barat milik Desa Munjul. Pesantren ini sendiri bukanlah nama Desa, melainkan hanya tempat/padepokan santri. Namun seiring dengan perkembangan zaman, dari ratusan tahun yang lalu, penduduk pesantren ini makin lama makin berkembang. Kepadatannya cukup besar.

Pesantren ini mirip sebuah desa. Justeru bila mencari Pondok Pesantren Buntet di Desa Buntet, yang letaknya bersebelahan, tidak akan ketemu, sebab letak pesantren ini di antara Desa Mertapada dan Munjul. Sebelah Utara Pesantren ini dibatasi oleh Buntet Desa; sebelah Timur Desa Mertapada (LPI); Sebelah Selatannya adalah Desa Kiliyem dan sebelah Barat adalah Desa Munjul.

Masyarakat Penghuni Pesantren
Berbeda dengan Pondok Pesantren lain, keberadaan Pesantren Buntet ini cukup unik karena komunitasnya yang homogen; antara santri dan penduduk asli pesantren ini sulit dibedakan, terutama bila dipandang oleh orang lain. Orang yang mengenal Buntet sebagai sebuah pesantren, ketika bertemu dengan salah seorang lulusan pesantren ini, dianggapnya sebagai santri sehingga kesan yang timbul adalah berdekatan dengan ilmu keagamaan dan ubudiah. Karena memang tidak bisa dipungkiri, baik penduduk asli pesantren ini ataupun santri, keberadaan sehari-hari, tidak lepas dari aktivitas nyantri(mengaji).

Setidaknya ada tiga jenis masyarakat penghuni pesantren: Pertama, masyarakat keturunan kyai. Dari catatan silsilah keturunan Kyai Buntet, hampir seluruh Kyai di Pesantren ini adalah anak cucu dari keturunan Syarif Hidayatullah, salah seorang anggota Walisongo. Kedua, Masyarakat biasa. Asal mula mereka adalah para santri atau teman-teman Kyai yang sengaja diundang untuk menetap di Buntet.

Mereka memiliki hubungan yang cukup erat bahkan saling menguntungkan (mutualism). Awalnya mereka menjadi khodim (asisten) atau teman-teman Kyai kemudian karena merasa betah akhirnya menikah dan menetap di Buntet Pesantren hingga sekarang. Penduduk Buntet Pesantren yang bukan dari turunan Kyai ini dulunya dikenal dengan istilah masyarakat Magersari. Ketiga, masyarakat santri. Merekalah yang membesarkan nama baik Buntet Pesantren.

Sebab namanya juga perkampungan santri, aktivitas sehari-hari diramaikan oleh hingar-bingar pelajar yang menuntut ilmu; siang para santri disibukkan dengan belajar di sekolah formal, dan malam harinya belajar kitab atau diskusi tentang agama di masing-masing kyai sesuai kapasitas ilmunya.

Sesepuh Buntet Pesantren
Dalam perkembangan selanjutnya, kepemimpinan Pondok Buntet Pesantren dipimpin oleh seorang Kyai yang seolah-olah membawahi kyai-kyai lainnya yang memimpin masing-masing asrama (pondokan). Segala urusan ke luar diserahkan kepada sesepuh ini.

Lebih jelasnya periodisasi kepemimpinan Kyai Sepuh ini berturut-turut hingga sekarang dipimpin oleh Kyai yang dikenal Khos yaitu KH. Abdullah Abbas (kini Almarhum), dan digantikan oleh KH. Nahduddin Abbas. Nama-nama Kyai yang dituakan dalam mengurus Pondok BuntetPesantren secara turun-termurun adalah sebagai berikut:

1. KH. Muta’ad (Periode pertama)
2. KH. Abdul Jamil
3. KH. Abbas
4. KH. Mustahdi Abbas
5. KH. Mustamid Abbas
6. KH. Abdullah Abbas
7. KH. Nahduddin Abbas (hingga sekarang)

Seiring dengan perkembangan zaman, Pondok Buntet Pesantren dengan segala potensi yang dimiliki berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan dengan memadukan antara Sistem Salafi dan Sistem Kholafi. Sistem salafi adalah metode belajar dengan berpedoman kepada literatur para ilmuwan Muslim masa lalu, sedangkan sistemkhalaf mengacu kepada pendidikan modern dengan kurikulum dan sistem pendidikan yang diterapkannya.

Untuk lebih mengoptimalkan ikhtiar tersebut, maka dibentuklah sebuah Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Pondok Buntet Pesantren Cirebon. Salah satu tugasnya adalah mengelola dan menyelenggarakan pendidikan formal dan non formal.

Sebab salah satu sistem yang dibangun di pesantren ini adalah bagi santri yang mondok di Buntet Pesantren diharuskan menyelesaikan pendidikan formal sebagai amanat UU Pendidikan Nasional, sesuai dengan usia pendidikannya. Mereka harus mengikuti jenjang pendidikan formal seperti SD, SLTP, SLTA hingga Universitas jika mampu. Selain itu mereka pun diwajibkan mengikuti pendidikan non formal (dirosah diniyyah) yang digelar di masing-masing asrama, atau mengikuti pendidikan khsusus yang diadakan oleh kyai-kyai sesuai spesialisasi ilmunya.

Para Almarhumin Kyai
Berturut-turut nama-nama di bawah ini adalah para kyai yang telah berkiprah lama mengurus Pondok Buntet Pesantren. Salah satu jasa beliau adalah mempertahankan sekaligus memajukan sistem pendidikan pesantren bagi generasi muda Indonesia. Para lulusan Buntet sangat kenal sekali dengan mereka. Karena itu sepantasnya untuk mengenang jasa-jasa beliau maka di bawah ini adalah nama-nama almarhumin(pendahulu) yang bisa dipelajari bagaimana riwayat kehidupannya;

KH. Abdul DJamil
KH. Ahmad Zahid KH. Busyrol Karim
KH. Abbas KH. Khowi KH. Akyas Abdul Jamil
KH. Ilyas KH. Mustahdi Abbas KH. Arsyad
KH. Anas KH. Mustamid Abbas KH. Izuddin Zahid
KH. Yusuf KH. Zen KH. Nasiruddin Zahid
KH. Khamim KH. Murtadho KH. Anwaruddin Zahid
KH. Hisyam Mansyur KH. Chowas Nuruddin KH. Fuad Hasyim
KH. Fuad Zen KH. Nu’man Zen KH. Fahim Khowi
KH. Fakhruddin

Pondok Pesantren Al Istiqomah


PDFCetak
Selasa, 21 April 2009
Image

A. Sejarah Perkembangan
Pondok Pesantren Al Istiqomah, terletak di Desa Tanjungsari Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen Propinsi Jawa Tengah. Adalah KH. Abdullah Mukti merupakan awal mula perintis berdirinya Pondok Pesantren Al Istiqomah, setelah lama bermukim dan belajar ilmu agama di Makkah tahun 1912-1936 M dan berguru pada Syeh Abdurrohman di Makkah.

KH. Abdullah Mukti sekembali dari Makkah pada tahun 1936, di kampung halamannya desa Tanjungsari, mengembangkan ilmunya dengan mendirikan majlis ta’lim dan tharekat Qodiriyah Naqsabandiyah. Dan dalam perkembangannya tharekat Qodiriyah Naqsabandiyah ini jama'ahnya semakin banyak dan pesat. Para jama’ah tharekat Qodiriyah Naqsabandiyah ini berdatangan dari sekitar Desa Tanjungsari, dan kemudian kegiatan tharekat ini dipusatkan disebuah masjid yaitu masjid Al Istiqomah sebagai tempat para jama’ah tharekat Qodiriyah Naqsabandiyah ini melakukan suluk dan bai’atlangsung kepada KH. Abdullah Mukti yang sebagai mursyidnya.

Setelah 24 tahun mengamalkan ilmu dan mengabdikan diri kepada masyarakat di kampung halamannya, KH. Adullah Mukti wafat tahun 1958. Sepeninggal KH. Abdullah Mukti kegiatan dan kepemimpinan diteruskan oleh KH. Bajuri, akan tetapi dalam masa kepemimpinan KH. Bajuri kurang berjalan dengan baik. Sehingga jama’ah tharekat Qodiriyah Naqsabandiyah ini pindah ke Jetis Kutosari, tharekat yang diasuh dan dipimpin oleh KH. Mahfud Khasbullah dan sebagian lagi pindah ke Karanganyar, dengan mengikuti tharekat yang diasuh dan dipimpin oleh KH. Umar Nasir.

Kegiatan pesantren mulai nampak kembali pada tahun 1975, disaat KH Amin Rosyid Putra sulung dari KH Bajuri pulang dari menimba ilmu dan mukim di tanah kelahirannya yakni desa Tanjungsari, mulailah ia merintis kembali apa yang pernah dilakukan oleh kakeknya KH. Abdullah Mukti, yaitu dengan merintis majlis ta’lim mingguan disamping juga mengajar anak-anak santri masjid Al Istiqomah. Pada tahun 1982 KH. Amin Roysid mulai mendirikan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) Al Istiqomah, dengan sistem belajar cepat bisa membaca dan menulis Al Qur’an, pada periode tahun inilah mulai dibangun asrama untuk para santri yang kemudian diganti dari Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) menjadi Pondok Pesantren Al Istiqomah. Dalam perkembangannya Pondok Pesantren Al Istiqomah juga mendirikan Madrasah Diniyah yang terdiri dari tiga tingkat yaitu tingkatawwaliyah, tingkat wustha, dan tingkat ‘ulya.

Pada pertengahan tahun 1990-an, Pondok Pesantren Al Istiqomah mulai menata struktur pendidikannya, yakni dengan melegalisasikan kegiatan pesantren baik di bidang pendidikan, keagamaan, sosial, kemasyarakatan, dan dunia usaha yang berbadan hukum yamg masuk dalam sebuah institusi Yayasan. Yayasan yang disponsori atau didirikan oleh pengasuh pondok bernama Yayasan Pendidikan Al Istiqomah Karya Guna (YAPIKA). Yayasan “YAPIKA” ini menaungi kegiatan Pendidikan formal yakni Madrasah Aliyah YAPIKA yang berdiri sejak tahun 1999, pendidikan non formal Madrasah Diniyah yang berdiri tahun 1982

Pondok Pesantren Al Istiqomah yang terletak di desa Tanjungsari Petanahan Kebumen Jawa Tengah, saat ini diasuh oleh K.H. Amien Rosyid, dan telah banyak mengalami perkembangan. Baik di bidang sarana fisik maupun sistem belajar-mengajarnya. Sampai saat ini, jumlah santrinya kurang lebih 250 orang, putra-putri, 60% santri adalah pelajar Madrasah Aliyah (MA), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Ibtidaiyah (MI). Beberapa diantaranya mengambil kuliah di Sekolah Tinggi Nahdlatul Ulama (STAINU) Kebumen, dan selebihnya adalah santri Takhasus (Madrasah Diniyah). Dalam perkembangannya, Pesantren yang mendapatkan Nomer Statistik Pondok Pesantren (NSPP); 512330504003, dari Departemen Agama Kabupaten Kebumen ini pola dan sistem pendidikan yang digunakannya menitikberatkan pada kegiatan di Madrasah Diniyah serta kepesantrenan salafiyah (nonformal) dan Madrasah Aliyah (formal).

Faisilitas Pondok Pesantren Al Istiqomah yang ada saat ini antara lain mempunyai dua lokal gedung asrama putra, yang masing-masing mempunyai 3 kamar. Dan asrama putri satu lokal dengan 5 buah kamar, dilengkapi dengan kamar mandi serta WC putra dan putri.

Sarana lainnya adalah Masjid, Perpustakaan, Koperasi Santri, Aula, Gedung Madrasah Aliyah dan Diniyah, Bengkel Motor dan Mobil, Laboratorium Komputer, Sarana Olahraga, dan lain-lain.

B. Dasar dan Tujuan Pondok Pesantren Al-Istiqomah
Pondok Pesantren Al Istioqomah merupakan lembaga sosial keagamaan yang keberadaannya telah diakui sebagai salah salah satu lembaga pendidikan yang lebih menekankan pada bidang kajian tafaqquh fiddin serta sebagai wahana pencetak generasi-generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa dan pembangunan nasional yang ber-akhlakul karimah.

Adapun dasar didirikannya pendidikan Pondok Pesantren Al Istiqomah yaitu: amar ma’ruf nahi munkar, kesadaran untuk mengamalkan nilai-nilai agama, kesederhanaan, ketaqwaan dan sikap saling tolong menolong sesama manusia serta menjaga citra hubungan antara manusia dengan makhluk lain dan hubungan manusia dengan Khaliq.

Pendidikan di pesantren ini dikandung maksud ingin mencetak generasi muslim yang bertaqwa, berilmu pengetahuan yang tinggi dan berakhlakul karimah. Hal ini dapat diuraikan lebih rinci sebagai berikut:
1.
Membentuk dan mencetak serta mengembangkan generasi islam yang beriman
dan bertaqwa kepada Alloh SWT, berilmu, tangguh, trampil, mandiri dan berakhlak mulia.
2.Memberdayakan dan mengembangkan SDM dibidang keagamaan, pendidikan,
kebudayaan dan IPTEK.
3.Mensyi’arkan dan menegakkan ajaran Islam dengan bermadzhab Ahlusunnah wal
Jamaah.

Tercapainya tujuan pendidikan dan pembinaan Pondok Pesantren Al Istiqomah tersebut dapat terlihat pada pola dan tingkah laku santri selama berada di lingkungan Pondok Pesantren serta pada semangat dan motivasi dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat.


C. Elemen-Elemen Pesantren Al Istiqamah
Di antara elemen-elemen Pondok Pesantren Al Istiqomah adalah sebagai berikut:

1. Pengurus Pondok Pesantren Al Istiqomah
Susunan kepengurusan Pondok Pesantren Al Istiqomah masa hidmat tahun 2008- 2012;
Pelindung :
KH. Amin Rosyid (Pengasuh)
Penasehat
: H. Ali Muin Amnur, Lc
: Ali Muhdi M.S.I.
Ketua
: Edi Ahyani, S.Pd.I
Sekretaris
: Khamidah
Bendahara
: Ikhwanudin
Seksi Pendidikan : Ali Ashar
Seksi Keamanan
: M. Asmakin Nurrohman
Seksi Kebersihan
: M. Khasbulloh
Seksi Sarana & prasana
: Hasan Basori
Seksi Humas
: M. Heri Mu’arif

Dalam setiap kegiatan yang sifatnya harian, mingguan dan bulanan maupun temporal para pengurus berperan aktif dalam mengkoordinasi kegiatan di lembaga pesantren sehingga kegiatan-kegiatan kepesantrenan dapat terlaksana dengan baik, dalam kepengurusan Pondok Pesantren Al Istiqomah dilakukan rapat-rapat koordinasi paling sedikit satu kali dalam sebulan, dengan maksud untuk selalu dapat mengevaluasi kegiatan-kegiatan pesantren dan juga untuk memperbaiki kinerja pengurus.

Kepada para santri diberikan beberapa kegiatan tambahan yang sifatnya pengembangan bakat dan minat santri, seperti Khitobah (latihan pidato), Hadrah, Barzanji, Kursus Bahasa Arab dan Inggris, Seni Kaligrasi, Seni Baca Al-Qur’an, Kursus komputer, dan Perbengkelan.

2. Madrasah Diniyah
Secara umum kegiatan-kegiatan Pondok Pesantren Al Istiqomah terbagi menjadi dua yaitu Madrasah Dinniyah (intrakulikuler) dan Kepesantrenan (Ekstrakurikuler). Kegiatan Madrasah Diniyah Al-Istiqomah yang dikepalai oleh Ali Ashar S.Th.I ini mengacu pada kurikulum yang dibuat oleh pesantren sendiri. Khusus untuk kelas Awwaliyah ditambah dengan kurikulum Madin dari Departemen Agama RI. Materi Intrakulikuler diniyah merupakan kegiatan inti atau Ruuhul Ma’had di pesantern ini. Madrasah Diniyah Al Istiqomah yang telah mendapatkan Nomor Statistik Madrasah Diniyah (NSMD); 412330504001 ini melaksanakan kegiatan belajar-mengajar yang terbagi menjadi tiga tingkatan; Awwaliyah, Wustho, dan Ulya. Jam kegiatan dilaksanakan setiap sore jam 14.00-15.00 WIB (ba’da shalat ‘Ashar) dan malam jam 18.30-19.30 WIB (ba’da shalat Maghrib), Kecuali malam jum’at dan hari jum’at.

Sedangkan untuk kegiatan belajar kepesantrenan (ektrakurikulur) menggunakan metode bandongan, dilaksanakan setiap ba’da subuh. Khusus untuk putra bertempat dimasjid, sedangkan untuk yang santri putri bertempat di ndalem (rumah) Kyai, kegiatan ini selesai jam 06.00 WIB pagi.

Kegiatan pesantren al-Istiqomah lain yang penting adalah tahfidz al-Qur’an (menghafal al-Qur’an). Kegiatan mengaji dan menghafal kitab al-Qur’an ini berlangsung di pesantren putri, yang diasuh oleh Ibu Ana Nur Latifah, S.Ag, Ibu Nur Istiqomah, S.Pd.I, dan Ibu Hanik Rahmawati, S.Ag. Semua santri putri diwajibkan mengikuti program tahfidz al-Qur’an minimal juz 30 (juz amma), sedangkan bagi yang ingin melanjutkan ke programtahfidz secara penuh (30 juz), maka diberikan kesempatan untuk menempuhnya.

Dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar, disamping ada pengasuh (Kyai dan Nyai) juga dibantu oleh beberapa ustadz dan ustadzah yang sebagian besar merupakan alumni dari berbagai Pondok Pesantren yang berlatar belakang akademisi

Ustadz-Ustadzah atau Tenaga Pendidik di Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Al Istiqomah antara lain:
• KH Amien Rosyid
• Hj. Marti Nuryati
• H. Ali Mu’in Amnur, Lc.
• Ahmad Mufid, S.Ag.
• Hanik Rahmawati, S.Ag
• Ana Nur Latifah, S.Ag.
• Ali Muhdi, M.S.I
• Ali Ashar, S.Th.I
• Ali Iqbal, S.Pd.I
• M. Karim
• Nur Istiqomah, S.Pd.I
• Edi Ahyani S.Pd.I
• Asmakin, S.Pd.I

Madrasah Diniyah saat ini memiliki siswa kurang lebih 220 santri (kelas Awwaliyah 150 santri; kelas Wustho: 50 santri; kelas Ulya 20, dan di dalamnya terdapat 3 tingkatan, dengan masa pendidikan 3 tahun untuk kelas Awwaliyah, 2 tahun untuk kelas wusthodan 2 tahun untuk kelas ‘ulya.

3. Madrasah Aliyah
Madrasah Aliyah yang berdiri dalam rangka merespon keinginan masyarakat sekitar untuk meningkatkan taraf pendidikan yang masih rendah ini telah memulai kegiatan belajar mengajar sejak tahun 1999. namun baru mendapatkan legalitas formal dari pihak Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Jawa Tengah pada tahun 2005. Nomor Statistik Madrasah (NSM) MA YAPIKA yang tercatat dalam piagam pendirian adalah : 312330504477.

Madrasah Aliyah YAPIKA memiliki visi yang menjadi arah pandangan perjalanannya ke depan, yaitu: Mewujudkan generasai muslim yang berakhlak mulia, tangguh, dan cendekia.

Adapun misi Madrasah Aliyah YAPIKA ini adalah:
1. Mengembangkan pendidikan yang Islami berdasarkan kurikulum yang integral
dan kompetitif
2. Membentuk lulusan yang memiliki akidah kuat, bertaqwa, dan berakhlak mulia
3. Membentuk lulusan yang memiliki kemampuan intelektual, mental, spiritual, dan skill
yang mantap
4. Membentuk lulusan yang mampu mengamalkan ajaran Islam dan menyampaikannya
kepada keluarga dan masyarakatnya berdasarkan manhaj ahlussunnah wal jama’ah
5. Menyiapkan lulusan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Kurikulum yang digunakan oleh M.A. YAPIKA merupakan modifikasi perpaduan antara kurikulum Depag dan Pesantren.

Tenaga pengelola dan pengajar di M.A. YAPIKA adalah para profesional muda alumni perguruan tinggi seperti Universitas Al AZHAR Mesir, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Walisongo Semarang, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Gajah Mada (UGM), STAINU dan berbagai perguruan tinggi negeri/ swasta lainnya dengan latar belakang pondok pesantren. Madrasah yang dikepalai oleh H. Ali Muin Amnur Lc ini memiliki guru sebanyak 15 orang, dibantu oleh 3 wakil kepala madrasah dan 5 orang staf atau karyawan

Saat ini, Madrasah Aliyah YAPIKA memiliki siswa sebanyak 63 orang. Untuk tahun ajaran 2008/2009 ini telah menamatkan siswa sebanyak 5 angkatan. Usaha peningkatan kualitas Madrasah Diniyah dan Madrasah Aliyah tersebut belum dapat dimaksimalkan sebagaimana mestinya, dikarenakan proses belajar mengajar berlangsung di tempat, ruang dan sarana yang masih belum memadai.

4. Koperasi Pesantren
Kopontren al-Istiqomah telah berdiri sejak ditetapkan oleh Kepala Kantor Wilayah Departemen Koperasi dan PPK Propinsi Jawa Tengah atas nama Menteri Koperasi dan PPK pada tanggal 24 Desember 1993 dengan nomor: 12148/BH/VI, dengan nama lengkap Kopontren “Menara Biru” Pondok Pesantren Al-Istiqomah

Kopontren ini juga telah mengantongi Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dari Kantor Wilayah Departemen Perdagangan Propinsi Jawa Tengah atas nama Menteri Perdagangan pada tanggal 13 Oktober 1994, dengan nomor SIUP: 121/11.32/PK/X/1994.

Kegiatan Koperasi Pondok Pesantren (Kopontern) Al Istiqomah yang sudah berjalan saat ini adalah; unit pertokoan/ warung santri, usaha pertanian, usaha penanaman albasia, dan peternakan ayam

Pada mulanya pendirian koperasi ini secara formal dilakukan, karena adanya masukan dari beberapa kalangan seperti departemen koperasi & PPK dan Departemen perdagangan Kebumen. Namun begitu, sebelumnya kegiatan perekonomian di pesantren ini telah menggeliat secara perlahan-lahan secara alami. Ketua Kopontren Al-Istiqomah yang pertama adalah Drs. Sarmuji.

5. Alumni
Organisasi alumni Pondok Pesantren al-Istiqomah ini bernama KAI (Keluarga Alumni Al-Istiqomah). Saat ini jumlah alumninya sudah mencapai kurang lebih 500 santri yang tersebar di daerah Kebumen, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatra. Beberapa alumni ada yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi baik di dalam maupun luar negari, misalnya di IAIN Sunan Kalijaga Yogya, UGM, STAINU, Politeknik dan perguruan swasta lain. Ada pula yang di luar negeri, alumni yang diterima beasiswa dan sedang kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.

Alumni lainnya sudah banyak yang berhasil terjun memanfaatkan ilmunya di masyarakat, ada yang jadi petani, pedagang, peternak, pamong desa, guru swasta, PNS, dan ada yang jadi pengasuh pesantren.[aldi]

Alamat PP Al-Istiqomah: Tanjungsari Petanahan Kebumen Jawa Tengah, Kode Pos: 54382, Telp. 0287-5535810, 081802658344, 081328477506.