Jumat, Juni 14, 2024

"Menapak di Bawah Bayang-Bayang Buldozer: Ketabahan di Tengah Ambisi dan Dendam"

(Gambar Sekedar ilustrasi keadaan)

Hari itu cerah. Matahari memancarkan sinarnya yang hangat, menemani setiap langkahku di jalan yang sudah kulalui berkali-kali. Namun, sebuah pemandangan yang tak biasa menghentikan perjalananku. Di hadapanku, sebuah buldozer besar tengah meratakan tumpukan material di tepi jalan, menghalangi jalanku.


Aku berhenti sejenak, mengamati pemandangan itu. Suara gemuruh mesin yang menggerakkan buldozer terdengar begitu dominan, seolah-olah tidak ada yang bisa menghentikannya. Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya sebuah gangguan kecil dalam perjalanan mereka. Namun, bagi diriku, buldozer ini adalah sebuah gambaran nyata dari Seseorang yang semaunya sendiri. Mereka yang merasa memiliki kekuatan untuk menentukan arah dan nasib orang lain tanpa mempertimbangkan perasaan dan kepentingan mereka.


Pikiran ini membuatku teringat pada ungkapan lama, "Benar mukul, salah ya tetap mukul". Mereka yang berada di posisi atas, yang merasa memiliki kendali penuh, sering kali bertindak sewenang-wenang. Tak peduli benar atau salah, yang penting mereka tetap memukul, tetap mendikte arah hidup orang lain tanpa peduli pada kerusakan yang mereka sebabkan.


Namun, di tengah kerumitan ini, aku berusaha untuk tetap tabah. Aku tahu, segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari kudrat Illahi. Dengan segala kesulitan yang ada, aku mencoba untuk tetap berbaik sangka. Mungkin ini adalah ujian yang harus aku lewati, sebuah pelajaran hidup yang akan membuatku lebih kuat dan bijaksana di masa depan.


Hanya do'a dan pinta yang aku sandarkan pada Tuhan. Di setiap langkah yang terhenti, di setiap rintangan yang menghadang, aku selalu memohon petunjuk dan kekuatan dari-Nya. Aku yakin, di balik setiap kesulitan, pasti ada kemudahan yang telah Dia siapkan. Dan dengan keyakinan itu, aku melangkah kembali, mencari jalan lain yang mungkin lebih sulit namun tetap memberi harapan.


Perjalanan ini mungkin terhenti sementara, tetapi semangatku tidak pernah padam. Aku akan terus berjalan, dengan doa dan harapan yang selalu menyertai setiap langkahku. Sebab aku tahu, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya yang selalu berbaik sangka dan berserah diri pada-Nya.


Namun, kenyataannya tak semudah itu. Aku harus menanggung ambisi mereka dalam meraih kepuasan dan dendam pribadi. Seolah hidup ini adalah panggung sandiwara di mana aku menjadi tokoh figuran yang hanya mengisi latar, sementara mereka berperan sebagai pemeran utama yang menentukan segala alur cerita. Setiap keputusan yang mereka buat, setiap tindakan yang mereka ambil, semuanya dipenuhi oleh kepentingan dan ambisi pribadi.


Aku merasakan beban yang semakin berat di pundakku. Setiap hari terasa seperti pertempuran yang tak berkesudahan. Setiap langkah yang kuambil, selalu ada hambatan yang mereka ciptakan. Tapi, aku tak pernah berhenti berusaha. Dalam diam, aku berjuang. Dalam sepi, aku berdoa. Aku tahu, Tuhan selalu mendengarkan doaku, meski jawaban-Nya mungkin belum tiba.


Sering kali, aku merasa lelah. Tapi kemudian aku teringat akan nasihat bijak yang pernah kudengar, "Kesulitan adalah guru terbaik dalam hidup." Dan memang benar, dalam setiap kesulitan yang kuhadapi, selalu ada pelajaran berharga yang bisa kupetik. Mereka mungkin berpikir bahwa dengan menghancurkan jalanku, mereka bisa menghentikan langkahku. Tapi mereka lupa, aku punya kekuatan yang tak terlihat, kekuatan dari doa dan keyakinan.


Aku memilih untuk tidak membalas dendam atau menunjukkan kebencian. Bagiku, membalas dendam hanya akan menambah luka, bukan menyembuhkan. Sebaliknya, aku memutuskan untuk menghadapinya dengan ketabahan dan kesabaran. Setiap hari, aku belajar untuk menjadi lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih sabar. Aku percaya, Tuhan tidak pernah memberikan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya.


Hari-hariku mungkin penuh dengan tantangan dan rintangan, tapi aku yakin, di balik semua ini, ada rencana indah yang Tuhan siapkan untukku. Sebab Tuhan selalu punya cara untuk menggantikan setiap kesulitan dengan kemudahan, setiap air mata dengan senyuman, dan setiap perjuangan dengan kemenangan.


Dengan semangat yang tak pernah padam, aku melangkah maju. Meski buldozer itu terus beroperasi, meratakan segala yang ada di depannya, aku tetap berdiri teguh. Aku mencari jalan lain, menapaki jalur yang mungkin lebih sulit tapi penuh dengan harapan. Karena aku tahu, di setiap ujung jalan yang penuh rintangan, selalu ada cahaya terang yang menunggu.


Aku percaya, suatu hari nanti, mereka akan sadar bahwa kekuatan sejati bukanlah tentang menguasai orang lain, melainkan tentang menguasai diri sendiri. Dan pada saat itu, aku akan berdiri dengan bangga, mengetahui bahwa aku telah melewati semua ini dengan penuh ketabahan dan keikhlasan.

Rabu, Juni 12, 2024

Perjalanan Khidmah: Pembinaan Penyuluh Agama Islam di Kemenag Kabupaten Bojonegoro

 

Hari itu, Selasa, 11 Juni 2024, langit Bojonegoro tampak cerah, seolah menyambut langkah-langkah kecilku yang penuh harapan. Siang yang cerah membawa semangat baru, karena hari ini aku mendapatkan undangan penting. Sebagai seorang Penyuluh Agama Islam, aku diundang untuk menghadiri pembinaan di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro.


Sesampainya di sana, suasana gedung Kemenag sudah ramai. Wajah-wajah penuh semangat dan dedikasi terlihat di setiap sudut ruangan. Mereka, para penyuluh dari berbagai daerah, berkumpul untuk menimba ilmu dan mendapatkan arahan baru. Hari ini, kami semua akan belajar tentang komitmen dalam menjalankan amanah dan tanggung jawab yang telah dipercayakan kepada kami.


Acara dimulai dengan khidmat. Suara-suara penuh hormat dan doa menyelimuti ruangan. Dan di tengah suasana itu, aku mendapatkan kehormatan yang luar biasa. Panitia memintaku untuk memimpin doa dalam pembukaan acara. Dengan hati yang berdebar, aku melangkah ke depan, merasakan tanggung jawab yang besar namun penuh makna.


Bismillahirrahmanirrahim... "Ya Allah, Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Di Siang yang penuh berkah ini, kami berkumpul dalam niat yang tulus untuk menimba ilmu dan memperkuat komitmen kami sebagai penyuluh agama. Berikanlah kami petunjuk-Mu, agar setiap langkah yang kami ambil selalu berada di jalan-Mu. Limpahkanlah hikmah dan kebijaksanaan kepada kami, agar kami dapat menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Amin."


Doa itu terasa mengalir, menyentuh hati setiap orang yang hadir. Saat kembali ke tempat duduk, aku merasa lega dan bangga, namun lebih dari itu, ada rasa syukur yang dalam. Aku menyadari bahwa kesempatan untuk memimpin doa di hadapan para penyuluh lain adalah sebuah kehormatan dan sekaligus pengingat akan tanggung jawab yang besar.

Sepanjang sesi pembinaan, banyak hal dan pelajaran penting yang kudapatkan. Para pemateri dengan penuh antusias menjelaskan tentang pentingnya komitmen dalam menjalankan amanah. Kami diajarkan bagaimana menjadi penyuluh yang tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga mampu menginspirasi dan menjadi teladan bagi masyarakat.


Salah satu hal yang paling berkesan adalah ketika kami diajak merenungkan arti dari sebuah amanah. "Amanah bukan sekadar tugas," kata seorang pemateri dengan penuh wibawa. "Amanah adalah kepercayaan. Dan ketika seseorang mempercayakan sesuatu kepada kita, itu berarti mereka melihat nilai yang kita miliki. Jangan pernah mengkhianati kepercayaan itu."


Kata-kata itu menggema dalam pikiranku. Setiap tanggung jawab yang diemban adalah cerminan dari nilai dan komitmen kita sebagai individu. Sebagai penyuluh, kami tidak hanya bertanggung jawab kepada instansi atau masyarakat, tetapi juga kepada Allah, Sang Pemberi Amanah.


Hari itu berlalu dengan cepat, namun setiap momennya penuh dengan pelajaran berharga. Aku merasa semakin mantap dalam menjalankan peran sebagai penyuluh agama. Dengan ilmu dan pemahaman baru, aku siap untuk kembali ke lapangan dan memberikan yang terbaik.


Di akhir acara, ketika langit mulai berwarna jingga, aku melangkah keluar dari gedung Kemenag dengan hati yang penuh semangat. Pembinaan hari ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memperkuat komitmenku dalam menjalankan amanah dan tanggung jawab sebagai penyuluh agama Islam. Dengan doa dan harapan, aku siap melanjutkan perjalanan khidmah ini, demi kebaikan dan keberkahan bagi semua.


Hari ini adalah bukti bahwa dalam setiap langkah, ada pelajaran yang bisa diambil. Dan dengan bimbingan Allah, aku akan terus berusaha menjadi penyuluh yang amanah, menginspirasi, dan membawa kebaikan bagi masyarakat.

Selasa, Juni 11, 2024

Pilihan di Persimpangan Khidmah: Menjaga Marwah NUrani dan Amanat Kiyai atau Upeti dan Periuk Nasi

Pada hari itu, matahari bersinar terang, seakan menyambut perjalanan khidmah yang akan aku tempuh. Langit biru tanpa awan, memancarkan ketenangan yang menyejukkan hati. Aku melangkah dengan keyakinan penuh, menyadari bahwa hari ini adalah bagian dari pengabdian yang penuh makna. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik senyumku, ada gelombang kebimbangan yang menggulung di dalam dada.


Di sebuah sudut yang sunyi, aku dihadapkan pada sebuah pilihan yang tidak mudah. Seorang pria, dengan pakaian rapi dan senyuman yang terlalu lebar, menghampiriku. Di tangannya, ada sebuah amplop tebal yang berisi uang. "Ini upeti untukmu," katanya dengan nada yang lembut namun penuh arti. "Terima ini, dan lupakan kata hati nuranimu."


Jantungku berdegup kencang. Tawaran itu bukan sekadar uang, tetapi sebuah ujian besar bagi prinsip dan integritas. Aku bisa saja menerimanya, mengingkari nurani dan amanat Kiyai, namun ada suara lembut yang berbisik di dalam hati, mengingatkan akan nilai-nilai yang kupegang teguh.


Dalam benakku, terbayang wajah Kiyai yang penuh kebijaksanaan dan keteguhan. Amanat beliau adalah menjaga marwah dan kehormatan, tidak mudah tergoda oleh materi yang fana. Pilihan ini bukan sekadar tentang sesuap nasi, tetapi tentang mempertahankan nilai dan integritas.


"Dengan menerima ini, kamu bisa hidup lebih mudah," lanjut pria itu, mencoba menggoda. "Tapi dengan menolak, kamu mungkin akan kehilangan semuanya."


Aku menarik napas panjang, mencari ketenangan dalam keheningan. Dalam hatiku, aku berdoa, memohon petunjuk dari Allah. Alhamdulillah, hidayah itu datang. Seperti embun yang menyegarkan, keteguhan hati mengalir dalam diriku.


"Aku tidak bisa menerima ini," kataku dengan suara tegas. "NUrani dan amanat Kiyai adalah harga yang tidak bisa ditawar dengan uang. Aku lebih memilih berdiri tegak dengan prinsip, walau harus menanggung risiko kehilangan sesuap nasi."


Wajah pria itu berubah, dari senyum lebar menjadi kerut kebingungan. Dia tidak menyangka bahwa jawabanku sekuat itu. "Baiklah," katanya akhirnya, sambil menyimpan kembali amplopnya. "Kamu memilih jalan yang sulit, tapi aku menghormatimu."


Ketika pria itu pergi, aku merasa beban berat terangkat dari pundak. Ada kebahagiaan tersendiri dalam menolak tawaran yang menggiurkan demi menjaga marwah nurani dan amanat. Aku sadar, perjalanan khidmah ini tidak akan selalu mudah. Akan ada godaan dan ujian, tetapi dengan bimbingan Allah, aku yakin akan tetap istiqomah di jalan yang benar.


Hari itu, aku belajar bahwa integritas dan prinsip adalah pondasi yang harus dijaga. Meskipun godaan duniawi bisa datang dalam berbagai bentuk, nilai-nilai yang dipegang teguh adalah yang akan membawa kita kepada keberkahan sejati. Alhamdulillah, Allah masih membimbingku untuk tetap setia pada jalan pengabdian ini.


Di beberapa kesempatan, godaan dan rayuan untuk mengingkari nurani terus dihembuskan. Seperti angin yang tak terlihat namun terasa, mereka datang dalam berbagai bentuk, mencoba melemahkan keteguhan hati. Kadang berupa tawaran manis yang menggiurkan, kadang pula berupa kata-kata lembut yang merayu. Namun, aku terus bertahan, berpegang teguh pada prinsip yang telah ditanamkan oleh Kiyai.


Namun, ketika godaan tak berhasil, mereka mulai menggunakan tekanan. Ancaman dan Inciman (intimidasi) mulai diluncurkan sebagai amunisi untuk memudarkan ketulusan khidmah ini. Suatu hari, dalam suasana yang penuh ketegangan, seorang pria datang menemuiku. Wajahnya serius, dan nada suaranya dingin.


"Kamu bisa kehilangan semuanya," katanya tanpa basa-basi. "Posisi, keamanan, bahkan kehidupan yang kamu jalani sekarang. Pikirkan baik-baik, apakah kamu benar-benar ingin terus melawan arus?"


Kata-katanya tajam, menusuk hingga ke relung hati. Aku menyadari bahwa ini bukan ancaman kosong. Mereka serius ingin menghancurkan keteguhan yang selama ini kujaga. Namun, di tengah ancaman itu, aku kembali memohon petunjuk dari Allah. Dengan hati yang berdebar, aku tetap teguh pada prinsipku.


"Tidak ada yang lebih berharga daripada nurani dan amanat Kiyai," jawabku dengan suara yang mungkin terdengar lebih tegas dari yang kuharapkan. "Aku siap menanggung risiko apa pun, asalkan aku tetap berada di jalan yang benar."


Pria itu terdiam sejenak, seakan mencari celah di balik keteguhanku. "Kamu sangat keras kepala," gumamnya akhirnya. "Tapi ingatlah, dunia ini tidak selalu adil bagi mereka yang berpegang pada prinsip."


Setelah pria itu pergi, aku duduk sejenak, merenungi segala yang baru saja terjadi. Ada rasa takut yang membayangi, namun juga ada ketenangan yang luar biasa. Aku tahu bahwa jalan yang kupilih ini penuh dengan rintangan, tetapi aku juga yakin bahwa Allah selalu menyertai mereka yang ikhlas dalam pengabdian.


Hari demi hari, ancaman dan intimidasi itu terus berdatangan. Ada kalanya aku merasa goyah, namun setiap kali, aku kembali mengingat wajah Kiyai dan semua ajarannya. Ia selalu menekankan pentingnya menjaga marwah dan integritas, tidak peduli seberapa besar godaan atau seberapa berat tekanan yang dihadapi.


Dengan doa dan dukungan dari Allah, aku tetap teguh berdiri. Dalam setiap langkah yang kuambil, aku berusaha untuk selalu menjaga nurani dan amanat yang telah dipercayakan kepadaku. Pengabdian ini bukanlah tentang materi atau posisi, tetapi tentang prinsip dan ketulusan hati.


Perjalanan ini mengajarkan bahwa keteguhan hati dan integritas adalah kekuatan yang tak ternilai. Meskipun dunia penuh dengan godaan dan ancaman, dengan bimbingan Allah, aku akan tetap istiqomah menjaga marwah nurani dan amanat Kiyai. Ini adalah jalan yang kupilih, dan aku siap menanggung segala konsekuensinya, demi keberkahan dan ketulusan dalam khidmah ini.


Aku ikhlas menerima semua risiko dan konsekuensi. Di tengah badai ancaman yang terus menerpa, ketulusan hati ini tetap kokoh. Aku tahu bahwa dalam setiap langkah yang kuambil, selalu ada kemungkinan kehilangan. Mungkin kehilangan kedudukan, kenyamanan, bahkan mungkin kesempatan hidup yang lebih mudah. Namun, semua itu tidak sebanding dengan kehilangan nurani dan amanat yang telah dipercayakan kepadaku.


Dalam keheningan malam, aku sering kali merenung, memohon petunjuk dan kekuatan dari Allah. Dengan doa yang tulus, aku pasrah dan berserah diri kepada-Nya. "Ya Allah, hanya Engkau yang Maha Tahu niat dan perjuanganku. Berikanlah aku kekuatan untuk tetap istiqomah di jalan-Mu. Aku ikhlas menerima segala cobaan ini, demi menjaga marwah nurani dan amanat yang telah Kiyai tanamkan dalam diriku."


Pasrah bukan berarti menyerah, tetapi merupakan bentuk kepasrahan total kepada kehendak Ilahi. Aku percaya bahwa setiap ujian yang datang adalah bagian dari rencana-Nya yang indah. Ketika aku merasa lelah dan hampir menyerah, aku kembali mengingat betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang tulus dan ikhlas.


Hari demi hari, ujian itu tidak berkurang, namun kekuatan hati ini semakin tumbuh. Setiap ancaman yang datang, aku hadapi dengan doa dan kepercayaan bahwa Allah selalu bersama mereka yang berjuang di jalan-Nya. Meskipun jalan ini penuh dengan duri, aku merasa tidak pernah sendirian. Dalam setiap langkah, ada cahaya petunjuk dari Allah yang membimbing.


"Ya Allah, jadikanlah aku hamba yang selalu istiqomah di jalan-Mu. Jangan biarkan godaan dunia meruntuhkan keteguhan hatiku. Aku pasrahkan segalanya kepada-Mu, karena aku yakin bahwa setiap cobaan adalah jalan menuju kedekatan dengan-Mu."


Dengan keyakinan itu, aku melanjutkan perjalanan khidmah ini. Setiap harinya, aku berusaha untuk tetap menjaga prinsip dan integritas. Meskipun dunia mungkin tidak selalu adil, aku percaya bahwa keadilan sejati akan datang dari Allah. Dan dengan keyakinan itu, aku terus melangkah, berpegang teguh pada nurani dan amanat Kiyai, siap menerima segala konsekuensinya dengan ikhlas dan penuh keikhlasan.


Dalam keikhlasan itu, aku menemukan kekuatan yang tak terhingga. Sebuah kekuatan yang berasal dari keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang berjuang di jalan kebenaran. Dengan pasrah dan berserah diri pada-Nya, aku akan terus menjaga marwah nurani dan amanat ini, apapun yang terjadi.


Aku berharap semua konsekuensi dan risiko cukuplah aku yang menerima. Jangan sampai ditimpakan kepada para sahabat dan orang-orang terdekatku. Mereka adalah bagian penting dalam hidupku, sumber dukungan dan kekuatan di tengah badai yang menerpa. Di dalam hati, aku memohon kepada Allah agar mereka tetap terlindungi dari segala ancaman dan cobaan yang mungkin datang.


Setiap malam, dalam sujudku yang paling dalam, aku berdoa, "Ya Allah, berikanlah kekuatan dan perlindungan bagi sahabat-sahabatku dan keluargaku. Jangan biarkan mereka menanggung beban yang seharusnya menjadi tanggung jawabku. Aku siap menanggung semua ini demi menjaga marwah nurani dan amanat Kiyai."


Mereka mungkin tidak menyadari betapa berat beban yang kurasakan, tetapi aku tidak ingin mereka ikut merasakan dampaknya. Ketika ancaman datang menghampiri, aku selalu berusaha menjauhkan mereka dari bahaya. Aku tahu bahwa jalan ini penuh dengan duri dan cobaan, namun aku tidak ingin orang-orang yang kucintai ikut tersakiti.


Di dalam setiap langkah yang kuambil, aku selalu ingat akan wajah-wajah penuh cinta dan harapan. Sahabat-sahabat yang setia mendukung, keluarga yang selalu mendoakan. Mereka adalah alasan mengapa aku tetap teguh, mengapa aku tidak menyerah. Aku ingin mereka hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan, tanpa harus khawatir akan ancaman yang mungkin datang.


"Ya Allah, jadikanlah aku perisai bagi mereka. Biarlah semua beban ini kutanggung sendiri, asalkan mereka tetap aman. Aku ikhlas, aku pasrah, dan aku percaya bahwa Engkau akan selalu melindungi mereka yang aku cintai."


Dengan tekad yang bulat dan hati yang penuh keikhlasan, aku melanjutkan perjalanan khidmah ini. Meskipun ancaman dan godaan terus datang, aku tetap berdiri tegak. Aku tahu bahwa dengan keikhlasan dan doa, Allah akan memberikan kekuatan yang lebih besar dari segala ancaman duniawi.


Hari-hari berlalu dengan cepat, namun setiap detiknya aku isi dengan doa dan harapan. Aku berusaha memberikan yang terbaik dalam pengabdian ini, menjaga marwah nurani dan amanat Kiyai dengan sepenuh hati. Meskipun jalan ini penuh dengan cobaan, aku yakin bahwa Allah selalu menyertai dan memberikan perlindungan bagi mereka yang tulus dan ikhlas.


Dan dalam setiap doa, aku selalu menyertakan mereka, sahabat-sahabat dan keluargaku. "Ya Allah, lindungilah mereka. Jangan biarkan mereka menanggung beban yang kutanggung. Berikanlah mereka kebahagiaan dan ketenangan, dan biarlah semua risiko ini menjadi bagian dari pengabdian tulusku kepada-Mu."


Dengan keikhlasan dan keteguhan hati, aku terus melangkah. Aku yakin bahwa di balik setiap ujian, ada rahmat yang tersembunyi. Dan dengan doa serta harapan, aku akan terus menjaga marwah nurani dan amanat ini, demi kebaikan dan keberkahan bagi semuanya.

Kamis, Mei 23, 2024

"Menelusuri Jejak Sang Waliyulloh: Menguatkan mahabbah meneguhkan Khidmah dakwah."

 

(Foto di pintu Masuk makam Mbah Kuwu sangkan Cirebon Girang)


Pada Rabu, 22 Mei - Kamis, 23 Mei 2024, rombongan Jama'ah Muslimat NU ranting Ngelo melaksanakan ziyaroh (kunjungan) ke makam para wali dan tokoh penting dalam sejarah Islam di Jawa. Perjalanan spiritual ini diikuti dengan penuh khidmat dan antusias oleh seluruh anggota.


Rangkaian ziyaroh dimulai dari Makam Kiageng Tarub, seorang ulama besar yang dikenal dengan kesalehannya. Rombongan berdoa dan mengheningkan cipta di makam yang penuh berkah ini. Selanjutnya, mereka melanjutkan perjalanan ke Makam Kiageng Selo, seorang wali yang menyebarkan agama Islam di daerah tersebut.


Perjalanan dilanjutkan ke Makam Sunan Kalijogo, salah satu Walisongo yang terkenal dengan strategi dakwahnya yang unik dan adaptif dengan budaya lokal. Rombongan memanjatkan doa dan mengambil hikmah dari kehidupan sang Wali.


Selanjutnya, rombongan mengunjungi Makam Raden Fatah, pendiri Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa. Di tempat ini, mereka merenungkan peran Raden Fatah dalam penyebaran agama Islam di Nusantara.


Perjalanan ziyaroh kemudian dilanjutkan ke Makam Sunan Gunung Jati, salah satu Walisongo yang berjasa dalam menyebarkan Islam di Cirebon dan sekitarnya. Rombongan berziarah dengan penuh khidmat dan mengambil pelajaran dari jejak perjuangan sang Wali.


Selanjutnya, rombongan mengunjungi Makam Syeh Magelung Sakti, seorang ulama yang dikenal dengan karomah dan barakah yang dimilikinya. Di tempat ini, mereka berdoa dan memohon keberkahan.


Perjalanan dilanjutkan ke Makam Pangeran Cakrabuana, yang juga dikenal sebagai Mbah Kuwu Sangkan. Rombongan berziarah dan mengenang jasa beliau dalam mengembangkan Islam di daerah tersebut.

(Syafiq saat rehat di halaman masjid Agung Demak Bintoro & Naik Patung Maung Bodas di pelataran Mbah Kuwu Sangkan)

Rangkaian ziarah diakhiri di Makam Mbah Kuwu Sangkan Cirebon Girang. Di tempat ini, rombongan meninggalkan jejak kenangan dengan berfoto bersama, termasuk saya bersama istri tercinta dan putra kecil kami, Syafiq, yang turut meramaikan perjalanan spiritual ini.


Setelah selesai, rombongan melanjutkan perjalanan pulang dan tiba di rumah menjelang waktu Maghrib, hati penuh dengan ketenangan dan kekuatan spiritual yang didapatkan dari ziarah ke makam para wali dan tokoh penting dalam sejarah Islam di Jawa.


Perjalanan Ziyaroh Waliyulloh yang dilaksanakan oleh Jama'ah Muslimat NU ranting Ngelo pada Rabu, 22 Mei - Kamis, 23 Mei 2024 tersebut tidak hanya menjadi pengalaman spiritual yang bermakna, tetapi juga memiliki beberapa catatan penting yang perlu diulas lebih dalam.


Pertama, pemilihan lokasi-lokasi ziarah yang dikunjungi menunjukkan bahwa rombongan ingin menghormati dan meneladani jejak perjuangan para wali serta tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa. Dari Makam Kiageng Tarub, Kiageng Selo, Sunan Kalijogo, Raden Fatah, Sunan Gunung Jati, Syeh Magelung Sakti, hingga Pangeran Cakrabuana (Mbah Kuwu Sangkan), masing-masing memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara.


Kedua, perjalanan ziarah ini tidak hanya bertujuan untuk berdoa dan meminta berkah kepada Alloh Tuhan Yang Maha, tetapi juga untuk merenungkan serta mengambil hikmah dari kehidupan para wali dan tokoh tersebut. Rombongan secara khidmat melakukan doa dan mengheningkan cipta, sambil menggali pelajaran berharga yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Ketiga, keikutsertaan Syafiq, putra kecil kami, menunjukkan bahwa perjalanan ziarah ini juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai keislaman dan mengenalkan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Islam kepada generasi penerus. Momen berfoto di Makam Mbah Kuwu Sangkan menjadi kenangan manis yang dapat dibagikan kepada keluarga dan generasi selanjutnya.


Secara keseluruhan, perjalanan ziarah ini tidak hanya menjadi pengalaman spiritual yang berharga, tetapi juga memberikan kesempatan bagi para anggota rombongan untuk memperkuat iman, menghargai sejarah, serta menanamkan nilai-nilai keislaman kepada generasi muda. Momen-momen indah dalam perjalanan ini akan menjadi kenangan yang tetap dikenang oleh seluruh peserta.

Rabu, Mei 22, 2024

Dua Gelas Kopi dari Sang Guru



Pagi itu, Andi, seorang murid yang rajin, tiba di sekolah tepat waktu seperti biasanya. Namun, tampak ada yang berbeda dari raut wajahnya. Gurunya, Pak Budi, menyadari hal tersebut dan menghampirinya.


"Pagi, Andi. Kelihatannya kamu sedang ada masalah. Ayo, ceritakan pada Bapak," ujar Pak Budi dengan lembut.


Andi pun menceritakan mimpi aneh yang dialaminya semalam. Dalam mimpi itu, Pak Budi memberikan dua gelas kopi kepadanya - satu gelas kopi manis dan satu gelas kopi pahit. Pak Budi menyuruhnya untuk meminum kedua kopi tersebut.


Andi bercerita bahwa ia dengan ragu-ragu meminum kopi manis itu, walaupun Pak Budi sempat menyentuh sedikit bibir gelas. Namun, ia sama sekali tidak berani menyentuh kopi yang terasa pahit.


Mendengar cerita Andi, Pak Budi tersenyum bijak. Ia lalu berkata, "Mimpimu itu mengandung makna yang dalam, Andi. Kopi manis melambangkan kebahagiaan dan kemudahan dalam hidup. Sementara, kopi pahit mewakili tantangan dan kesulitan yang harus kamu hadapi."


Andi mengangguk-angguk, memahami penjelasan Pak Budi.


"Kau telah meminum kopi manis, walaupun ada bekas sentuhan dariku. Itu artinya, kau harus berani menghadapi tantangan hidup, walaupun ada campur tangan orang lain di dalamnya. Namun, kau masih ragu-ragu untuk meminum kopi pahit. Itu berarti, kau harus belajar untuk berani menghadapi kesulitan-kesulitan yang akan datang," lanjut Pak Budi.


Andi termenung, mencerna setiap kata yang diucapkan oleh gurunya. Ia menyadari bahwa mimpi itu mengandung pelajaran yang berharga tentang kehidupan.


"Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha untuk berani menghadapi tantangan dan kesulitan yang ada di depan saya," ujar Andi mantap.


Pak Budi menepuk pundak muridnya itu dengan bangga. Ia tahu, Andi akan menjadi seorang yang tangguh dan bijaksana suatu hari nanti.


Setelah pembicaraan dengan Pak Budi, Andi merasa lebih tenang dan yakin dalam menghadapi hari-harinya. Ia memahami bahwa hidup tidak selamanya manis, ada kalanya terasa pahit. Namun, ia bertekad untuk tetap berani menghadapi tantangan yang ada.


Hari demi hari berlalu, Andi terus belajar dengan giat. Ia tidak lagi mengeluh ketika mendapatkan tugas yang sulit dari Pak Budi. Sebaliknya, ia menerimanya dengan senang hati dan berusaha untuk menyelesaikannya dengan baik.


Suatu hari, Pak Budi kembali memanggil Andi ke ruangannya. Andi sedikit was-was, mengira ia telah melakukan kesalahan. Namun, ketika tiba di sana, Pak Budi justru tersenyum lebar dan menyodorkan dua gelas kopi ke hadapannya.


"Andi, hari ini Bapak ingin mengujimu lagi. Silakan, minumlah kedua kopi ini," ucap Pak Budi.


Andi terdiam sejenak, mengingat kembali mimpi dan pesan yang diberikan Pak Budi beberapa waktu lalu. Tanpa ragu, ia pun meminum kopi manis itu sampai habis. Kemudian, ia mengambil gelas kopi pahit dan meminumnya perlahan-lahan.


Pak Budi mengamati dengan saksama. Ia melihat keteguhan dan keyakinan di mata Andi saat meminum kopi pahit itu.


"Bagus, Andi. Kau telah lulus ujian Bapak. Kau telah membuktikan bahwa kau siap menghadapi segala tantangan dan kesulitan dalam hidupmu," puji Pak Budi.


Andi tersenyum lega. Ia merasa bangga atas dirinya sendiri dan berterima kasih kepada Pak Budi yang telah memberikan bimbingan dan pelajaran berharga kepadanya.


Sejak saat itu, Andi semakin giat belajar dan tidak lagi mengeluh menghadapi kesulitan. Ia tahu bahwa setiap masalah memiliki makna dan pelajaran yang berharga. Dan dengan keberanian serta keyakinan, ia yakin akan mampu melewati segala tantangan yang ada.

Selasa, Mei 21, 2024

Kau yang Ambisi, Aku yang Dihabisi

(Ilustrasi)

Dalam lorong politik kehidupan yang penuh intrik,

Terhampar kisah perseteruan tak berkesudahan,

Seorang atasan, penggiat ambisi yang kuasa menggoda,

Menyusahkan bawahan, tanpa belas kasihan.


Saat mentari merayap di ufuk timur,

Kau hadir, oh atasan penuh keangkuhan,

Dengan senyum palsu, sikapmu mengejek,

Bawahan tak berdaya, dalam siksaan yang terus berlanjut.


Kau berlenggang dengan ambisi yang tak terbendung,

Menjaga posisimu, menghancurkan integritas,

Demimu mengejar kekuasaan, tanpa memandang korban,

Adab budi di kesampingkan, tumpul sudah pedasnya kata.


Bawahan yang setia, seperti burung terkurung dalam sangkar,

Dikurung oleh ketidakadilan dan ketidakpuasan,

Karya menjadi persembahan yang sia-sia,

Terhempas oleh nafsu ambisi yang tak terbendung.


Namun, oh atasan, ingatkah engkau?

Kekuasaan yang kau genggam adalah titipan yang fana,

Kehidupan ini bukanlah belaka ajang pertempuran,

Tapi panggung untuk bersama-sama membangun negeri.


Bawahan yang kau siksa dengan kekuatanmu,

Bukanlah hantu yang tak berdaya,

Mereka adalah pemilik suara yang tak terdengar,

Yang takkan pernah luntur oleh tirani dan kezaliman.


Hari berganti, waktu tak terelakkan berlalu,

Kau yang ambisi, aku yang dihabisi,

Namun dalam kegelapan yang kau ciptakan,

Berkembang benih perlawanan yang tak akan pernah mati.


Karena pada akhirnya, kebenaran akan terungkap,

Ambisi yang busuk akan terlerai oleh cahaya keadilan,

Dan bawahan yang pernah terzalimi,

Akan bangkit menjadi pahlawan yang tak tergoyahkan.


Kau yang ambisi, aku yang dihabisi,

Puisi ini tercipta sebagai pengingat akan keadilan,

Bahwa politik kehidupan tak semata tentang kekuasaan,

Tapi tentang kebersamaan membangun negeri yang adil dan sejahtera.

(debadruns, Jipangulu 21 Mei 2024)

Kamis, Mei 09, 2024

"Namung Saget Khidmah, Senajan Ming Sak Titah" (Hanya Bisa Mengabdi, Walau Tak Begitu Berarti)

(Ilustrasi Pemanis Belaka)

Dalam sunyi pengabdian, terhampar kebesaran hati
 
Seorang kader NU, berjuang dengan tulus dan rendah hati
 
Tak memikirkan popularitas atau panggung yang gemerlap
 
Namun hanya ingin mengabdi, walau tak begitu berarti
 
 
Di hadapan dunia yang terlena oleh sorotan cahaya
 
Sang kader NU tetap setia pada panggilan hati yang suci
 
Bukan jabatan yang dikejar, bukan pujian yang dicari
 
Namun kebaikan yang dilahirkan, dalam setiap tindakan kecil yang diberi
 
 
Bukanlah kebesaran terletak pada kedudukan yang diemban
 
Melainkan pada hati yang rendah, tangannya yang siap melayani
 
Dalam setiap senyuman, dalam setiap kata penyemangat
 
Terukir pengabdian sejati, yang tak akan pudar oleh waktu
 
 
Pengabdian yang sungguh tak tergantikan
 
Tak bergantung pada jabatan yang tinggi atau pengakuan yang gemilang
 
Namun pada setiap bantuan yang diberikan tanpa pamrih
 
Pada setiap air mata yang dihapuskan, pada setiap beban yang diangkat
 
 
Walau tak selalu berada di pusat sorotan
 
Sang kader NU tetap berdiri teguh, menjadi pelita dalam kegelapan
 
Menjadi tumpuan bagi mereka yang tersesat dalam kesedihan
 
Memberikan cahaya kasih dan harapan, tanpa mengenal batas
 
 
Pengabdian tak pernah terbatas oleh syarat atau pamrih
 
Ia melihat kebutuhan sebagai panggilan yang tak bisa diabaikan
 
Menyatukan tangan-tangan dalam kepedulian yang tulus
 
Membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi mereka yang merindukannya
 
 
Namung saget khidmah, senajan ming sak titah
 
Kata bijak itu bergema dalam hati sang kader NU
 
Mengingatkannya bahwa pengabdian tak terhingga
 
Dalam setiap langkah kecil tercipta kebaikan yang tak ternilai
 
 
Dalam setiap detik yang berlalu, dalam setiap napas yang dihembuskan
 
Sang kader NU terus menyebarkan bijaknya pengabdian
 
Menyemai benih kebaikan dalam lautan ketulusan hati
 
Menjadi pujangga pengabdian, yang mengubah dunia dengan tindakan kecil
 
 
Namung saget khidmah, senajan ming sak titah
 
Hanya bisa mengabdi, walau tak begitu berarti
 
Namun dalam setiap pengabdian yang dilakukan dengan sepenuh hati
 
Kehadirannya memberikan arti sejati bagi hidup dan masyarakat yang dicintai.


Sabtu, Mei 04, 2024

"Keberanian dalam Menghadapi Ketakutan: Saat Bertemu Harimau, Janganlah Engkau Membelakanginya"

(Ilustrasi)

Pada suatu hari di pedalaman hutan yang lebat, hiduplah seorang petualang bernama Rama. Rama adalah seorang yang berani dan penuh semangat, selalu mencari pengalaman baru di alam liar. Suatu ketika, Rama memutuskan untuk menjelajahi bagian hutan yang belum pernah ia jelajahi sebelumnya. Dia berangkat dengan hati penuh kegembiraan dan ransel penuh persiapan.


Selama perjalanan, Rama tak sengaja tersesat. Dia terjebak di dalam jaring laba-laba yang besar dan tak dapat melepaskan diri. Rama merasa takut dan terjebak dalam kepanikan, karena ia mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat. Suara itu semakin kuat dan menggelegar, membuat Rama semakin cemas.


Tiba-tiba, dari balik semak-semak, muncullah seekor harimau besar dengan mata tajam yang menatap lurus ke arah Rama. Rama merasa ketakutan dan panik saat melihat harimau tersebut. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Namun, dengan cepat ia mengingat nasihat orangtuanya, "Saat bertemu harimau, janganlah engkau membelakanginya."


Rama mengingat nasihat itu dan dengan berani, dia memalingkan tubuhnya, menghadap langsung ke arah harimau. Meskipun hatinya berdebar kencang, Rama berusaha menenangkan diri dan tidak menunjukkan rasa takutnya. Ia berdiri tegak dengan penuh keberanian.


Melihat sikap Rama yang tenang dan tidak menunjukkan ancaman, harimau itu terkesan. Dengan perlahan-lahan, harimau itu mendekat dan melihat Rama dengan rasa ingin tahu. Rama tetap tenang, tidak bergerak atau menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan melukai harimau tersebut.


Lama kelamaan, harimau itu merasa nyaman dengan kehadiran Rama. Ia bahkan menjilati luka Rama yang terkena jaring laba-laba. Setelah itu, harimau itu pergi meninggalkan Rama, meninggalkan rasa syukur di hati petualang itu.


Dalam kejadian itu, Rama belajar sebuah hikmah yang berharga. Ia menyadari bahwa dalam menghadapi ketakutan dan tantangan, penting untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan rasa takut yang berlebihan. Dia belajar bahwa ketika kita menghadapi bahaya atau situasi yang menakutkan, seringkali sikap yang tenang dan penuh pengertian dapat mengubah segalanya.


Hikmah dari cerita ini adalah, kadang-kadang kita harus menghadapi ketakutan dan tantangan dalam hidup. Namun, dengan tetap tenang dan tidak membelakangi masalah, kita dapat menemukan solusi yang tak terduga atau mengubah situasi menjadi lebih baik. Jadi, saat kita menghadapi "harimau" dalam hidup kita, janganlah kita membelakanginya, tetapi hadapilah dengan keberanian dan sikap yang baik hati.

Kamis, April 25, 2024

Kedatangan Tamu Idul Fitri dari Rombongan Jama'ah Majelis Taklim Masjid Baiturrohim Dusun Batang Desa Margomulyo

(Foto bersama Jama'ah Majelis Taklim Baiturrohim Batang Margomulyo)

Desa Ngelo, 12 April 2024 - Sebuah kejutan hangat menyapa warga Dusun Jipangulu saat rombongan Jama'ah Majelis Taklim Masjid Baiturrohim Dusun Batang Desa Margomulyo berkunjung pada Jum'at pagi yang cerah. Seperti kabar yang telah diterima sebelumnya, rombongan ini dipimpin oleh sosok yang sangat dihormati, Kiyai Jamin.


Kedatangan rombongan jama'ah ini menjadi momen yang berharga bagi kami dan  keluarga. Pukul 09.00, ketika riuh suara kendaraan mulai terdengar dari kejauhan, hati kami berdebar tak sabar menyambut kedatangan mereka. Dengan penuh keceriaan, kami mempersiapkan diri menyambut tamu istimewa ini di aula kecil rumah kami.


Saat rombongan tiba, suara Salam dan sapa menyambut kehadiran mereka menggema di seantero aula. Kiyai Jamin, dengan pakaian khasnya yang berwarna putih, memancarkan aura ketenangan dan kebijaksanaan. Di belakangnya, anggota jama'ah yang terdiri dari berbagai kalangan umur dan profesi, tampak gembira dan penuh semangat dalam menyambut hari yang fitri ini.


Sebagai tuan rumah yang menyaksikan kejadian ini secara langsung, saya berkesempatan untuk bertemu dengan Kiyai Jamin dan anggota jama'ah lainnya. Mereka menceritakan tentang perjalanan mereka selama bulan suci Ramadan yang penuh berkah dan kebersamaan. Dalam setiap kesempatan, mereka memanfaatkan waktu untuk memperbanyak ibadah dan memperdalam pengetahuan agama.


Kiyai Jamin, selaku pemimpin rombongan, berbagi pemikirannya tentang pentingnya menjaga silaturahmi dan kebersamaan dalam menyambut hari yang fitri ini. Beliau mengungkapkan kegembiraannya dapat berkunjung ke rumah-rumah warga untuk berbagi kebahagiaan Idul Fitri. "Kita harus senantiasa saling mendekatkan diri dengan sesama, baik di dalam maupun di luar masjid. Inilah esensi sejati dari perayaan Idul Fitri," ujar Kiyai Jamin dengan penuh semangat.


Sambil menikmati hidangan sedrrhana yang telah disiapkan oleh istri saya, anggota jama'ah bercerita tentang berbagai pengalaman dan pelajaran berharga yang mereka dapatkan selama bulan Ramadan. Mereka saling menguatkan dan memberikan semangat untuk terus berbenah diri menuju kehidupan yang lebih baik.


Kedatangan rombongan Jama'ah Majelis Taklim Masjid Baiturrohim Dusun Batang Desa Margomulyo di rumah kami di Dusun Jipangulu merupakan momen yang tak terlupakan. Selain menumbuhkan rasa persaudaraan dan kebersamaan, kunjungan ini juga memberikan inspirasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas hidup dan semangat beragama.


Dengan penuh rasa syukur, kami berterima kasih kepada rombongan jama'ah yang telah meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumah kami. Semoga kehadiran mereka membawa berkah dan kebahagiaan yang melimpah di hari yang fitri ini.

Selasa, April 16, 2024

"Kejutan Idul Fitri: Antara Bu Nyai Nikmaturohmah, dan Hikmah Kehidupan yang Tidak Terduga!"


Pada suatu hari Ahad yang bahagia, tepatnya tanggal 14 April 2024, saya mendapatkan kunjungan yang tak terduga dari seorang tamu istimewa. Ternyata tamu tersebut adalah seorang teman suami istri dari Ds. Samberan Kec. Kanor Bojonegoro. Bu nyai Nikmaturohmah namanya, dan saya langsung teringat akan masa-masa kuliah di STIT Muhammadiyah Bojonegoro bersamanya. Suaminya pun juga merupakan teman dari FKDT (Forum Komunikasi Diniyah Takmiliah) Kabupaten Bojonegoro. Siapa sangka, mereka datang berkunjung ke rumah saya!


Tidak bisa saya pungkiri, kedatangan Bu Nyai Nikmaturohmah ini benar-benar mengejutkan. Saya bahkan merasa seperti dalam dunia fantasi yang jauh dari akal sehat. Tetapi, dalam keadaan penasaran dan penuh kegembiraan, saya dan istri segera menyambut kedatangan mereka di aula kecil rumah kami.


Saat kami bersua, suasana menjadi hangat dan penuh keceriaan. Kami saling berbagi cerita dan kabar terkini. Sungguh, Idul Fitri kali ini benar-benar luar biasa bagiku. Selain berkumpul dengan orang-orang terdekat dan sahabat karib dalam satu jam'iyah, Allah juga memberikan kejutan dengan mempertemukan saya dengan teman lama seperti Gus Hilal dan Bu Nyai Nikmaturohmah ini.


Dalam momen Idul Fitri yang penuh berkah ini, Allah benar-benar menunjukkan padaku bahwa kehidupan ini memiliki begitu banyak berkah yang tersembunyi di balik setiap makhluk-Nya di jagad raya ini. Siapa sangka, di balik keriuhan dan kesibukan lebaran, Allah masih menyisipkan kejutan-kejutan kecil yang mengharukan dan menggelitik di antara kita.


Sungguh, tak ada yang lebih lucu dan menggelitik daripada melihat betapa indahnya kehidupan ini ketika kita bisa bertemu dengan orang-orang istimewa di saat-saat yang tak terduga.


Dalam suasana lebaran yang penuh keceriaan, terkadang kita terlalu sibuk dengan urusan makan-makan, saling bermaafan, dan berburu takjil enak. Namun, di balik semua keramaian itu, ada keajaiban kecil yang tersembunyi. Seperti kedatangan tamu-tamu istimewa yang datang tanpa kita duga, seperti Gus Hilal dan Bu Nyai Nikmaturohmah.


Bayangkan saja, saat kita sedang asyik mengunyah ketupat dan rendang, tiba-tiba muncul sosok teman lama yang dulu kita kenal di masa lalu. Itu seperti adegan dari film komedi yang membuat kita terbahak-bahak diantara nasi tumpeng dan opor ayam. Siapa sangka, di tengah-tengah hiruk-pikuk lebaran, ada sosok yang melintas bagai kilat dan mengingatkan kita akan masa-masa indah yang pernah kita lewati bersama.


Dan tentu saja, tak kalah menggelitiknya adalah saat kita berbagi cerita dengan mereka. Kita bisa mengungkapkan betapa kita telah berubah sejak terakhir kali bertemu. Mulai dari rambut yang mulai memutih, perut yang semakin buncit, hingga kisah-kisah lucu yang terjadi dalam perjalanan hidup kita. Setiap cerita mengundang tawa dan kehangatan di antara kita, seakan menghapus segala beban dan kesedihan yang mungkin kita rasakan.


Dalam momen-momen seperti ini, kita menyadari bahwa hidup ini sungguh penuh dengan kejutan-kejutan tak terduga. Allah dengan penuh kasih sayang menyembunyikan berbagai kado kecil di sepanjang perjalanan hidup kita. Dan lebaran adalah saat di mana kita diberi kesempatan untuk menemukan dan menghargai kado-kado itu.


Jadi, di tengah-tengah riuh rendah lebaran, jangan pernah meremehkan keajaiban kecil yang tersembunyi di antara kita. Siapa tahu, di antara takbiran dan salam-salaman, ada sosok teman lama yang tersembunyi di balik kerumunan, siap menyapa dengan senyuman lebar. Biarkan cerita-cerita lucu dan menggelitik mengalir dalam suasana lebaranmu, dan nikmatilah setiap momen tak terduga yang Allah hadirkan sebagai kado istimewa dalam hidup kita.


Jadi, mari kita rayakan Idul Fitri dengan penuh sukacita, kehangatan, dan kejutan-kejutan tak terduga. Saling berbagi cerita, tawa, dan kebahagiaan dengan orang-orang terkasih adalah salah satu khasanah yang membuat lebaran kali ini begitu berarti. Jadikanlah setiap momen lebaran sebagai kesempatan untuk menciptakan kenangan indah yang tak akan terlupakan. Selamat Idul Fitri!

Senin, April 15, 2024

"Keajaiban Lebaran: Ikatan Persaudaraan yang Melampaui Jarak"



Pada hari Jumat, tanggal 12 April 2024 Masehi atau 03 Syawal 1445 Hijriah, saat lebaran ke-3, sebuah kejadian luar biasa terjadi dalam hidup saya. Saya kedatangan seorang teman yang sangat istimewa dari Desa Margomulyo, Kecamatan Balen, Bojonegoro.


Kunjungan ini sungguh menjadi kejutan besar bagiku, karena bagi seorang Gus Hilal seperti teman saya ini, berkunjung ke rumahku yang terletak di pedalaman dan terisolir adalah hal yang sangat tidak mungkin. Rumahku berada di tepian Sungai Bengawan Solo dan dikelilingi oleh hutan di ujung barat Bojonegoro, dengan Blora sebagai tetangga di sebelah utara, barat, dan timur. Karena itu, kunjungannya membawa kebahagiaan dan berkah yang luar biasa bagi saya.


Gus Hilal adalah saudara satu nasab dalam keilmuan. Kami berdua pernah mengaji ilmu di Pesantren Fathul Ulum Kwagean di bawah bimbingan KH. Abdul Hanan Maksum. Kami memiliki ikatan yang kuat dalam perjalanan keilmuan.


Gus Hilal datang bersama istri dan anak-anaknya. Kehadiran mereka memberikan semangat baru dalam suasana lebaran. Kami berkumpul di aula kecil rumah, saling berbagi cerita, dan menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh istri saya.


Ternyata, terdapat kejutan lain yang menggembirakan. Istri Gus Hilal juga memiliki ikatan keilmuan dengan istri saya. Keduanya pernah menimba ilmu di UNIROW Tuban. Kebersamaan mereka membuktikan betapa kecilnya dunia ini dan bagaimana ikatan keilmuan dapat menghubungkan orang-orang yang berjauhan.


Di tengah keceriaan dan kehangatan suasana lebaran, kami juga tidak lupa menyelipkan sentuhan humor yang penuh hikmah. Percakapan ringan tentang riwayat perjalanan masa lalu yang mungundang dan mengandung banyak canda tawa mengisi ruangan, membawa keceriaan dan kebahagiaan kepada kami semua. Kami mengingatkan satu sama lain akan pentingnya bersyukur atas karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT.


Kisah indah ini mengajarkan kita tentang pentingnya menghargai persaudaraan, ikatan keilmuan, dan kebahagiaan dalam kehidupan. Kunjungan Gus Hilal ke rumahku yang terpencil menjadi sebuah pengingat bahwa jarak dan lokasi bukanlah halangan dalam mempererat hubungan antarmanusia. Dalam suasana lebaran yang penuh berkah ini, kami merasakan kehadiran Tuhan yang Maha Esa yang menyatukan kita semua, meskipun dari tempat-tempat yang berbeda.

Minggu, April 07, 2024

FRIENDs MADIN



haiiii...kenalin dooung....Om, tante, pak De, kakek, nenek,.....di bayarin negara kok cumaan pada ngrumpi ciiih...mendingan pada maen Amma gue..










Suasana yang tak Asing lagi bagi ihwan-ihwan madin bila lagi pada ngeffffrez....(Eeee..mbok yo jo do ngono wes gede kok sek seneng podo ngrumpi to yoo yoo.....)


Ehm......ehem....!!!!! Kalau ni Ihwan bilang tetua sukunyeMADIN DAH TAK ASING LAGI BROU.... (Suku-suku batok kale). tapi da yang ngasih laqob yang lagi ngetren saaat ini "kanjeng doso"

Kalo kanjeng Doso dah ada, dari kejauhan tuuuuh tampak tampang-tampang ummi Desi he he...he..




kalllo ni dari tampangnye aje dah serrrrem !!!! co2knye jd security nye Kanjeng Doso aze yeee setuju....! ?????? (jok mlotot-mlotot to om-om)

Niiiih yg perlu dicontooh the mister master "Ustadz Rofiq" serrrriuuuuz niiiiih...
(Youk Ngenet booooz)

Rabu, Maret 20, 2024

Kegiatan Tadarus Al-Qur'an Meriahkan Ramadan di Masjid Al-Ikhlas Kemenag Bojonegoro

 


Bojonegoro - Rabu 20 Maret 2024 - Suasana kehangatan dan kekhusyukan menyelimuti Masjid Al-Ikhlas Kemenag Bojonegoro pada hari ini. Sebagai bagian dari meriahnya bulan suci Ramadan 1445 H./2024 M., berbagai kegiatan keagamaan digelar untuk memperkuat ikatan spiritual umat Muslim. Salah satu kegiatan yang mengundang perhatian adalah Tadarus Al-Qur'an yang dilaksanakan dengan semangat oleh sejumlah jamaah, termasuk seorang peserta yang berangkat sendirian.


Pada pagi yang cerah ini, tepat pukul 08.30, Masjid Al-Ikhlas dipenuhi oleh kehadiran para peserta Tadarus Al-Qur'an. Kegiatan ini diikuti oleh teman Penyuluh Agama Islam dari KUA Margomulyo dan Ngraho. Meskipun berangkat secara terpisah, semangat untuk berbagi ilmu dan mendalami ayat-ayat suci Al-Qur'an tetap membara di hati mereka.


Tidak seperti kebanyakan peserta yang berangkat berombong, seorang pria bernama Badrun memilih untuk berangkat sendirian. Dengan tekad yang bulat, Badrun merasa bahwa Tadarus Al-Qur'an ini adalah momen yang tepat untuk menambah kedalaman pengetahuannya tentang agama Islam. Dengan hati penuh harap, ia memasuki Masjid Al-Ikhlas dengan langkah mantap.


Dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung hingga selesai sekitar pukul 11.15, para peserta Tadarus Al-Qur'an bergantian membaca dan meresapi ayat-ayat suci Al-Qur'an. Suara tartil dan merdu terdengar melantun di dalam ruangan, membawa kedamaian dan ketenangan kepada seluruh jamaah yang hadir. Setiap ayat yang dibaca diikuti dengan penghayatan mendalam, karena di hadapan mereka terdapat teman-teman Penyuluh Agama Islam yang dengan sabar mengikuti.


Tidak hanya menjadi momen mendalam untuk memperdalam pemahaman agama, Tadarus Al-Qur'an ini juga menjadi ajang silaturahmi antarpenyuluh. Para peserta saling bertukar pandangan, berdiskusi, dan saling memberi semangat dalam menyelesaikan bacaan Al-Qur'an. Kebersamaan dalam kegiatan ini semakin terasa, terutama bagi Badrun yang sebelumnya berangkat sendirian. Ia berhasil menjalin hubungan baik dengan teman-teman seiman yang lain.


Setelah berlangsung selama beberapa jam, kegiatan Tadarus Al-Qur'an ini akhirnya mencapai puncaknya. Dengan rasa syukur dan hati yang dipenuhi ketenangan, Badrun pun memutuskan untuk pulang. Namun, semangat dan kebersamaan yang terjalin di Masjid Al-Ikhlas akan terus menginspirasi dan membawa berkah dalam menjalani ibadah Ramadan di hari-hari mendatang.


Kegiatan Tadarus Al-Qur'an yang dilakukan di Masjid Al-Ikhlas Kemenag Bojonegoro ini berhasil menciptakan momen berharga bagi para peserta. Dalam kehangatan bulan Ramadan yang penuh berkah, mereka menyatu dalam suara ayat-ayat suci Al-Qur'an dan memperkuat ikatan keagamaan. Semoga kegiatan semacam ini terus berlanjut dan memberikan manfaat yang besar bagi umat Muslim Bojonegoro

(Penulis: Badrun)