Sabtu, Maret 12, 2022

Al-Mawaidzul Ushfuriyah - Hadits 2, Tentang Mengharap Rahmat Allah

Al-Mawaidzul Ushfuriyah - Hadits 2, Tentang Mengharap Rahmat Allah

 

Dari Sahabat Ibnu Mas'ud ra berkata, Rasulullah SAW bersabda : Orang durhaka yang mengharap rahmat Allah Yang Maha Luhur lebih dekat dengan Allah Yang Maha Luhur daripada orang yang ahli ibadah yang putus asa (dari rahmat-Nya)".

 

عن ابن مسعود رضي الله تعالى عنه قال قال رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم الْفَاجِرُ الرّاجِى رَحْمَةَ اللّٰهِ تَعَالٰى اَقْرَبُ اِلَى اللّٰهِ تَعَالٰى مِنَ الْعَابِدِ الْمُقْنِطِ

 

Hamba Yang Memutus Rohmatnya Alloh

Sahabat Ibnu Mas'ud berkata, telah mengabari kami dari Sahabat Zaid bin Aslam, dari Sahabat Umar, sesungguhnya ada seorang di dalam umat-umat terdahulu yang giat dalam beribadah dan memberatkan dirinya (dalam beribadah) dan dia membuat putus asa manusia dari rahmat Allah Yang Maha Luhur, kemudian dia meninggal dunia.

 

 

قال أخبرنا عن زيد بن أسلم عن عمر أن رجلا كان فى الأمم الماضية يجتهد فى العبادة ويشدد على نفسه ويقنط الناس من رحمة الله تعالى ثم مات

Lalu dia bertanya, "Wahai Tuhanku, balasan apa bagiku di sisi-Mu ?".

 

 

فقال يا رب ما لى عندك

Allah SWT menjawab, "Neraka".

 

 

فقال النار

Dia bertanya, "Wahai Tuhanku, lalu di mana ibadah dan upaya giatku ?".

 

 

قال يا رب فأين عبادتى واجتهادى

Allah SWT menjawab, "Sesungguhnya kamu telah membuat putus asa manusia dari rahmat-Ku di dunia, maka pada hari ini Aku memutuskanmu dari rahmat-Ku".

 

 

فقال إنك كنت تقنط الناس من رحمتى فى الدنيا فأنا أقنطك اليوم من رحمتى

Seorang Pendosa yang  Selamat Berkat Tauhidnya.

 

Diriwayatkan dari Sahabat Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW, sesungguhnya ada seseorang yang tidak melakukan amal kebaikan apapun kecuali tauhid.

 

Ketika kematian mendatanginya, ia berkata kepada keluarganya, "Tatkala aku mati, maka bakarlah aku dengan api sehingga kalian meninggalkanku dalam keadaan menjadi abu, kemudian taburkanlah aku di laut pada hari angin (saat angin bertiup)".

 

Keluarganya pun melakukan apa yang ia wasiatkan. Tiba-tiba ia berada dalam kuasa Allah.

 

 

روي عن أبى هريرة رضي الله تعالى عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أن رجلا لم يعمل خيرا قط إلا التوحيد فلما حضره الموت قال لأهله إذا أنا مت فاحرقونى بالنار حتى تدعونى رمادا ثم ذرونى فى البحر يوم الريح ففعلوا فإذا هو فى قبضة الله تعالى

(Lalu tatkala ia berada di genggaman Allah Yang Maha Luhur)

 

Allah bertanya, "Apa yang mendorongmu pada apa yang telah kamu lakukan ?".

 

قال الله ما حملك على ما فعلت

Ia menjawab, "Takut kepada-Mu".

 

 

قال مخافتك

Lalu Allah mengampuninya sebab rasa takut itu, sedangkan ia tidak melakukan amal kebaikan apapun kecuali tauhid.

 

 

فغفر له بِهَا وهو لم يعمل خيرا قط إلا التوحيد

 

Jenazah yang terasingkan

Berdasarkab hadits ini, ada sebuah hikayat. Sesungguhnya ada seseorang yang meninggal dunia pada masa Nabi Musa as, orang-orang tak mau memandikannya dan mengafaninya karena kefasikannya, lalu mereka menyeret kakinya dan membuangnya ke tempat sampah (tempat pembuangan sampah-sampah di masyarakat).

 

 

وعلى هذا حكاية أن رجلا مات على عهد موسى عليه السلام فكره الناس غسله ودفنه لفسقه فأخذوه برجله وطرحوه فى المزبلة

Lalu Allah Yang Maha Luhur memberikan wahyu kepada Nabi Musa as dan berkata.

 

"Wahai Nabi Musa, ada seseorang yang telah meninggal dunia di tempat fulan di dalam tempat sampah.

 

Dia adalah wali (kakasih) dari para wali-Ku, sedangkan mereka tidak mau memandikan, mengkafani, dan memendamnya.

 

Maka kamu pergilah, mandikan, kafani, shalatilah dan kuburkanlah dia".

 

 فأوحى الله  تعالى إلى موسى عليه السلام وقال يا موسى مات رجل فى محلة فلان فى المزبلة وهو  ولي من أوليائى ولم يغتسلوه ولم يكفنوه ولم يدفنوه

فاذهب أنت فاغسله وكفنه وصل عليه وادفنه

Nabi Musa as pun datang ke tempat itu dan bertanya kepada mereka (penduduk kampung) tentang si mayit.

 

Mereka pun menjawab kepada beliau, "Seseorang telah mati dengan sifat demikian dan demikian dan sesungguhnya dia adalah orang fasik yang dilaknati".

 

 

فجاء موسى عليه السلام إلى تلك المحلة وسألهم عن الميت.

 

فقالوا له مات رجل فى صفة كذا وكذا وأنه كان فاسقا معلنا

Nabi Musa pun bertanya, "Di manakah tempatnya ? sesungguhnya Allah Yang Maha Luhur telah memberi wahyu kepadaku karena dia".

 

Nabi Musa berkata (lagi), "Beritahu aku tempatnya". Lalu mereka pun pergi (ke tempat si mayit).

 

 

فقال أين مكانه فإن الله تعالى أوحى إلي لأجله قال فأعلمونى مكانه فذهبوا

Ketika Nabi Musa melihatnya dalam keadaan terbuang di tempat sampah dan orang-orang mengabari beliau tentang perbuatan-perbuatan buruknya, maka beliau pun bermunajah kepada Tuhannya sembari berkata.

 

 "Wahai Tuhanku, Engkau telah memerintahkanku untuk memendam dan menyolatinya, sedangkan kaumnya memberi kesaksian buruk terhadapnya.

 

Maka Engkau lebih mengetahui daripada mereka dengan pujaan dan celaan",

 

 

فلما رآه موسى عليه السلام مطروحا فى المزبلة وأخبره الناس على سوء أفعاله ناجى موسى ربه

 

فقال إلهى أمرتنى بدفنه والصلاة عليه وقومه يشهدون عليه شرا أنت أعلم منهم بالثناء والتقبيح

Lalu Allah Yang Maha Luhur memberikan wahyu kepada Nabi Musa, "Wahai Nabi Musa, telah benar kaumnya di dalam apa yang mereka kisahkan tentangnya dari perbuatan-perbuatan buruknya.

 

Hanya saja dia memohon pertolongan kepada-Ku saat wafatnya dengan 3 perkara.

 

Jikalau semua prang-orang yang berdosa dari golongan makhluk-Ku memohon kepada-Ku dengan 3 perkara itu, niscaya Aku akan memberikannya.

 

Lalu bagaimana Aku tidak merahmatinya, sedangkan dirinya telah benar-benar memohon dan Aku adalah Tuhan Yang Maha Paling Pengasih dari semua yang pengasih".

 

 

فأوحى الله تعالى إليه يا موسى صدق قومه فيما حكوا عنه من سوء أفعاله غير أنه تشفع إلي عند وفاته بثلاثة

أشياء لو سأل بِهَا منى جميع المذنبين من خلقى لأعطيته فكيف لا أرحمه وقد سأل نفسه وأنا أرحم الراحيمن

Nabi Musa bertanya, "Wahai Tuhanku, apa 3 perkara itu ?"

 

Allah Yang Maha Luhur menjawab, "Ketika telah dekat wafatnya, dia berdoa :

Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui tentangku, sesungguhnya aku telah melakukan kemaksiatan, sedangkan aku membenci maksiat di dalam hatiku, tetapi telah terkumpul 3 perkara di dalam diriku sehingga aku melakukan maksiat bersamaan kebencian terhadap maksiat di dalam hatiku.

 

Pertamanya adalah hawa nafsu, lalu teman yang buruk, dan Iblis semoga laknat Allah kepadanya. Ketiganya ini telah menjatuhkanku di dalam maksiat.

 

Sesungguhnya Engkau mengetahui tentangku atas apa yang aku ucapkan, maka ampunilah aku.

 

 

قال موسى يا رب وما الثلاثة

قال الله تعالى لما دنت وفاته قال يا رب أنت تعلم منى انى كنت أرتكب المعاصى وكنت أكره المعصية فى قلبى لكن اجتمع في ثلاث خصال حتى ارتكبت المعصية مع كراهة المعصية فى قلبى أولها هوى النفس والرفيق السوء

وإبليس لعنة الله عليه وهذه الثلاثة القتنى فى المعصية فإنك تعلم منى ما أقول فاغفر لى

Keduanya, dia berdoa : Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya aku telah melakukan maksiat dan derajatkau bersama dengan orang-orang fasik.

 

Tetapi aku mencintai berteman dengan orang-orang sholeh dan kezuhudan mereka, dan derajat bersama mereka lebih aku cintai daripada orang-orang fasik.

 

 

والثانية قال يا رب انك تعلم بأنى ارتكبت المعاصي وكان مقامى مع  الفسقة ولكن أحب صحبة الصالحين وزهدهم والمقام معهم كان أحب إلي من الفاسقين

Ketiga, dia berdoa : Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui tentangku bahwa sesungguhnya orang-orang sholeh lebih aku cintai daripada orang-orang fasik.

 

Sehingga jikalau ada 2 orang yang berhadapan denganku, yaitu orang sholeh dan orang keji, niscaya aku mendahulukan kebutuhan orang sholeh di atas orang yang keji.

 

 

والثالثة قال إلهى إنك تعلم منى ان الصالحين كانوا أحب إلي من الفاسقين حتى لو استقبلنى رحلان صالح وطالح لقدمت حاجة الصالح على الطالح

Perawi (yang meriwayatkan hikayat ini) berkata di dalam riwayat Wahab bin Munabbih, dia berdoa :

 

"Wahai Tuhanku, jika Engkau memaafkan dan mengampuni dosa-dosaku, maka para kekasih-Mu dan para nabi-Mu akan bahagia dan bersedihlah syetan, musuhku dan musuh-Mu.

 

Jika Engkau menyiksaku sebab dosa-dosaku, maka syetan dan para penolongnya akan bahagia, dan sedihlah para nabi dan para wali.

Sesungguhnya aku mengetahui bahwa kebahagiaan para wali lebih Engkau cintai daripada kebahagiaan syetan dan para penolongnya, maka ampunilah aku.

 

Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui tentangku atas apa yang aku ucapkan, maka kasihanilah aku dan ampunilah aku".

 

 

قال فى رواية وهب بن منبه قال يا رب لو عفوت وغفرت ذنوبى يفرح أولياؤك وأنبياؤك ويحزن الشيطان وعدوى وعدوك ولو عذبتنى بذنوبى يفرح الشيطان وأعوانه ويحزن الأنبياء والأولياء وإنى أعلم أن فرح الأولياء إليك أحب من فرح الشيطان وأعوانه فاغفر لى اللهم إنك تعلم منى ماأقول فارحمنى وتجاوز عنى

Allah Yang Maha Luhur berkata, "Lalu aku merahmatinya, mengampuninya, dan memaafkannya, karena sesungguhnya Aku adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, terkhusus pada orang yang mengakui dosanya di hadapan-Ku.

 

Dan orang ini telah mengakui dosa, maka Aku mengampuninya dan memaafkannya.

 

Wahai Nabi Musa, lakukan apa yang telah Aku perintahkan kepadamu, karena sesungguhnya Aku akan mengampuni, demi menghormatinya, kepada orang yang mau menyolati jenazahnya dan mau datang menguburnya".

 

قال الله تعالى فرحمته وغفرت له وتجاوزت عنه فإنى رؤف رحيم خاصة لمن أقر بالذنب بي بين يدي

وهذا أقر بالذنب فغفرت له وتجاوزت عنه ياموسى افعل ماأمرتك فإنى أغفر بحرمته لمن صلى على جنازته وحضر دفنه

Wallahu a'lam bis showab.

 

 

 

 

Oleh:

De Badrun (Ketua FKPAI KUA Margomulyo)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, Maret 08, 2022

ORANG ALIM YANG PERINGATKAN RASULULLAH

ORANG ALIM YANG DIPERINGATKAN RASULULLAH

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Wahai anakku, Memberi nasehat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya karena nasehat bagi orang yang menuruti nafsunya terasa pahit, sebab larangan-larangan itu justru  dicintai dalam hatinya.

 

Terlebih bagi seseorang yang mencari ilmu sebagai formalitas, sibuk pada prioritas nafsu dan prestasi keduniawian.

 

ايها الولد، النصيحة سهلة والمشكل قبولها، لانها في مذاق متبعي الهوى مرة. اذ المناهي محبوبة في قلوبهم، وعلى الخصوص لمن كان طالب العلم الرسمي ومشتغلا في فضل النفس ومناقب الدنيا.

Ia meyakini bahwa keselamatan dan kebahagiaannya hanya dengan ilmu saja tanpa  perlu mengamalkan.

Yang demikian itu merupakan keyakinan para filosof.

( Maha Suci Allah Yang Maha Agung).

 

Orang yang terbujuk ini tidak mengerti bahwa saat ia memperoleh ilmu tanpa diamalkan terdapat dalil yang kuat seperti sabda Rosululloh SAW:

 

Manusia yang paling berat mendapatkan siksa di hari qiyamat adalah orang yang mempunyai ilmu yang ilmunya tidak diberi kemanfaatan oleh Allah.

 

فانه يحسب ان العلم المجرد له سيكون نجاته وخلاصه فيه. وانه مستغن عن العمل وهذا اعتقاد الفلاسفة سبحان الله العظيم- لا يعلم هذا المغرور انه حين حصل العلم اذا لم يعمل به تكون الحجة عليه آكد كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم- : اشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لا ينفعه الله بعلمه.

Saudaraku yang di rohmati Alloh, dari penjelasan Imam Ghozali di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa kiranya ilmu yang sudah kita terima dari Alloh ini senyatanya selain sebagai anugrah yang tak terhingga, di sisi lain keberadaan ilmu ini juga merupakan tanggungjawab yang harus kita tunaikan dalam bentuk pelaksanaan dalam kehidupan kita di dunia ini.

 

Kenapa demikian ? Hal ini semata-mata sebagai wujud tanggungjawab sebagai orang yang berilmu dan diharap bisa menjadi Uswatun hasanah bagi para murid dan ummat muslim secara keseluruhan.

 

Satu contoh sederhana, manakala dalam satu kesempatan sang ustadz menerangkan panjang lebar tentang keutamaan shodaqoh/zakat/wakaf, namun dalam dalam kesempatan yang lain sang ustadz terlihat enggan melaksakan hal itu, manakala kesempatan memungkinkan untuk melaksanakan.

 

Dari sekilas contoh diatas menggambarkan bagaima sebuah ilmu yang pernah di paparkan secara panjang lebar mengalami satu penghianatan dan pemiskinan uswatun hasanah.

 

Diriwayatkan bahwa Syaikh al Junaid -qaddasa Allahu sirrahu- dimimpikan setelah wafatnya, lalu ditanyakan padanya: Apa kabar wahai Abul Qosim ?

 

 Beliau menjawab "Telah binasa ibarat-ibarat itu dan telah lenyap isyarat-isyarat itu, tidak ada yang bermanfaat bagiku kecuali rakaat-rakaat kecil di tengah malam".

 

وروي أن الجنيد قدس الله سره- رؤي في المنام بعد موته فقيل له: ما الخبر يا أبا القاسم ؟ قال: طاحت تلك العبارات وفنيت تلك الاشارات وما نفعنا الا ركيعات ركعناها في جوف الليل.

Dari kisah Syeh junaid ini mengisyaratkan bahwa sebesar dan sebanyak apapun Ilmu yang kita miliki ternyata hanya ilmu yang kita amalkan yang mempunyai arti di hadapan Alloh SWT saat kita sudah wafat menghadapnya.

 

Walaupun Rokaat rokaat kecil yang mampu kita laksanakan maka ini akan di tampakkan sebagi amal kebaikan kita di hadapan Alloh. Begitulah sebaliknya.

 

Wahai anakku, Janganlah kamu menjadi muflis (orang yang bangkrut) dari amal perbuatan dan jangan pula kosong dari ahwal[1]. Yakinlah ilmu tanpa amal tidak akan bisa membantu.

 

Hal itu dicontohkan apabila ada seorang laki-laki di tengah hutan sambil memiliki sepuluh pedang Hindia dan beberapa senjata lain sementara itu ia pun seorang yang pemberani dan ahli perang.

 

Kemudian ia disergap harimau yang besar dan ganas. Apa yang kamu pikirkan? Apakah senjata-senjata itu bisa menghalau kebuasan harimau tanpa digunakan dan dipukulkan?

 

Tentu sudah jelas bahwa senjata tersebut tidak bisa menghalau kecuali digerakkan dan ditebaskan.

 

ايها الولد، لا تكن من الاعمال مفلسا ولا من الاحوال خاليا وتيقن ان العلم المجرد لا يأخذ باليد. مثاله لو كان على رجل في برية عشرة اسياف هندية مع اسلحة اخرى وكان الرجل شجاعا واهل حرب. فحمل عليه اسد عظيم مهيب، فما ظنك؟ هل تدفع الاسلحة شره عنه بلا استعمالها وضربها؟ ومن المعلوم انها لا تدفع الا بالتحريك والضرب.

Tamsil ilmu yang tak di manfaatkan Di era milenial saat ini pun bisa di contohkan dengan banyaknya di jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari orang memegang Android namun tak banyak memberikan dampak kebaikan dalam kehidupan duniawinya. Karena banyak ilmu/fitur android yang tidak di operasikan/lakukan.

 

Keberadan Android baru sebatas untuk kemewahan gaya hidup, bukan untuk meningkatkan kwalitas hidup dalam beribadah.

 

Padahal dalam fitur android yang di sediakan banyak hal kebaikan yang bisa kita lakukan.

 

Begitulah kiranya, dalam kenyataan sehari-hari kita punya banyak khasanah keilmuan yang bisa menunjang kemudahan bagi kita untuk mengakses kebaikan dunia dan ahirat, namun dalam kenyataannya tak banyak fitur ilmu yang kita punyai itu kita operasikan.

 

Begitu juga apabila seseorang membaca, mengkaji 100.000 masalah keilmuan tanpa dipraktekan, maka semua itu tidak akan memberi manfaat sampai ilmu itu diamalkan.

 

Sebagai contoh lagi jika seseorang terkena demam dan penyakit empedu (penyakit kuning) yang obatnya adalah dengan tumbuhan sakanjabin dan kaskab maka ia tidak akan sembuh kecuali dengan mengkonsumsi keduanya.

 

فكذا لو قرأ رجل مائة الف مسألة علمية وتعلمها ولم يعمل بها لا تفيد الا بالعمل. ومثله ايضا لو كان لرجل حرارة ومرض صفراوي يكون علاجه بالسكنجبين والكشكب فلا يحصل البرء الا باستعمالهما.

Jika engkau menakar 2000 kati arak, hal itu tidak akan menjadikanmu mabuk ketika kau tidak meminumnya.

كرمي دو هزار رطل همي يمائي * تامي نخورى نباشدت شيدائي.[2]

 

Termasuk dalam menghadapi kemaksiatan, manakala protek ilmu yang kita terapkan ini benar-benar di amalkan maka seribu kemaksiatan yang ada di hadapan kita tidak akan mampu menembus benteng keimanan.

 

Karena realisasi atau pelaksanaan dari mencegah kemungkaran ini adalah an-nahyu (Mencegah).

 

Wallahu Alam Bisshawaab

 

Pemateri: De Badruns.

1. Pengasuh Di MATAWALI Jipangulu

2. Katib Syuriyah MWCNU Margomulyo.

3. Ketua FKPAI KUA Margomulyo.

4. Ketua MUI Kec. Margomulyo.

 

Kamis, Februari 03, 2022

Keutamaan Dzikir dan Tiga Kalimat yang Dicintai Allah SWT

Pendahuluan

Dzikir merupakan ibadah yang sangat mulia dalam Islam, di mana seorang hamba mengingat Allah SWT melalui ucapan dan hati. Dzikir adalah kunci ketenangan jiwa dan kebahagiaan hidup di dunia, serta menjadi bekal untuk kesejahteraan di akhirat. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk selalu berdzikir, menunjukkan betapa pentingnya amalan ini bagi setiap Muslim.

Berzikir secara konsisten membantu seorang Muslim terhindar dari sifat sombong dan takabur, karena dzikir mengingatkan kita pada kelemahan diri di hadapan kebesaran Allah. Amalan ini dapat dilakukan kapanpun dan di manapun, kecuali di tempat-tempat yang tidak sesuai dengan kesucian, seperti kamar mandi.

Keutamaan Dzikir dalam Islam
Dzikir bukan hanya ibadah yang disukai Allah SWT, tetapi juga memiliki berbagai keutamaan yang tidak ternilai. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk melafalkan berbagai bentuk dzikir yang memiliki pahala besar. Berikut ini adalah tiga jenis dzikir yang paling dicintai Allah SWT berdasarkan hadits Nabi SAW:

1. Dzikir Dua Kalimat

Kalimat pertama yang sangat dicintai oleh Allah SWT adalah "Subhanallahi wa bihamdihi" (Mahasuci Allah dan segala puji hanya bagi-Nya).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Dzarr al-Ghifari:
"Sesungguhnya ucapan yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah (Subhanallahi wa bihamdihi).”

Dzikir ini memiliki keutamaan luar biasa, bahkan lebih agung daripada emas yang diinfaqkan di jalan Allah. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa siapa yang melafalkannya dengan ikhlas akan memperoleh pahala besar yang melampaui nilai duniawi. Amalan ini menggabungkan pujian kepada Allah dengan pengagungan atas kesucian-Nya.

2. Dzikir Empat Kalimat

Empat kalimat dzikir berikut adalah:

  • Subhanallah (Mahasuci Allah),
  • Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah),
  • Laa ilaha illallah (Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah),
  • Allahu akbar (Allah Mahabesar).

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Samurah bin Jundab, Rasulullah SAW bersabda:
"Kalimat yang paling dicintai Allah Ta’ala ada empat. Tidak ada salahnya bagimu untuk memulainya dari kalimat yang mana."

Keempat kalimat ini memiliki kedudukan yang istimewa karena mencakup pujian, pengesaan, dan pengagungan Allah SWT. Kalimat-kalimat ini juga menjadi pelindung dari api neraka di hari kiamat, serta mendatangkan keberkahan bagi orang yang senantiasa melafalkannya.

3. Dzikir Paling Utama

Di antara semua dzikir, kalimat "Laa ilaha illallah" (Tiada Tuhan selain Allah) adalah yang paling utama. Kalimat ini mengandung makna tauhid, yakni keyakinan bahwa hanya Allah SWT yang layak disembah dan diminta pertolongan.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:
"Dzikir yang paling utama adalah (Laa ilaha illallah)."

Melafalkan kalimat ini menguatkan keimanan seseorang dan menjadi penghapus dosa-dosa, selama dilakukan dengan penuh keikhlasan dan keyakinan.

Kisah Hikmah Ulama tentang Keutamaan Dzikir

Para ulama salaf dan tokoh-tokoh Islam sering memberikan teladan yang luar biasa tentang keutamaan dzikir. Melalui kisah-kisah mereka, kita dapat mengambil pelajaran untuk memperkuat kecintaan kita kepada Allah SWT dan istiqamah dalam berdzikir. Berikut adalah beberapa kisah inspiratif yang relevan dengan pembahasan dzikir:

1. Dzikir yang Menghidupkan Hati

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin mengisahkan seorang sufi besar, Hasan Al-Bashri, yang dikenal memiliki hati yang lembut karena dzikir yang terus-menerus.

Suatu ketika, Hasan Al-Bashri ditanya oleh muridnya, “Wahai guruku, apa yang membuat hatimu begitu tenang dalam menghadapi ujian hidup?”
Hasan Al-Bashri menjawab, “Hati yang selalu ingat kepada Allah akan terlindungi dari kegelisahan dunia. Ketika seseorang melafalkan dzikir ‘Laa ilaha illallah’ dengan sepenuh hati, maka hatinya menjadi lapang, dan Allah akan mencukupi segala kebutuhannya.”

Kisah ini mengajarkan bahwa dzikir bukan hanya ibadah, tetapi juga obat bagi hati yang gundah.

2. Keutamaan Dzikir Dua Kalimat

Seorang ulama besar, Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, dalam kitabnya Al-Wabil Ash-Shayyib bercerita tentang seorang ahli ibadah yang setiap pagi melafalkan dzikir “Subhanallahi wa bihamdihi” sebanyak 100 kali.

Ulama tersebut berkata, “Aku memulai hari dengan dzikir ini karena aku yakin bahwa Allah akan memberkahi waktu dan amalanku sepanjang hari.”
Ketika seorang muridnya mengikuti amalan tersebut, ia mendapati bahwa pekerjaannya menjadi lebih ringan, masalah hidupnya teratasi, dan ia merasa lebih dekat kepada Allah.

Kisah ini menjadi bukti betapa besar manfaat dzikir bagi kehidupan dunia dan akhirat.

3. Kisah Dzikir yang Menghalau Api Neraka

Dalam sebuah riwayat dari Imam An-Nawawi, terdapat seorang pemuda yang rajin membaca empat kalimat dzikir (Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, Allahu akbar). Pemuda tersebut menghadapi kematian dengan senyuman.

Ketika ditanya mengapa ia terlihat tenang menjelang ajal, ia menjawab, “Aku yakin bahwa kalimat-kalimat yang aku lafalkan setiap hari akan menjadi perisai bagiku dari api neraka, sebagaimana yang dijanjikan Rasulullah SAW.”

Dan benar, pemuda itu wafat dalam keadaan husnul khatimah, dan keluarganya merasa tenang karena kesaksiannya yang selalu mengingat Allah.

4. Dzikir dan Keikhlasan Imam Syafi’i

Imam Syafi’i, seorang ulama besar, pernah mengatakan:
"Jika hatimu terasa keras dan sulit menerima nasihat, maka lembutkanlah dengan dzikir kepada Allah. Sebab hati yang tidak berdzikir akan menjadi kering seperti tanah tandus yang tidak diturunkan hujan.”

Imam Syafi’i dikenal senantiasa melafalkan “Laa ilaha illallah” sepanjang malam saat menyusun kitab-kitabnya. Dzikir inilah yang memberikan kekuatan baginya untuk terus menulis karya-karya monumental bagi umat Islam.

Kesimpulan dari Kisah-kisah Ulama
Dzikir adalah ibadah yang sederhana namun memiliki dampak besar dalam kehidupan seorang Muslim. Dengan melafalkan dzikir-dzikir yang dicintai Allah SWT, seorang hamba dapat mendekatkan diri kepada-Nya, memperoleh ketenangan, serta terlindungi dari sifat-sifat buruk.

Kisah para ulama menunjukkan bahwa dzikir bukan hanya kewajiban, tetapi juga cara untuk mendekatkan diri kepada Allah, melembutkan hati, dan meraih keberkahan hidup. Dengan istiqamah dalam dzikir, kita dapat menghadapi berbagai tantangan hidup dengan ketenangan dan keyakinan bahwa Allah selalu bersama kita.

Semoga kita dapat meneladani para ulama dalam menjadikan dzikir sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup kita.

Mari kita istiqamah dalam berdzikir, baik di saat senang maupun susah, agar selalu menjadi hamba yang bertakwa. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk golongan yang selalu mengingat-Nya dan dicintai-Nya. Aamiin.


Sumber : http://www.redaksi9.com/2015/11/tiga-kalimat-dzikir-yang-paling.html?utm_source=facebook.com&utm_medium=social&utm_campaign=Postcron.com


Editor: DBCLVIII

Selasa, Januari 04, 2022

FATHUL ULUM

"FATHUL ULUM" adalah nama dari sebuah lembaga pendidikan yang bercorak religius (Madrasah Diniyah).

Yang di dirikan oleh hamba Alloh yang mempunyai keinginan/cita-cita menegakkan agama Alloh di muka bumi ini kususnya di Dk. jipangulu Kec. Margomulyo Kab. Bojonegoro Jawa Timur.

Yang mana jipangulu di maksut pada awal berdirinya bahkan jauh sebelum nya sangat akrab dengan yang namannya Syirik.

Hal ini terbukti dengan adanya ritual Nyekar, Suran, Nyadran dll, di tempat-tempat yang di anggap keramat oleh warga masyarakat di Dk. Jipangulu. 

Hal di atas adalah beberapa aktifitas yang sudah menjadi suatu keharusan bagi hampir semua warga, alias barang siapa yang tidak melakukannya maka Dia akan di bendu (di kutuk) oleh Mbah “Danyang Jipangulu” (katenye embah2 Biyen).

Bahkan sampai mereka berani untuk tidak makan dan berhutang kepada orang lain demi untuk memenuhi persaratan sesajen yang telah di tetapkan Oleh sang “Danyang” ( Sekali lagi katanya ) Tragiskan ??????????????.

Sejahat itukah Mbah “Danyang” kepada Cu2nye he…he…he????????????

Berkah Rohmat Alloh SWT, Ahirnya Alloh menggerakkan sekaligus memberikan hidayah kepada seorang hambanya untuk mengasah Ilmu Agama, dengan Satu Harapan kelak di kemudian hari dapat untuk menyibak kegelapan yang menyelimuti Qolbu mahluq-mahluqnya yang berada di Jagad jipangulu.

Sampailah hamba Alloh tersebut di sebuah Lembaga Pendidikan Agama Yang beada di desa Nglingi Kec. Ngasem Kab. Bojonegoro yang merupakan awal bagi hamba Alloh tersebut untuk membersihkan diri dari noda-noda syirik, atas jasa seseorang yang bernama Bpk. Nuruddin.

Setelah beberaba waktu, Modal dasar pengetahuan Agama di dapatkan dari “Assakuriyah” di bawah Asuuhan beberapa Kiyai yang ‘Alim di Antaranya K.H Misbah Syakur, K.H. Marzuqi Syakur, K. Mahfudz Tasmiran dan beberapa kiyai yang lain yang tidak bisa kami sebutkan di sini.

Alloh mempunyai ketetapan lain Untuk Hambanya tersebut.

Pesantren Darus Salam Dk. Jajar Ds. Sumber Gayam Kec. Durenan Kab. Trenggalek Jawa Timur, Di Asrama Al-Firdaus F4.

Lagi-lagi Alloh menempa hambanya tadi dengan berbagai Ilmu Agama Di bawah asuhan syaihinal kirom K.H. Ahmad Yunus wa ahli baitihi wa minha al-Karim Gus Fahrur Rozi Nafa’anallohu bihim wa bi ‘ulumihim fi daroin amin beserta maasyirol asatid khususon My faforit teacher Bpk. Ust. Imam Muhtar n Bpk. Ust. Romdhon.

Dalam Rentang waktu yang tidak terlalu lama lagi-lagi ketetapan Alloh tak dapat terjangkau Oleh logika manusia.

Pesantren Kwagean “FATHUL ULUM” Kec. Pare Kab. Kediri Jawa Timur dengan Kiyainya yang terkenal K.H. Abdul Hanan Ma’sum menjadi sasana penggemblengan hambanya yang masih dungu dan bebal itu.

Dan ternyata di situlah Hamba Alloh tersebut Mulai dapat “NGGALIH ROSO” menemukan jati diri dari balik untaian mutiara hikmah dari wejangan-wejangan Kiyai Hanan.

Dalam tempo yang tak terlalu lama kurang lebih dua tahun Ahirnya perubahan ketetapan Alloh mulai berlaku lagi.

Jeritan warga Jipangulu yang terbalut oleh kesombongan dan keangkuhan Syirik, Memanggil hamba Alloh untuk memberikan seberkas sinar terang guna mengusir kegelapan yang menyelimuti Jiwa Dan Raga mereka.