Rabu, Mei 22, 2024

Dua Gelas Kopi dari Sang Guru



Pagi itu, Andi, seorang murid yang rajin, tiba di sekolah tepat waktu seperti biasanya. Namun, tampak ada yang berbeda dari raut wajahnya. Gurunya, Pak Budi, menyadari hal tersebut dan menghampirinya.


"Pagi, Andi. Kelihatannya kamu sedang ada masalah. Ayo, ceritakan pada Bapak," ujar Pak Budi dengan lembut.


Andi pun menceritakan mimpi aneh yang dialaminya semalam. Dalam mimpi itu, Pak Budi memberikan dua gelas kopi kepadanya - satu gelas kopi manis dan satu gelas kopi pahit. Pak Budi menyuruhnya untuk meminum kedua kopi tersebut.


Andi bercerita bahwa ia dengan ragu-ragu meminum kopi manis itu, walaupun Pak Budi sempat menyentuh sedikit bibir gelas. Namun, ia sama sekali tidak berani menyentuh kopi yang terasa pahit.


Mendengar cerita Andi, Pak Budi tersenyum bijak. Ia lalu berkata, "Mimpimu itu mengandung makna yang dalam, Andi. Kopi manis melambangkan kebahagiaan dan kemudahan dalam hidup. Sementara, kopi pahit mewakili tantangan dan kesulitan yang harus kamu hadapi."


Andi mengangguk-angguk, memahami penjelasan Pak Budi.


"Kau telah meminum kopi manis, walaupun ada bekas sentuhan dariku. Itu artinya, kau harus berani menghadapi tantangan hidup, walaupun ada campur tangan orang lain di dalamnya. Namun, kau masih ragu-ragu untuk meminum kopi pahit. Itu berarti, kau harus belajar untuk berani menghadapi kesulitan-kesulitan yang akan datang," lanjut Pak Budi.


Andi termenung, mencerna setiap kata yang diucapkan oleh gurunya. Ia menyadari bahwa mimpi itu mengandung pelajaran yang berharga tentang kehidupan.


"Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha untuk berani menghadapi tantangan dan kesulitan yang ada di depan saya," ujar Andi mantap.


Pak Budi menepuk pundak muridnya itu dengan bangga. Ia tahu, Andi akan menjadi seorang yang tangguh dan bijaksana suatu hari nanti.


Setelah pembicaraan dengan Pak Budi, Andi merasa lebih tenang dan yakin dalam menghadapi hari-harinya. Ia memahami bahwa hidup tidak selamanya manis, ada kalanya terasa pahit. Namun, ia bertekad untuk tetap berani menghadapi tantangan yang ada.


Hari demi hari berlalu, Andi terus belajar dengan giat. Ia tidak lagi mengeluh ketika mendapatkan tugas yang sulit dari Pak Budi. Sebaliknya, ia menerimanya dengan senang hati dan berusaha untuk menyelesaikannya dengan baik.


Suatu hari, Pak Budi kembali memanggil Andi ke ruangannya. Andi sedikit was-was, mengira ia telah melakukan kesalahan. Namun, ketika tiba di sana, Pak Budi justru tersenyum lebar dan menyodorkan dua gelas kopi ke hadapannya.


"Andi, hari ini Bapak ingin mengujimu lagi. Silakan, minumlah kedua kopi ini," ucap Pak Budi.


Andi terdiam sejenak, mengingat kembali mimpi dan pesan yang diberikan Pak Budi beberapa waktu lalu. Tanpa ragu, ia pun meminum kopi manis itu sampai habis. Kemudian, ia mengambil gelas kopi pahit dan meminumnya perlahan-lahan.


Pak Budi mengamati dengan saksama. Ia melihat keteguhan dan keyakinan di mata Andi saat meminum kopi pahit itu.


"Bagus, Andi. Kau telah lulus ujian Bapak. Kau telah membuktikan bahwa kau siap menghadapi segala tantangan dan kesulitan dalam hidupmu," puji Pak Budi.


Andi tersenyum lega. Ia merasa bangga atas dirinya sendiri dan berterima kasih kepada Pak Budi yang telah memberikan bimbingan dan pelajaran berharga kepadanya.


Sejak saat itu, Andi semakin giat belajar dan tidak lagi mengeluh menghadapi kesulitan. Ia tahu bahwa setiap masalah memiliki makna dan pelajaran yang berharga. Dan dengan keberanian serta keyakinan, ia yakin akan mampu melewati segala tantangan yang ada.

Selasa, Mei 21, 2024

Kau yang Ambisi, Aku yang Dihabisi

(Ilustrasi)

Dalam lorong politik kehidupan yang penuh intrik,

Terhampar kisah perseteruan tak berkesudahan,

Seorang atasan, penggiat ambisi yang kuasa menggoda,

Menyusahkan bawahan, tanpa belas kasihan.


Saat mentari merayap di ufuk timur,

Kau hadir, oh atasan penuh keangkuhan,

Dengan senyum palsu, sikapmu mengejek,

Bawahan tak berdaya, dalam siksaan yang terus berlanjut.


Kau berlenggang dengan ambisi yang tak terbendung,

Menjaga posisimu, menghancurkan integritas,

Demimu mengejar kekuasaan, tanpa memandang korban,

Adab budi di kesampingkan, tumpul sudah pedasnya kata.


Bawahan yang setia, seperti burung terkurung dalam sangkar,

Dikurung oleh ketidakadilan dan ketidakpuasan,

Karya menjadi persembahan yang sia-sia,

Terhempas oleh nafsu ambisi yang tak terbendung.


Namun, oh atasan, ingatkah engkau?

Kekuasaan yang kau genggam adalah titipan yang fana,

Kehidupan ini bukanlah belaka ajang pertempuran,

Tapi panggung untuk bersama-sama membangun negeri.


Bawahan yang kau siksa dengan kekuatanmu,

Bukanlah hantu yang tak berdaya,

Mereka adalah pemilik suara yang tak terdengar,

Yang takkan pernah luntur oleh tirani dan kezaliman.


Hari berganti, waktu tak terelakkan berlalu,

Kau yang ambisi, aku yang dihabisi,

Namun dalam kegelapan yang kau ciptakan,

Berkembang benih perlawanan yang tak akan pernah mati.


Karena pada akhirnya, kebenaran akan terungkap,

Ambisi yang busuk akan terlerai oleh cahaya keadilan,

Dan bawahan yang pernah terzalimi,

Akan bangkit menjadi pahlawan yang tak tergoyahkan.


Kau yang ambisi, aku yang dihabisi,

Puisi ini tercipta sebagai pengingat akan keadilan,

Bahwa politik kehidupan tak semata tentang kekuasaan,

Tapi tentang kebersamaan membangun negeri yang adil dan sejahtera.

(debadruns, Jipangulu 21 Mei 2024)

Kamis, Mei 09, 2024

"Namung Saget Khidmah, Senajan Ming Sak Titah" (Hanya Bisa Mengabdi, Walau Tak Begitu Berarti)

(Ilustrasi Pemanis Belaka)

Dalam sunyi pengabdian, terhampar kebesaran hati
 
Seorang kader NU, berjuang dengan tulus dan rendah hati
 
Tak memikirkan popularitas atau panggung yang gemerlap
 
Namun hanya ingin mengabdi, walau tak begitu berarti
 
 
Di hadapan dunia yang terlena oleh sorotan cahaya
 
Sang kader NU tetap setia pada panggilan hati yang suci
 
Bukan jabatan yang dikejar, bukan pujian yang dicari
 
Namun kebaikan yang dilahirkan, dalam setiap tindakan kecil yang diberi
 
 
Bukanlah kebesaran terletak pada kedudukan yang diemban
 
Melainkan pada hati yang rendah, tangannya yang siap melayani
 
Dalam setiap senyuman, dalam setiap kata penyemangat
 
Terukir pengabdian sejati, yang tak akan pudar oleh waktu
 
 
Pengabdian yang sungguh tak tergantikan
 
Tak bergantung pada jabatan yang tinggi atau pengakuan yang gemilang
 
Namun pada setiap bantuan yang diberikan tanpa pamrih
 
Pada setiap air mata yang dihapuskan, pada setiap beban yang diangkat
 
 
Walau tak selalu berada di pusat sorotan
 
Sang kader NU tetap berdiri teguh, menjadi pelita dalam kegelapan
 
Menjadi tumpuan bagi mereka yang tersesat dalam kesedihan
 
Memberikan cahaya kasih dan harapan, tanpa mengenal batas
 
 
Pengabdian tak pernah terbatas oleh syarat atau pamrih
 
Ia melihat kebutuhan sebagai panggilan yang tak bisa diabaikan
 
Menyatukan tangan-tangan dalam kepedulian yang tulus
 
Membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi mereka yang merindukannya
 
 
Namung saget khidmah, senajan ming sak titah
 
Kata bijak itu bergema dalam hati sang kader NU
 
Mengingatkannya bahwa pengabdian tak terhingga
 
Dalam setiap langkah kecil tercipta kebaikan yang tak ternilai
 
 
Dalam setiap detik yang berlalu, dalam setiap napas yang dihembuskan
 
Sang kader NU terus menyebarkan bijaknya pengabdian
 
Menyemai benih kebaikan dalam lautan ketulusan hati
 
Menjadi pujangga pengabdian, yang mengubah dunia dengan tindakan kecil
 
 
Namung saget khidmah, senajan ming sak titah
 
Hanya bisa mengabdi, walau tak begitu berarti
 
Namun dalam setiap pengabdian yang dilakukan dengan sepenuh hati
 
Kehadirannya memberikan arti sejati bagi hidup dan masyarakat yang dicintai.


Sabtu, Mei 04, 2024

"Keberanian dalam Menghadapi Ketakutan: Saat Bertemu Harimau, Janganlah Engkau Membelakanginya"

(Ilustrasi)

Pada suatu hari di pedalaman hutan yang lebat, hiduplah seorang petualang bernama Rama. Rama adalah seorang yang berani dan penuh semangat, selalu mencari pengalaman baru di alam liar. Suatu ketika, Rama memutuskan untuk menjelajahi bagian hutan yang belum pernah ia jelajahi sebelumnya. Dia berangkat dengan hati penuh kegembiraan dan ransel penuh persiapan.


Selama perjalanan, Rama tak sengaja tersesat. Dia terjebak di dalam jaring laba-laba yang besar dan tak dapat melepaskan diri. Rama merasa takut dan terjebak dalam kepanikan, karena ia mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat. Suara itu semakin kuat dan menggelegar, membuat Rama semakin cemas.


Tiba-tiba, dari balik semak-semak, muncullah seekor harimau besar dengan mata tajam yang menatap lurus ke arah Rama. Rama merasa ketakutan dan panik saat melihat harimau tersebut. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Namun, dengan cepat ia mengingat nasihat orangtuanya, "Saat bertemu harimau, janganlah engkau membelakanginya."


Rama mengingat nasihat itu dan dengan berani, dia memalingkan tubuhnya, menghadap langsung ke arah harimau. Meskipun hatinya berdebar kencang, Rama berusaha menenangkan diri dan tidak menunjukkan rasa takutnya. Ia berdiri tegak dengan penuh keberanian.


Melihat sikap Rama yang tenang dan tidak menunjukkan ancaman, harimau itu terkesan. Dengan perlahan-lahan, harimau itu mendekat dan melihat Rama dengan rasa ingin tahu. Rama tetap tenang, tidak bergerak atau menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan melukai harimau tersebut.


Lama kelamaan, harimau itu merasa nyaman dengan kehadiran Rama. Ia bahkan menjilati luka Rama yang terkena jaring laba-laba. Setelah itu, harimau itu pergi meninggalkan Rama, meninggalkan rasa syukur di hati petualang itu.


Dalam kejadian itu, Rama belajar sebuah hikmah yang berharga. Ia menyadari bahwa dalam menghadapi ketakutan dan tantangan, penting untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan rasa takut yang berlebihan. Dia belajar bahwa ketika kita menghadapi bahaya atau situasi yang menakutkan, seringkali sikap yang tenang dan penuh pengertian dapat mengubah segalanya.


Hikmah dari cerita ini adalah, kadang-kadang kita harus menghadapi ketakutan dan tantangan dalam hidup. Namun, dengan tetap tenang dan tidak membelakangi masalah, kita dapat menemukan solusi yang tak terduga atau mengubah situasi menjadi lebih baik. Jadi, saat kita menghadapi "harimau" dalam hidup kita, janganlah kita membelakanginya, tetapi hadapilah dengan keberanian dan sikap yang baik hati.

Kamis, April 25, 2024

Kedatangan Tamu Idul Fitri dari Rombongan Jama'ah Majelis Taklim Masjid Baiturrohim Dusun Batang Desa Margomulyo

(Foto bersama Jama'ah Majelis Taklim Baiturrohim Batang Margomulyo)

Desa Ngelo, 12 April 2024 - Sebuah kejutan hangat menyapa warga Dusun Jipangulu saat rombongan Jama'ah Majelis Taklim Masjid Baiturrohim Dusun Batang Desa Margomulyo berkunjung pada Jum'at pagi yang cerah. Seperti kabar yang telah diterima sebelumnya, rombongan ini dipimpin oleh sosok yang sangat dihormati, Kiyai Jamin.


Kedatangan rombongan jama'ah ini menjadi momen yang berharga bagi kami dan  keluarga. Pukul 09.00, ketika riuh suara kendaraan mulai terdengar dari kejauhan, hati kami berdebar tak sabar menyambut kedatangan mereka. Dengan penuh keceriaan, kami mempersiapkan diri menyambut tamu istimewa ini di aula kecil rumah kami.


Saat rombongan tiba, suara Salam dan sapa menyambut kehadiran mereka menggema di seantero aula. Kiyai Jamin, dengan pakaian khasnya yang berwarna putih, memancarkan aura ketenangan dan kebijaksanaan. Di belakangnya, anggota jama'ah yang terdiri dari berbagai kalangan umur dan profesi, tampak gembira dan penuh semangat dalam menyambut hari yang fitri ini.


Sebagai tuan rumah yang menyaksikan kejadian ini secara langsung, saya berkesempatan untuk bertemu dengan Kiyai Jamin dan anggota jama'ah lainnya. Mereka menceritakan tentang perjalanan mereka selama bulan suci Ramadan yang penuh berkah dan kebersamaan. Dalam setiap kesempatan, mereka memanfaatkan waktu untuk memperbanyak ibadah dan memperdalam pengetahuan agama.


Kiyai Jamin, selaku pemimpin rombongan, berbagi pemikirannya tentang pentingnya menjaga silaturahmi dan kebersamaan dalam menyambut hari yang fitri ini. Beliau mengungkapkan kegembiraannya dapat berkunjung ke rumah-rumah warga untuk berbagi kebahagiaan Idul Fitri. "Kita harus senantiasa saling mendekatkan diri dengan sesama, baik di dalam maupun di luar masjid. Inilah esensi sejati dari perayaan Idul Fitri," ujar Kiyai Jamin dengan penuh semangat.


Sambil menikmati hidangan sedrrhana yang telah disiapkan oleh istri saya, anggota jama'ah bercerita tentang berbagai pengalaman dan pelajaran berharga yang mereka dapatkan selama bulan Ramadan. Mereka saling menguatkan dan memberikan semangat untuk terus berbenah diri menuju kehidupan yang lebih baik.


Kedatangan rombongan Jama'ah Majelis Taklim Masjid Baiturrohim Dusun Batang Desa Margomulyo di rumah kami di Dusun Jipangulu merupakan momen yang tak terlupakan. Selain menumbuhkan rasa persaudaraan dan kebersamaan, kunjungan ini juga memberikan inspirasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas hidup dan semangat beragama.


Dengan penuh rasa syukur, kami berterima kasih kepada rombongan jama'ah yang telah meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumah kami. Semoga kehadiran mereka membawa berkah dan kebahagiaan yang melimpah di hari yang fitri ini.

Selasa, April 16, 2024

"Kejutan Idul Fitri: Antara Bu Nyai Nikmaturohmah, dan Hikmah Kehidupan yang Tidak Terduga!"


Pada suatu hari Ahad yang bahagia, tepatnya tanggal 14 April 2024, saya mendapatkan kunjungan yang tak terduga dari seorang tamu istimewa. Ternyata tamu tersebut adalah seorang teman suami istri dari Ds. Samberan Kec. Kanor Bojonegoro. Bu nyai Nikmaturohmah namanya, dan saya langsung teringat akan masa-masa kuliah di STIT Muhammadiyah Bojonegoro bersamanya. Suaminya pun juga merupakan teman dari FKDT (Forum Komunikasi Diniyah Takmiliah) Kabupaten Bojonegoro. Siapa sangka, mereka datang berkunjung ke rumah saya!


Tidak bisa saya pungkiri, kedatangan Bu Nyai Nikmaturohmah ini benar-benar mengejutkan. Saya bahkan merasa seperti dalam dunia fantasi yang jauh dari akal sehat. Tetapi, dalam keadaan penasaran dan penuh kegembiraan, saya dan istri segera menyambut kedatangan mereka di aula kecil rumah kami.


Saat kami bersua, suasana menjadi hangat dan penuh keceriaan. Kami saling berbagi cerita dan kabar terkini. Sungguh, Idul Fitri kali ini benar-benar luar biasa bagiku. Selain berkumpul dengan orang-orang terdekat dan sahabat karib dalam satu jam'iyah, Allah juga memberikan kejutan dengan mempertemukan saya dengan teman lama seperti Gus Hilal dan Bu Nyai Nikmaturohmah ini.


Dalam momen Idul Fitri yang penuh berkah ini, Allah benar-benar menunjukkan padaku bahwa kehidupan ini memiliki begitu banyak berkah yang tersembunyi di balik setiap makhluk-Nya di jagad raya ini. Siapa sangka, di balik keriuhan dan kesibukan lebaran, Allah masih menyisipkan kejutan-kejutan kecil yang mengharukan dan menggelitik di antara kita.


Sungguh, tak ada yang lebih lucu dan menggelitik daripada melihat betapa indahnya kehidupan ini ketika kita bisa bertemu dengan orang-orang istimewa di saat-saat yang tak terduga.


Dalam suasana lebaran yang penuh keceriaan, terkadang kita terlalu sibuk dengan urusan makan-makan, saling bermaafan, dan berburu takjil enak. Namun, di balik semua keramaian itu, ada keajaiban kecil yang tersembunyi. Seperti kedatangan tamu-tamu istimewa yang datang tanpa kita duga, seperti Gus Hilal dan Bu Nyai Nikmaturohmah.


Bayangkan saja, saat kita sedang asyik mengunyah ketupat dan rendang, tiba-tiba muncul sosok teman lama yang dulu kita kenal di masa lalu. Itu seperti adegan dari film komedi yang membuat kita terbahak-bahak diantara nasi tumpeng dan opor ayam. Siapa sangka, di tengah-tengah hiruk-pikuk lebaran, ada sosok yang melintas bagai kilat dan mengingatkan kita akan masa-masa indah yang pernah kita lewati bersama.


Dan tentu saja, tak kalah menggelitiknya adalah saat kita berbagi cerita dengan mereka. Kita bisa mengungkapkan betapa kita telah berubah sejak terakhir kali bertemu. Mulai dari rambut yang mulai memutih, perut yang semakin buncit, hingga kisah-kisah lucu yang terjadi dalam perjalanan hidup kita. Setiap cerita mengundang tawa dan kehangatan di antara kita, seakan menghapus segala beban dan kesedihan yang mungkin kita rasakan.


Dalam momen-momen seperti ini, kita menyadari bahwa hidup ini sungguh penuh dengan kejutan-kejutan tak terduga. Allah dengan penuh kasih sayang menyembunyikan berbagai kado kecil di sepanjang perjalanan hidup kita. Dan lebaran adalah saat di mana kita diberi kesempatan untuk menemukan dan menghargai kado-kado itu.


Jadi, di tengah-tengah riuh rendah lebaran, jangan pernah meremehkan keajaiban kecil yang tersembunyi di antara kita. Siapa tahu, di antara takbiran dan salam-salaman, ada sosok teman lama yang tersembunyi di balik kerumunan, siap menyapa dengan senyuman lebar. Biarkan cerita-cerita lucu dan menggelitik mengalir dalam suasana lebaranmu, dan nikmatilah setiap momen tak terduga yang Allah hadirkan sebagai kado istimewa dalam hidup kita.


Jadi, mari kita rayakan Idul Fitri dengan penuh sukacita, kehangatan, dan kejutan-kejutan tak terduga. Saling berbagi cerita, tawa, dan kebahagiaan dengan orang-orang terkasih adalah salah satu khasanah yang membuat lebaran kali ini begitu berarti. Jadikanlah setiap momen lebaran sebagai kesempatan untuk menciptakan kenangan indah yang tak akan terlupakan. Selamat Idul Fitri!

Senin, April 15, 2024

"Keajaiban Lebaran: Ikatan Persaudaraan yang Melampaui Jarak"



Pada hari Jumat, tanggal 12 April 2024 Masehi atau 03 Syawal 1445 Hijriah, saat lebaran ke-3, sebuah kejadian luar biasa terjadi dalam hidup saya. Saya kedatangan seorang teman yang sangat istimewa dari Desa Margomulyo, Kecamatan Balen, Bojonegoro.


Kunjungan ini sungguh menjadi kejutan besar bagiku, karena bagi seorang Gus Hilal seperti teman saya ini, berkunjung ke rumahku yang terletak di pedalaman dan terisolir adalah hal yang sangat tidak mungkin. Rumahku berada di tepian Sungai Bengawan Solo dan dikelilingi oleh hutan di ujung barat Bojonegoro, dengan Blora sebagai tetangga di sebelah utara, barat, dan timur. Karena itu, kunjungannya membawa kebahagiaan dan berkah yang luar biasa bagi saya.


Gus Hilal adalah saudara satu nasab dalam keilmuan. Kami berdua pernah mengaji ilmu di Pesantren Fathul Ulum Kwagean di bawah bimbingan KH. Abdul Hanan Maksum. Kami memiliki ikatan yang kuat dalam perjalanan keilmuan.


Gus Hilal datang bersama istri dan anak-anaknya. Kehadiran mereka memberikan semangat baru dalam suasana lebaran. Kami berkumpul di aula kecil rumah, saling berbagi cerita, dan menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh istri saya.


Ternyata, terdapat kejutan lain yang menggembirakan. Istri Gus Hilal juga memiliki ikatan keilmuan dengan istri saya. Keduanya pernah menimba ilmu di UNIROW Tuban. Kebersamaan mereka membuktikan betapa kecilnya dunia ini dan bagaimana ikatan keilmuan dapat menghubungkan orang-orang yang berjauhan.


Di tengah keceriaan dan kehangatan suasana lebaran, kami juga tidak lupa menyelipkan sentuhan humor yang penuh hikmah. Percakapan ringan tentang riwayat perjalanan masa lalu yang mungundang dan mengandung banyak canda tawa mengisi ruangan, membawa keceriaan dan kebahagiaan kepada kami semua. Kami mengingatkan satu sama lain akan pentingnya bersyukur atas karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT.


Kisah indah ini mengajarkan kita tentang pentingnya menghargai persaudaraan, ikatan keilmuan, dan kebahagiaan dalam kehidupan. Kunjungan Gus Hilal ke rumahku yang terpencil menjadi sebuah pengingat bahwa jarak dan lokasi bukanlah halangan dalam mempererat hubungan antarmanusia. Dalam suasana lebaran yang penuh berkah ini, kami merasakan kehadiran Tuhan yang Maha Esa yang menyatukan kita semua, meskipun dari tempat-tempat yang berbeda.

Minggu, April 07, 2024

FRIENDs MADIN



haiiii...kenalin dooung....Om, tante, pak De, kakek, nenek,.....di bayarin negara kok cumaan pada ngrumpi ciiih...mendingan pada maen Amma gue..










Suasana yang tak Asing lagi bagi ihwan-ihwan madin bila lagi pada ngeffffrez....(Eeee..mbok yo jo do ngono wes gede kok sek seneng podo ngrumpi to yoo yoo.....)


Ehm......ehem....!!!!! Kalau ni Ihwan bilang tetua sukunyeMADIN DAH TAK ASING LAGI BROU.... (Suku-suku batok kale). tapi da yang ngasih laqob yang lagi ngetren saaat ini "kanjeng doso"

Kalo kanjeng Doso dah ada, dari kejauhan tuuuuh tampak tampang-tampang ummi Desi he he...he..




kalllo ni dari tampangnye aje dah serrrrem !!!! co2knye jd security nye Kanjeng Doso aze yeee setuju....! ?????? (jok mlotot-mlotot to om-om)

Niiiih yg perlu dicontooh the mister master "Ustadz Rofiq" serrrriuuuuz niiiiih...
(Youk Ngenet booooz)

Rabu, Maret 20, 2024

Kegiatan Tadarus Al-Qur'an Meriahkan Ramadan di Masjid Al-Ikhlas Kemenag Bojonegoro

 


Bojonegoro - Rabu 20 Maret 2024 - Suasana kehangatan dan kekhusyukan menyelimuti Masjid Al-Ikhlas Kemenag Bojonegoro pada hari ini. Sebagai bagian dari meriahnya bulan suci Ramadan 1445 H./2024 M., berbagai kegiatan keagamaan digelar untuk memperkuat ikatan spiritual umat Muslim. Salah satu kegiatan yang mengundang perhatian adalah Tadarus Al-Qur'an yang dilaksanakan dengan semangat oleh sejumlah jamaah, termasuk seorang peserta yang berangkat sendirian.


Pada pagi yang cerah ini, tepat pukul 08.30, Masjid Al-Ikhlas dipenuhi oleh kehadiran para peserta Tadarus Al-Qur'an. Kegiatan ini diikuti oleh teman Penyuluh Agama Islam dari KUA Margomulyo dan Ngraho. Meskipun berangkat secara terpisah, semangat untuk berbagi ilmu dan mendalami ayat-ayat suci Al-Qur'an tetap membara di hati mereka.


Tidak seperti kebanyakan peserta yang berangkat berombong, seorang pria bernama Badrun memilih untuk berangkat sendirian. Dengan tekad yang bulat, Badrun merasa bahwa Tadarus Al-Qur'an ini adalah momen yang tepat untuk menambah kedalaman pengetahuannya tentang agama Islam. Dengan hati penuh harap, ia memasuki Masjid Al-Ikhlas dengan langkah mantap.


Dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung hingga selesai sekitar pukul 11.15, para peserta Tadarus Al-Qur'an bergantian membaca dan meresapi ayat-ayat suci Al-Qur'an. Suara tartil dan merdu terdengar melantun di dalam ruangan, membawa kedamaian dan ketenangan kepada seluruh jamaah yang hadir. Setiap ayat yang dibaca diikuti dengan penghayatan mendalam, karena di hadapan mereka terdapat teman-teman Penyuluh Agama Islam yang dengan sabar mengikuti.


Tidak hanya menjadi momen mendalam untuk memperdalam pemahaman agama, Tadarus Al-Qur'an ini juga menjadi ajang silaturahmi antarpenyuluh. Para peserta saling bertukar pandangan, berdiskusi, dan saling memberi semangat dalam menyelesaikan bacaan Al-Qur'an. Kebersamaan dalam kegiatan ini semakin terasa, terutama bagi Badrun yang sebelumnya berangkat sendirian. Ia berhasil menjalin hubungan baik dengan teman-teman seiman yang lain.


Setelah berlangsung selama beberapa jam, kegiatan Tadarus Al-Qur'an ini akhirnya mencapai puncaknya. Dengan rasa syukur dan hati yang dipenuhi ketenangan, Badrun pun memutuskan untuk pulang. Namun, semangat dan kebersamaan yang terjalin di Masjid Al-Ikhlas akan terus menginspirasi dan membawa berkah dalam menjalani ibadah Ramadan di hari-hari mendatang.


Kegiatan Tadarus Al-Qur'an yang dilakukan di Masjid Al-Ikhlas Kemenag Bojonegoro ini berhasil menciptakan momen berharga bagi para peserta. Dalam kehangatan bulan Ramadan yang penuh berkah, mereka menyatu dalam suara ayat-ayat suci Al-Qur'an dan memperkuat ikatan keagamaan. Semoga kegiatan semacam ini terus berlanjut dan memberikan manfaat yang besar bagi umat Muslim Bojonegoro

(Penulis: Badrun)